Mutu Sekolah Muhammadiyah Berkontribusi Majukan Pendidikan Bangsa

PROGRAM pemerintah untuk mendirikan sekolah-sekolah di daerah prioritas 3T yaitu terluar, terpencil, dan tertinggal akan sulit berjalan maksimal tanpa dukungan organisasi kemasyarakatan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki peran penting membantu kerja pemerintah memberikan pendidikan yang bermutu untuk masyarakat sebagaimana amanat UU Sisdiknas.       Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Abdul Mu`ti MEd mengatakan, peningkatan mutu sekolah merupakan wujud pemenuhan hak asasi manusia di bidang pendidikan. “Negara tidak bisa mengambil alih seluruh kegiatan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Kontribusi Muhammadiyah akan sangat berharga,” paparnya pada pembukaan Workshop Peningkatan Mutu Sekolah Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (26/2).       Lebih dari itu, Mu’ti menambahkan, dalam peningkatan mutu sekolah Muhammadiyah, peran kampus seperti UMM sangat diperlukan sebagai basis pengembangan sekolah Muhammadiyah di daerah. “Ada beberapa PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) yang memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) seperti UMM ini harus bisa mendorong peningkatan mutu pendidikan sekolah Muhammadiyah di sekitarnya,” kata Mu’ti.       Kegiatan Workshop yang berlangsung selama tiga hari hingga Ahad (28/2) ini mengundang sekitar 150 sekolah terbaik Muhammadiyah dari jenjang SD hingga SMA. Kegiatan dibuka oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, didampingi Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, Prof Dr Baedhowi MSi; serta Pembantu Rektor I UMM, Prof Dr Bambang Widagdo MSi.       Senada dengan Mu’ti, Muhadjir Effendy mengungkapkan, sekolah-sekolah terbaik Muhammadiyah juga seharusnya menularkan prestasinya dan mutu sekolahnya kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah lainnya. “Jadi sekolah yang perlu ditingkatkan mutunya dibantu bersama-sama ditingkatkan, yang sudah baik mutunya ditingkatkan supaya makin baik,” ujar mantan Rektor UMM ini.       Ia juga mendorong lulusan terbaik dari sekolah Muhammadiyah ini untuk mau diterjunkan ke pedalaman, agar mampu menyamakan kualitas pendidikan di Indonesia. “Kalau perlu kita danai sampai mereka betah dan tidak mau pulang dari pedalaman,” katanya.       Sementara Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Dr Poncojari Wahyono MKes menyebut, dalam workshop ini selain mengembangkan kualitas pengajaran para guru di sekolah, ada beberapa bidang yang akan menjadi fokus pengembangan dalam penyelenggaraan sekolah.“Nanti akan dibahas bagaimana manajemen sekolah seperti pengelolaan keuangan dan administrasi,” terangnya.       Menurutnya dengan terselenggaranya pengelolaan yang baik, sekolah­-sekolah di bawah naungan Muhammadiyah akan mampu bersaing dengan sekolah­-sekolah negeri maupun di bawah lembaga lainnya. Saat ini, menurutnya, sekolah-­sekolah di bawah naungan Muhammadiyah sudah banyak yang mampu mengungguli sekolah­-sekolah negeri. “Tapi masih belum banyak juga yang harus dibenahi,” pungkasnya. (zul/han)

Teken MoU, UMM Segera Kirim Peneliti ke Tiongkok

KUNJUNGAN Open University Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ke Universitas Muhammadiyah Malang selama sepekan berakhir Jumat (26/01). Kedua belah pihak sepakat meneken nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Rektor UMM, Fauzan menandatangani langsung MoU tersebut didampingi Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, Prof Sujono MKes. Sedangkan dari pihak Open University RRT, penandatanganan dilakukan oleh President Xiamen Runde Yuan Investment Corporation, Wang Xioming dan Direktor Laboratory of Tropical Medical Plants Resource, Tropical Crops Genetic Resource Institute, Chinese Academy of Tropical, Pang Yuxin didampingi Senior Engineering Manager Open University RRT, Pan Hanliang. Rektor UMM, Fauzan, menerangkan poin kerjasama yang disepakati kedua belah pihak, diantaranya pengiriman dosen ke beberapa perusahaan di Tiongkok milih Xiamen Runde Yuan Investment Corporation untuk belajar pembudidayaan kentang hitam, jamur, dan blueberry. “Hasil belajar dan riset bersama di Tiongkok akan diaplikasikan di Malang dan Batu,” katanya. Dijelaskan Direktur DPPM UMM, Prof Sujono Mkes, pihak Tiongkok tertarik untuk membuat beberapa tanaman tropis ini menjadi obat herbal. “Indonesia ini kan penuh dengan tanaman tropis, dan pihak dari Tiongkok sudah mengetahui tanaman apa saja yang bisa dijadikan obat. “Kedepan juga akan dibangun perusahaan obat herbal itu di Malang, yang menghasilkan produk hasil riset bersama antara UMM dan Tiongkok,” ujarnya. Sujono berharap, kerjasama ini dapat meningkatkan mutu dosen dan penelitian UMM. Kerjasama ini juga diharapkan meningkatkan poin akreditasi institusi dibidang penelitian dan pengabdian masyarakat. “Kerjasama internasional kan masuk dalam poin akreditasi, tentu sangat berpengaruh,” ucapnya. Rombongan dari Tiongkok ini sudah berada di UMM sejak Senin (22/2). Mereka kemudian diajak berkeliling di beberapa pusat studi dan laboratorium yang dimiliki UMM. Mereka juga dipamerkan beberapa hasil riset yang dimiliki UMM. (zul/nas)