Puan Maharani: UMM Harus Jadi Pelopor Pencipta Teknokrat

MENTERI Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani menyebut, sebanyak 75 persen lulusan di Indonesia berasal dari bidang non-teknik. Dalam orasi ilmiah Wisuda ke-79 Periode I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (27/2), ia mengatakan perlunya mendorong perguruan tinggi mencetak lulusan-lulusan berlatar belakang teknik. “Indonesia lagi giat membangun infrastruktur. Sudah dianggarkan sebesar 5ribu triliun rupiah sampai 10 tahun kedepan untuk pembangunan, tapi kita kekurangan insinyur,” ujar Puan dihadapan 1.002 wisudawan di Hall UMM Dome. Ia kemudian berharap, UMM bisa menjadi salahsatu kampus pelopor di Indonesia yang menghasilkan teknokrat-teknokrat muda dan berkualitas. Para wisudawan ini, pesan Puan, diharapkan bisa bersaing menghadapi tantangan yang sudah menanti di depan mata. Persaingan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah dimulai saat ini sudah harus disiapkan dengan modal keterampilan dan kompetensi yang dimiliki. “Saudara-saudara akan dituntut untuk mengabdikan ilmu dan kemampuan dari apa yang sudah dipelajari selama ini,” kata Menko PMK ini. Ia menambahkan, untuk mendukung majunya kualitas lulusan serta pendidikan tinggi di Indonesia, beberapa program sudah disiapkan oleh pemerintah, seperti beasiswa afirmasi yang sudah dinikmati manfaatnya oleh ribuan mahasiswa, juga menguatkan peran Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dalam proses akreditasi PT. “Kita mengingkan pendidikan tinggi betul-betul menjadi ajang untuk menempa mentalitas, keterampilan, dan keahlian, serta menghasilkan generasi penerus bangsa yang berintegritas, beretos kerja, dan berkepribadian yang berlandaskan gotong royong,” tutur Puan. UMM, menurutnya sudah teruji dalam hal mutu kualitas pendidikan tinggi. “UMM tidak akan pernah mundur, tapi akan selalu maju meningkatkan kualitasnya menjadi lebih baik,” katanya. Ia kemudian meminta mahasiswa untuk menjaga nama baik Muhammadiyah dan almamater UMM. “Bagaimanapun, Muhammadiyah sudah berperan besar dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Jadilah wisudawan yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, agama, bangsa, dan negara Republik Indonesia ini,” (zul/nas)

Jaga Hubungan Ideologis, UMM Hadirkan Puan Maharani

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM), kembali menggelar prosesi wisuda, di UMM Dome, hari ini (27/02). Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Republik Indonesia, Puan Maharani, hadir di acara wisuda untuk memberikan orasi. Selain Puan, wisuda juga dihadiri Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang juga ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof HA Malik Fadjar, dan ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, Ketua Bamus MPR RI yang sekaligus ketua Fraksi PDI Perjuangan, Drs. Ahmad Basarah, MH. Rektor UMM, Fauzan, menerangkan kehadiran Puan merupakan salah satu upaya melanjutkan tradisi akademik UMM dengan mendatangkan tokoh sebagai sumber informasi bagi sivitas akademika dan keluarganya. “Kehadiran Ibu Puan penting sekali agar kita memperoleh informasi kebijakan di bidang sumberdaya manusia dan budaya dari tangan pertama,” ujarnya. Selain itu, lanjut rektor, UMM memang selalu menjaga  hubungan ideologis dengan anak keturunan tokoh Muhammadiyah. Seperti diketahui, Puan adalah putri Megawati Sukarno putri yang berarti cucu Proklamator, Sukarno, yang sekaligus tokoh Muhammadiyah pada zamannya. Istri Sukarno, Fatmawati yang juga nenek Puan, adalah tokoh ‘Aisyiyah di Bengkulu. Sedangkan Taufik Kiemas, ayahanda Puan, adalah mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah. “Jadi kehadiran beliau di UMM ini sekaligus mengingatkan kepada publik bahwa Muhammadiyah memiliki peran kebangsaan yang sangat besar melalui tokoh-tokohnya,” kata Fauzan. Itulah sebabnya, pada peringatan Milad 50 tahun UMM tahun lalu Almarhum Taufik Kiemas dinobatkan sebagai penerima UMM Award untuk Tokoh Bangsa. Hal senada diungkapkan Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy. Menurutnya, buyut Puan adalah ketua Muhammadiyah Bengkulu yang memiliki anak bernama Fatmawati yang aktif di Aisyiyah. Fatmawati adalah istri Bung Karno yang melahirkan Megawati Sukarnoputri, ibu Puan Maharani. “Ketika ketua Muhammadiyah dipegang mertuanya itulah Bung Karno aktif sebagai Ketua Majelis Pengajaran Muhammadiyah,” terang Muhadjir. Sementara itu, dalam orasinya Puan berharap lulusan UMM sanggup menjadi sarjana yang memberi kontribusi kepada bangsa. Tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), katanya, harus dijawab dengan sumberdaya manusia unggul yang memiliki visi gotong royong. “Saya berulangkali mengatakan yang harus kita tonjolkan adalah semangat gotong-royong. Kata Bung Karno, jika Pancasila kita uraikan lagi maknanya, maka isinya intinya adalah semangat gotong royong itu,” tegas Puan. Usai berorasi, Puan menerima penghargaan sebagai Keluarga Kehormatan UMM. Rektor menyematkan jas almamater merah, dilanjutkan dengan penyematan cincin, dan sebuah lukisan sketsa dirinya. Rombongan Puan juga meninjau RS UMM yang pada tahun 2014 diresmikan oleh Megawati Sukarnoputri. Di RSUMM Puan berfoto di depan prasastri peresmian dan ambulan sumbangan presiden RI ke-5 itu. Dalam setahun UMM melaksanakan wisuda sebanyak empat kali dan kali ini merupakan wisuda ke 79 periode I tahun 2016 dengan jumlah lulusan sebanyak 1.002 orang. Mereka terdiri dari dari 7 lulusan Diploma I; 920 lulusan Sarjana Strata I; 74 lulusan Sarjana Strata II; dan 1 orang Doktor. Perlu kami sampaikan juga bahwa di antara lulusan S1 terdapat satu orang yang berhasil meraih gelar ganda (Twinning Program) dan ada 20 lulusan yang sudah meraih gelar Profesi Dokter. Pada wisuda ini, lulusan terbaik kali ini diraih Septa Waspada Hariyono Putra dari Fakultas Psikologi. (nas)

Malik Fadjar: Peningkatan Mutu itu Tiada Akhir, Tiada Batas

JIKA tak ingin terhempas dari persaingan yang kian ketat, pengembangan mutu pendidikan sekolah harus terus berkembang seiring perkembangan zaman. Hal itu disampaikan tokoh Muhammadiyah, Prof Dr HA Malik Fadjar MSc pada gelaran Workshop Peningkatan Mutu Sekolah Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jumat (26/02) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).       Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini menjelaskan, peningkatan mutu pendidikan sekolah Muhammadiyah tidak akan bisa dilakukan oleh satu lembaga saja, melainkan harus adanya kemitraan yang baik secara internal maupun eksternal Muhammadiyah. Karena itu, menurut Malik, kegiatan workshop ini merupakan salah satu langkah strategis PP Muhamadiyah untuk meningkatkan mutu sekolah Muhammadiyah agar terus berkembang.       “Peningkatan mutu itu tiada akhir dan tiada batas, karena itu perkembangan mutu haruslah menjadi sesuatu yang menggairahkan, menyenangkan, dan juga mencerdaskan,” terang Rektor UMM 1983-2000 ini.       Kunci dari sekolah bermutu, lanjut Malik, bisa dilihat dari kualitas guru. Oleh karena itu, menurutnya, para guru di sekolah Muhammadiyah haruslah memiliki empat prinsip yang harus dijadikan pedoman yakni niat, pengetahuan, kompetensi dan juga komunikasi yang baik. “Jadilah orang yang tak pernah henti mengembangkan ilmunya baik agama maupun ilmu umum,” paparnya.       Ia menegaskan, Muhammadiyah akan selalu meningkatkan kualitas sekolah-sekolah di bawah naungannya agar mampu bersaing dengan sekolah-sekolah negeri maupun di bawah kelembagaan lainnya agar bisa menjadi terdepan. “Kita harus selalu berupaya agar mutu yang baik bisa terus dikembangkan, dan ini tak akan terpisahkan dari pergerakan Muhammadiyah,” pungkasnya. (gas/han)