PGSD Persiapkan Akreditasi Jurnal Elektronik

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan lokakarya peningkatan kualitas jurnal bertajuk “Menuju Jurnal Terakreditasi” di Hotel UMM Inn, Kamis (25/02). Kegiatan ini untuk mendaklanjuti Peraturan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) No. 1 Tahun 2014 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah. Berdasarkan aturan tersebut, jurnal yang akan diakreditasi harus berbasis elektronik secara online atau yang dikenal dengan Open Journal System (OJS). OJS bertujuan untuk efisiensi dan efektivitas dalam hal penerbitan dan distribusi jurnal serta menghindari tindakan plagiasi. Kepala Divisi Jurnal dan Publikasi Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, Novin Farid Setya Wibowo, M.Si yang memberikan materi mengenai “Migrasi Jurnal Elektronik Berbasis OJS” mengatakan, UMM selalu memfasilitasi para dosen yang memiliki jurnal dan ingin mempublikasikannya secara online. “Bagi dosen dan mahasiswa yang memiliki jurnal rencananya nanti kami akan melakukan pelatihan mengenai OJS ini,” ungkapnya. Selain itu, lanjut Novin, UMM juga akan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi jurnal. Untuk itu ia mengungkapkan UMM akan memberikan apresiasi bagi para dosen yang memiliki jurnal dan terdaftar di Dirjen Dikti. “Universitas akan memberikan insentif bagi para penulis jurnal yang telah terindeks dan memiliki reputasi,” terangnya. Ada beberapa keuntungan pada OJS ini. Bagi penulis jurnal, OJS membuat penerimaan keputusan jurnal dari penerbit akan lebih cepat, proses diseminasi lebih cepat dan akan lebih banyak orang yang akan membaca jurnalnya. Untuk penerbit, proses penerbitan OJS akan jauh lebih cepat ketimbang versi cetak. Selain itu biaya penerbitan jauh lebih murah, proses distribusi jurnal pun akan lebih cepat dan mudah. Dalam lokakarya ini, hadir pula pakar publikasi ilmiah Prof. Dr. Ali Saukah, M.A. yang memberikan pedoman tentang akreditasi jurnal elektronik. Ia mengatakan, perkembangan teknologi di bidang jurnal ini akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan keilmuan. “Dengan berkembangnya ilmu pastinya juga akan memberikan kontribusi pada peningkatan mutu kehidupan,” ujarnya. Dalam pemaparannya, Guru Besar di Universitas Negeri Malang (UM) ini menjelaskan cara mendaftarkan jurnal yang telah berbasis elektronik tersebut ke Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk mengakreditasi jurnal secara nasional. Tahapan pertama yang harus dilakukan penulis adalah menyerahkan jurnal tersebut kepada pengelola jurnal dari Perguruan Tinggi Lembaga atau Litbang Organisasi Profesi. Selanjutnya pengelola jurnal akan mendaftarkan jurnal melalui aplikasi website yang telah disediakan Dikti yakni ARJUNA. Setelah itu distributor yang bertugas memploting jurnal tersebut akan menyerahkannya ke Tim Ad Hoc Pakar dari Dikti dan Kemudian jurnal tersebut akan diverifikasi oleh tim asesor. Baru lah Kemenristek Dikti akan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) jurnal berdasarkan hasil verifikasi tim asesor. Menurut Ali Saukah, agar jurnal bisa mendapatkan akreditasi yang baik, selain harus memperhatikan kualitas substansi isi jurnal, penulis juga harus memiliki kemitraan bebestari. “Kemitraan bebestari ini nantinya akan menunjukan kekurangan jurnal dan bisa membantu memperbaikinya,” jelasnya. Sementara itu, ketua pelaksanaa kegiatan lokakarya, Setiya Yunus Saputra.,M.Pd mengatakan dengan diberlakukan peraturan mengenai penerapan sistem akreditasi berbasis elektronik ini PGSD siap melaksanakannya.”Kami sudah mempersiapkan program-program untuk mempersiapkan proses publiukasi dan akreditasi jurnal secara online,” pungkasnya. (gas/han)
KPPA UMM Siapkan Akreditasi Laboratorium

GUNA peningkatan mutu laboratorium di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA) UMM menyelengarakan Workshop Implementasi Sistem Manajemen Mutu Laboratorium Terpadu, Kamis-Sabtu (25-27/2). Bertempat di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis, workshop dihadiri 42 kepala laboratorium. Kepala Divisi Akreditasi Laboratorium KPPA UMM, Dr Elfi Anis Saati MP menyebut, ini merupakan upaya peningkatan kemampuan tenaga laboratorium dan kompetensi lulusan UMM ke depan. “Perlu banyak kegiatan pendukung yang mempunyai target dan luaran seperti workshop, sertifikasi, serta uji kompetensi tenaga SDM di laboratorium yang bermuara pada pencapaian akreditasi laboratorium,” tutur Elfi. Untuk mengawali akreditasi ini, KPPA sudah berkonsultasi dengan asesor Komite Akreditasi Nasional (KAN), Dr Saptowo J Pardal dari Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Bogor. “Dari diskusi dengan beberapa kepala laboratorium, maka diperlukan kegiatan pendampingan pemberkasan pengusulan akreditasi laboratorium untuk laboratorium eksakta, yakni SNI-ISO/IEC 17025:2008,” katanya. Kata Elfi, UMM mempunyai 25 laboratorium eksakta yang akan mulai disiapkan akreditasi laboratorium pada periode ini. Sedangkan 17 laboratorium sosial akan menyusul pada periode selanjutnya. “Kami berharap pada Juni 2016 minimal ada tiga laboratorium yang sudah bisa mendaftarkan usulan akreditasi laboratorium tersebut,” ujar Elfi. Rektor UMM, Fauzan, dalam sambutannya meminta seluruh laboratorium di UMM berbenah diri untuk menyiapkan Laboratorium Terpadu UMM. “Laboratorium ini merupakan pusat pengembangan keunggulan nasional dan regional yang ‘berkarakter’, serta menjadi rujukan dalam bidang laboratorium dan standarisasi,” katanya. UMM, kata Fauzan, ke depan siap membangun gedung Laboratorium Terpadu yang akan menjadi tempat laboratorium-laboratorium di UMM. Masyarakat umum pun dapat memanfaatkan laboratorium tersebut. “Jika masyarakat ingin menguji sampel tertentu, melalui laboratorium terpadu nantinya masyarakat dapat terlayani,” ujarnya. (zul/han)
Bedah Disertasi PSIF Bahas ODHA Hingga LGBT

FENOMENA orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) rupanya sudah ditangkap jauh hari oleh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Rinekso Kartono MSi. Melalui disertasinya berjudul “Fenomena Perilaku Sakit ODHA di Malang Raya”, Rinekso mengungkap bahwa epidemi HIV/AIDS di Malang Raya terus mengalami peningkatan yang signifikan, dan hal tersebut memiliki keterkaitan dengan eksistensi kalangan LGBT. Hal itu, kata Rinekso, merupakan turunan dari fakta bahwa Indonesia, menurut Joint United Nations Programme on HIV and AIDS atau UNAIDS, merupakan salah satu negara dengan epidemi paling cepat di Asia pada 2010. Sementara di Malang Raya, berdasarkan data yang dikumpulkan Rinekso, sepanjang 2008 terdapat 830 ODHA, 2009 meningkat menjadi 900 orang, dan di 2010 naik mencapai 1636. “Tren kenaikan ini terus terjadi, sampai 2013 terdapat sekitar 2650 orang. Ini menempatkan Malang sebagai daerah nomor dua jumlah ODHA terbanyak di Jawa Timur,” ungkapnya pada kegiatan Bedah Disertasi yang diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM, Kamis (25/2) di Ruang Sidang Senat UMM. Fenomena ini, lanjutnya, baru merupakan puncak gunung es saja. Selama ini, sebagian besar ODHA ternyata berusaha menyembunyikan identitas barunya agar tidak diketahui orang lain. Rinekso menyebut perilaku ini dengan istilah close status atau non-self disclosure. “Sikap inilah yang akhirnya menjadikan kelompok atau komunitas mereka sebagai hidden population. Mereka berusaha menyembunyikan penyakitnya dari keluarga, saudara, pasangan hidupnya, dan teman-temannya,” kata Rinekso. Penyakit HIV/AIDS, ucap Rinekso, awalnya berkembang di kelompok-kelompok LGBT, pengguna jarum suntik, dan pekerja seks komersial. Kini bahkan sudah menjangkiti ibu-ibu rumah tangga dan bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. “Yang paling berbahaya saat ini adalah penularan melalui transfusi darah yang tidak steril. Semua orang saat ini bahkan berpotensi tertular karena semakin besar jumlah penderita, semakin besar pula resiko orang tertular, terutama melalui transfusi darah,” ujarnya. Ditanya tentang pencegahannya, ia menjelaskan tidak bisa sepenuhnya menghapus sumber-sumber penyakit ini, misalnya menghilangkan lokalisasi. “Yang kita bisa saat ini ya hanya membatasi gerak mereka dan memberikan aturan dalam perbatasan tersebut. Mau menghilangkan seluruhnya ya hampir mustahil karena itu adalah problem sosial yang selalu ada setiap saat,” katanya. Masyarakat juga tidak perlu melakukan upaya diskriminasi terhadap para penderita ODHA. Perlunya pendampingan dan dukungan sosial terutama dari keluarga menjadi saran penting agar memperlakukan ODHA secara manusiawi. “Perlu diambil langkah-langkah untuk mencegah perkembangan HIV/AIDS di Indonesia, dengan cara mengedukasi ODHA untuk terbuka pada pasangan seksualnya, konsisten menggunakan kondom dalam hubungan seks, menjauhi narkoba terutama dalam menggunakan jarum suntik secara bergantian, dan mengontrol tempat-tempat yang berpotensi sebagai sumber-sumber penyakit ini,” tutur Rinekso. (zul/han)
LK UMM Kaji Norma Generasi Internet
GENERASI Internet dan Perubahan Sosial, menjadi topik kajian Multidisipliner Lembaga Kebudayaan UMM, Rabu (24/2). Bertempat di Laboratorium Manajemen, kajian menghadirkan pembicara dosen Ilmu Komunikasi UMM, Frida Kusumastuti, M.Si dan ketua jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, DR. Bambang D. Prasetyo. Acara diikuti oleh internal UMM meliputi dosen dan karyawan, mahasiswa, pengurus organisasi mahasiswa, para guru PAUD, TK, SD, hingga SMA di Malang Raya, pimpinan maupun anggota PDA dan PCA se Malang Raya. Dalam rilis yang dikirim oleh LK UMM, ketua LK Dr Tri Sulistyoningsih, MSi, mengatakan hari ini kita berada dalam dunia sekaligus; dunia maya dan dunia nyata. Dunia maya membuat kita serba mudah, namun disisi lain juga membuat terasing dari diri sendiri. “Oleh karena itu kita harus menjadikan tehnologi informasi bukan sebagai perusak, namun sebagai pembangun peradaban bangsa,” papar Tri yang juga dosen Ilmu Pemerintahan ini. Frida Kusumastuti yang membawakan materi dengan judul “Generasi Internet; Harapan Kehidupan yang Lebih Baik”, menegaskan bahwa karakter generasi internet tidak terlepas dari karakteristik internet itu sendiri, yaitu serba cepat, interaktif, interkonektif, banyak pilihan, dan fun atau menyenangkan. “Karakter internet menentukan pola interaksi, cara berpikir, cara berkomunikasi para penggunanya atau generasi internet, sehingga terbentuk ‘norma baru’ di kalangan mereka,” ungkapnya mengutip Technology Determinism Theory. Sementara itu, Bambang menyebut Generasi Z identik dengan iGeneration, Generasi Net, atau Generasi Internet yang lahir pada tahun 1995 – 2010. Sedangkan yang terlahir pada periode 1965 hingg 1980 disebut sebagai Generasi X. Generasi Y dilahirkan antara 1981 – 1994. Generasi-generasi ini, menurutnya, merupakan generasi yang bersifat global. Mereka lebih kompetitif, lebih cerdas, lebih gesit, dan lebih toleran terhadap keberagaman dibanding pendahulu mereka, peduli pada keadilan dan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, mudah melibatkan diri pada aktivitas sosial. “Jadi kalau mau libatkan generasi ini harus paham dulu nilai apa yang sedang trend dan cara mengkomunikasikannya kepada mereka,” papar Bambang. Menanggapi pertanyaan salah satu peserta dari Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Malang, N. Muamalah tentang bagaimana menghadapi anak-anak yang mengakses internet secara bebas dan negatif, para pembicara sepakat bahwa tidak mungkin menjauhkan anak-anak dari teknologi baru. “Setiap generasi memiliki ‘hidupnya’ sendiri, atau memiliki kebudayaannya sendiri yang mengikuti trend perkembangan tehnologi, maka sikap kehati-hatian dalam menggunakan tehnologi itu yang penting,” tutur Bambang. Sementara Frida yang pernah mendapatkan penghargaan Bronz Internet Sehat, berpendapat bahwa perhatian yang utama adalah pada konten. Manusia “yang bertanggung jawab” harus belajar lebih familier dengan teknologi internet ini sehingga mampu menyediakan konten yang baik. “Seperti saat ini kita diskusi dua jam tentang dampak negatif internet di ruang ini, bisa jadi di luar sana para manusia tak bertanggung jawab telah mengunggah ratusan tulisan buruk, pornografi, video sampah untuk generasi internet. Oleh karena itu mari kita belajar memproduksi konten yang baik dan kemudian mengunggahnya melalui media internet. Agar generasi internet mendapat pilihan konten yang positif untuk kehidupan yang lebih baik,” ajak Frida. Kajian multidisipliner merupakan kajian rutin dua bulanan yang diselenggarakan Lembaga Kebudayaan. Hingga saat ini telah memasuki putaran ke 8 dan telah menghadirkan 16 pemateri dari dalam maupun dari luar UMM antara lain para pakar dari kalangan penggiat dan pelaku seni budaya, birokrat, pengusaha, para pakar dari UM, UIN, dan UB. (nas)