Peningkatan Mutu Sekolah Muhammadiyah Digenjot di UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan workshop peningkatan mutu sekolah Muhammadiyah se-Indonesia. Acara yang digelar Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini akan berlangsung selama tiga hari mulai Jumat (26/02) di auditorium UMM. Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Dr. Ponco Jari Wahyono, M.Kes, mengatakan workshop ini diikuti oleh 150 kepala sekolah Muhammadiyah terbaik baik tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK. “Mereka akan digenjot untuk menaikkan peringkat sekolahnya secara nasional dan menjadi sekolah paling bermutu,” kata Dekan FKIP UMM ini. Materi workshop antara lain tentang kultur berkemajuan dan pemberdayaan sekolah Muhammadiyah, kebijakan kendali mutu sekolah Muhammadiyah maupun standar Kemendikbud, manajemen berbasis sekolah menuju kultur sekolah bermutu, serta akreditasi sekolah. “Workshop ini menggunakan pendekatan partisipatif dan andragogi, sehingga semua peserta terlibat aktif ikut merancang mutu sekolahnya sendiri,” ujar Ponco. Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP dijadwalkan menjadi salah satu narasumber. Di PP Muhammadiyah, posisi mantan rektor UMM ini membawahi bidang pendidikan, kebudayaan, sumberdaya manusia, seni dan olah raga. Muhadjir akan bicara tentang visi dan kultur pemberdayaan sekolah berkemajuan. Muhadjir mengatakan saat ini Muhammadiyah memiliki 5.719 unit sekolah dasar sampai sekolah menegah yang tersebar di seluruh Indonesia dengan Jumlah kepala sekolah dan guru sebanyak 60.474. Jumlah itu tentu memerlukan perhatian khusus agar seluruh sekolah Muhammadiyah berdiri sejajar dengan standar mutu yang sama. Sudah banyak sekolah Muhammadiyah yang sudah menjadi unggulan. PP Muhammadiyah melalui Majelis Dikdasmen berkomitmen untuk menjadikan sekolahnya sebagai sekolah lebih bermutu. “Sekolah Muhammadiyah harus menjadi terdepan, mulai dari kualitas sekolah, guru, murid dan juga alumninya, sehingga mampu berdaya saing,” tuturnya. Selain Muhadjir, pembicara lainnya adalah ketua Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed. Posisi Mu’ti yang juga sekretaris PP Muhammadiyah sangat kompeten dalam bicara tentang standar mutu dan akreditasi sekolah. Pembicara lainnya, Dr. Hamid Muhhammad (Dirjen Didasmen Kemendikbud), Didid Suhardi (Sekjen Kemendikbud), Drs. Purwadi Sutanto, M.Si (Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud), dan Dr. H. Khamim dan Dr. Supriano, M.Ed (Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud). Ponco menambahkan, selain mengembangkan kualitas pengajaran para guru disekolah, ada beberapa bidang yang akan menjadi fokus pengembangan dalam penyelenggaraan sekolah.“Nanti akan dibahas bagaimana manajemen sekolah seperti pengelolaan keuangan dan administrasi,” terangnya. Menurutnya dengan terselenggaranya penelolaan yang baik, sekolah-sekolah dibawah naungan Muhammadiyah akan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah negeri maupun dibawah lembaga lainnya. Saat ini, menurutnya, sekolah-sekolah di bawah naungan Muhammadiyah sudah banyak yang mampu mengungguli sekolah-sekolah negeri. “Tapi masih belum banyak juga yang harus dibenahi,” pungkasnya. (gas/nas)
Muslim College London Gandeng UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) dan The Muslim College London, United Kingdom (UK) dalam waktu dekat mengadakan kerjasama. Hal ini terungkap dalam kuliah tamu yang diadakan Senin (15/2) bersama kepala Muslim College, Dr Mohamed M. Benotman dan koordinator bidang akademik, Dr Faissal Hameed. Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri UMM, Soeparto, mengungkapkan beberapa kerjasama yang akan dibuat antara UMM dan Muslim College, seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga pengurangan biaya kuliah di Muslim College. “Jadi dosen-dosen dari UMM akan diundang untuk mengikuti kuliah tamu mengenai keislaman atau Indonesia di sana. Mahasiswa kita yang ingin melanjutkan studi S2 maupun S3 juga diberi kemudahan kuliah di Muslim College,” ungkapnya. Sementara untuk Muslim College, UMM akan menawarkan beberapa program summer courses yang dimiliki UMM. “Mereka juga bisa diundang untuk menjadi pemateri kuliah tamu di UMM,” ujar Soeparto. Kerjasama ini menurut Soeparto akan mulai berlangsung tahun ini. Sementara itu, Rektor UMM, Fauzan, dalam sambutannya mengatakan, perkembangan Islam di Indonesia dan Inggris itu berbeda. “Islam di Indonesia itu berkembang dari lahir, sedangkan di Inggris Islam berkembang dari dakwah,” ujar Fauzan. Untuk itu, kata Fauzan, peran Muslim College di Inggris diharapkan membuat Islam semakin berkembang di sana. Sementara itu, Mohamed, dalam sambutannya mengungkapkan pada 1971, populasi warga muslim di UK hanya 500 ribu orang dan hanya sekitar 30 masjid saat itu. “Di 2011 lalu, meningkat menjadi 1500 masjid dan 5 juta warga muslim,” ungkap Mohamed. Dalam presentasi Muslim College dihadapan 50 peserta kuliah tamu, Faissal menyebut Muslim College ingin mempelajari Islam dari Indonesia yang merupakan negara penganut Islam di dunia. “Kami juga ingin mempelajari budaya, sejarah, dan lain-lain tentang Indonesia,” katanya. Kehadiran Muslim College sebagai kampus muslim pertama di Inggris juga berperan memahamkan Islam kepada masyarakat. “Di kampus kami tidak hanya orang Islam yang berkuliah, tapi juga beberapa agama seperti Kristen dan Yahudi. Mereka kuliah di Muslim College karena ingin mengerti dan memahami tentang Islam, sehingga akan terjadi toleransi yang baik antar umat beragama di Inggris,” ucap Faissal. Meskipun Islam adalah agama minoritas di UK, namun Islam sudah dihargai di negara tersebut. “Pangeran Charles merupakan sahabat baik Muslim College, ia sering berkunjung ke kampus kami dan berdialog tentang perkembangan Islam di Inggris,” katanya. Ditanya mengenai UMM, baik Mohamed maupun Faissal mengaku kagum dengan kampus ini. “UMM merupakan kampus pertama di Jawa Timur yang kami kunjungi. Saya senang dengan keindahan Jawa Timur dan kampus ini,” ujar Faissal. “I Love UMM,” kata Mohamed mengagumi UMM. (zul/han/nas)