BPSDM Bekali 74 Dosen Kontrak Baru

SEBANYAK 74 dosen kontrak baru mengikuti pembekalan dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (13/1). Menurut Sekretaris BPSDM, Wasis SH MSi MHum, pembekalan ini merupakan simbol penyambutan selamat datang dari UMM pada para dosen baru tersebut. Dalam pembekalan yang diadakan di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM ini, puluhan dosen baru mendapatkan materi-materi dari sejumlah pejabat kampus dan pakar pembelajaran. “Di pembekalan ini, dosen dikenalkan dengan seluk beluk UMM, Muhammadiyah, cara pembelajaran, dan sebagainya,” ujar Wasis. Menurut Kepala Biro Administrasi Umum (BAU) UMM Dr Muslimin Mahmud PhD, salah satu kelebihan mengajar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terutama di lingkungan Muhammadiyah adalah labeling. “Dengan menyebut UMM, maka nama Muhammadiyah bisa jadi acuan atau pedoman buat setiap orang bergerak berdasarkan arti nama tersebut,” katanya saat memberikan materi tentang kode etik dosen UMM. Sementara itu Pembantu Rektor II UMM, Drs Fauzan MPd dalam sambutannya mengucapkan selamat datang pada dosen-dosen baru di UMM. Pembekalan ini menurut Fauzan dapat menjadi ajang berkenalan antar dosen di lingkungan UMM. “Berbaur satu sama lain agar rasa kekeluargaan antar dosen UMM dapat terjalin erat,” ucap Fauzan. Ia juga menghimbau dosen-dosen baru ini untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, seperti pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. “Jangan lupa juga untuk terus mencari link beasiswa luar negeri, serta perbanyak publikasi berupa buku-buku ajar dan penelitian yang bermanfaat untuk masyarakat,” tambahnya. (zul/han)
Kuliah Tamu Pemerintahan Bincangkan Kegaduhan Politik Bangsa

KEPALA Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan, Hevi Kurnia Hardini SIP MAGov menyebut, fenomena kegaduhan politik di Indonesia saat ini merupakan hal yang wajar. Berbeda dengan 10 tahun lalu, kata Hevi, saat ini setiap orang dapat dengan bebas mengkritik dan bersuara terhadap pemerintah. Namun, suara-suara tersebut dinilainy belum punya tempat yang baik sehingga terkesan membuat gaduh. Berpijak dari hal tersebut, maka prodi Pemerintahan mengadakan Kuliah Tamu bertema ‘’Menata Kegaduhan Politik untuk Membangun Pemerintahan yang Efektif”. Bertempat di Aula Biro Administrasi Umum (BAU) UMM, Selasa (12/1), kuliah tamu dihadiri pakar politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogjakarta, Prof Purwo Santoso dan ratusan mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM. “Kedudukan kuliah tamu yang mengangkat tentang kegaduhan politik membuat saya merasa merasa berat, karena membuat rekomendasi perbaikan dalam menata kegaduhan politik saat ini,” ujar Purwo saat membuka kuliah tamu. Ia menilai, pemerintahan yang efektif itu lahir dari konflik, dan dari pertengkaran itulah muncul kecerdasan. “Oleh karena itu anda tidak perlu mengeluh dalam kegaduhan politik ini. Kegaduhan itu adalah proses negosiasi, saling memojokkan, dan menuju konsensus. Lebih baik gaduh daripada diam-diam,” kata Purwo. Pemerintahan yang diam-diam, lanjut Purwo, tidak menjamin keadaan akan lebih baik, karena yang dikedepankan hanya egoisme. “Berbeda dengan pemerintahan yang gaduh, setiap orang akan berani menyampaikan aspirasinya. Ide atau gagasan akan terkumpul dengan sebanyak-banyaknya,” jelasnya. Solusinya, menurut Purwo bukan berada pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), berada pada partisipasi masyarakat. “Partisipasi publik yang dimaksud adalah masyarakat tidak melanggar hukum yang telah diberlakukan. Yang bermasalah bukan gaduhnya politiknya, tapi bagaimana merawat dan komitmen partai politik,” katanya. Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Dr Asep Nurjaman MSi menyebut revolusi mental tidak akan terwujud tanpa didasari dengan stabilitas politik. “Karena stabilitas politik yang terganggu akan membuat kesenjangan ekonomi dan sosial,” katanya. (zul/han)