Gemar Bikin Aplikasi, Raih Terbaik di FT UMM

ALI Usman boleh berbangga lantaran selain mampu menciptakan hingga 50 aplikasi untuk Playstore Android maupun Apple App Store, juga dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hari ini Ali mengikuti wisuda setelah berhasil menyesaikan studi di Teknik Informatika UMM dengan meraih IPK 3,85. Kegemaran putra dari pasangan Supriyadi dan Suharti dalam menciptakan aplikasi bisa dibilang unik. Bagaimana tidak, ia selalu gemas ketika ada sesuatu yang sulit padahal bisa dibuat mudah. Kegemaran ini sudah dimulai sejak semester lima. “Saya sering menemukan aplikasi yang sulit, padahal bisa dibuat lebih mudah. Makanya saya buat sendiri dan alhamdulillah banyak yang suka dan mengunduhnya,” tutur pria asli Tulung Agung ini. Berkat kegemarannya itu pula, ia sudah memperoleh penghasilan puluhan juta rupiah tiap bulan. Semakin banyak yang mengunduh aplikasi buatannya, semakin mengalir penghasilan buatnya. Misalnya, salah satu aplikasi kamus Bahasa Indonesia – Inggris sudah didownlad lebih dari 150 ribu kali. Selain itu ia juga menciptakan aplikasi untuk kiblat dan jadwal sholat, JNE Ongkos Kirim, Jawa Pos National Network (JPNN), hingga UMM Massanger yang mirip WhatsApp tetapi familier dengan keperluan mahasiswa UMM. Ia juga mengembangkan website brixzen.com sebagai pengembang aplikasi. Usman mengaku kesukaannya pada dunia teknologi informasi diawali sejak sekolah di bangku SMK. Ia ditantang pamannya untuk membuat aplikasi kasir dan dibayar Rp 3 juta. Setelah berhasil, itulah momentum bangkitnya kepercayaan diri hingga berani mencoba banyak hal. Meski demikian, tidak semua aplikasi buatannya selalu laris di pasaran. Ia bercerita, beberapa aplikasi yang semestinya bermanfaat justru tidak mendapat animo besar. “Pernah saya membuat aplikasi tentang informasi obat mulai dari nama obatnya, dosisnya, dan segala macamnya. Semua informasi itu saya dapatkan dari website resmi yang kredibel. Tapi ternyata hanya sedikit sekali yang mengunduh aplikasi tersebut,” kata Usman. Setelah lulus Usman masih ingin melanjutkan hobi yang juga pekerjaannya ini. Ia tetap yakin aplikasi yang dibuatnya memudahkan dan memberi manfaat kepada banyak orang. “Kedepan saya akan kembangkan brixzen.com ini menjadi start-up lokal yang diperhitungkan,” pungkasnya. (rin/nas)
Lulus 3,5 Tahun Jadi Wisudawan Terbaik

AKTIF pada seabreg organisasi tak membuat Septa Waspada Hariyono Putra tidak memiliki prestasi akademik yang gemilang. Dalam Wisuda Periode I 2016, lulusan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berhasil meraih predikat wisudawan terbaik universitas dengan IPK 3,99. Pria kelahiran 29 September 1993 ini aktif di beberapa organisasi intra kampus sejak awal kuliah. “Dulu pernah aktif di LSO (Lembaga Semi Otonom) Psycology Club, kemudian sempat menjadi Gubernur BEMFA (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas), dan aktif juga di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Komisariat Psikologi,” kata Septa. Putra dari pasangan Hariyono dan Wihartini Purwaningtyas ini bercerita, masuknya ia ke Fakultas Psikologi merupakan “kecelakaan”. Septa mengungkapkan, awalnya ia ingan jadi Polisi. Namun nasib berkata lain, ia ditolak. Pun ketika mencoba peruntungannya di Fakultas Kedokteran, Septa masih ditolak. “Kemudian ada saudara menyarankan masuk di Psikologi karena lapangan kerjanya yang luas dan bisa masuk di mana-mana. Setelah saya telusuri, akhirnya saya masuk di fakultas ini,” tuturnya. Ditanya kenapa memilih UMM, Septa yang hobi renang dan memelihara kucing Persia ini mengaku terkesan dengan kemegahan UMM. Ia juga melihat review dari beberapa alumni Psikologi UMM yang berada di internet. “Sewaktu browsing di internet, ternyata banyak yang menyarankan UMM karena Psikologinya bagus. Setelah saya buka websitenya, ternyata UMM bagus dan indah banget. Jadi akhirnya pilih masuk UMM,” ujar Septa. Setelah lulus dari UMM, Septa yang menjadi Kakang Embug (Duta Wisata) Situbondo 2009 dan Raka Raki Jawa Timur 2010 ini mengaku ingin melanjutkan pendidikan magister. “Sudah ada kampus yang jadi pilihan, saat ini juga sedang apply beasiswa. Semoga diberikan yang terbaik,” harapnya. Septa menjadi satu di antara ratusan mahasiswa UMM yang berhasil menyelesaikan studi dalam kurun waktu 3,5 tahun. Ia pun diwisuda bersama 1.002 wisudawan pada Sabtu (27/2) di UMM Dome. (zul/nas)