LK UMM Gelar Audisi Vocal dan Talent Islamic Wedding Song

Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM) meneruskan semangat membumikan dakwah kultural menggelar audisi vocal dan talent Islamic Wedding Song di Laboratorium Hukum, UMM GKB lantai 2, Rabu (23/3). Audisi yang digelar untuk mendapatkan calon vocalist dan pemeran untuk produksi video klip dalam album Islamic Wedding Song ini dikuti oleh 20 peserta dari kalangan mahasiswa UMM. Ketua pelaksana produksi album Islamic Wedding Song, Frida Kusumastuti, mengatakan  audisi ini bukan ditentukan dari yang terbaik secara teknis semata. Karakter yang paling sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi Islamic Wedding Song menjadi pertimbangan utama. “Kami memilih yang sesuai dengan kebutuhan Islamic  song dan misi dakwah Lembaga Kebudayaan UMM,” tutur Frida tentang audisi yang merupakan kerjasama LK UMM dan Bumi Yogja Studio ini. Peserta diseleksi oleh tiga juri dari LK UMM. Mereka adalah Kaprodi Sosiologi yang juga seniman,  Mohamad Hayat; dosen pendidikan seni tari dan koreografer, Arina Restian;  dan komposer, pengarang lagu, dan budayawan dari Bumi Yogja Studio Sigit Baskara.             Sementara itu Kepala LK UMM, DR Tri Sulistyaningsih, M.Si, menuturkan audisi ini merupakan kelanjutan kegiatan LK UMM sebelumnya, yakni Pelatihan dan Penciptaan Lagu Anak-Anak Edukatif dan Islami untuk para Guru PAUD/TK se jawaTimur, dan Lokakarya Islamic Wedding Song. “LK akan meluncurkan produksi pertama dari hasil audisi ini dalam Malam Aksi Seni Budaya (Maksidaya) Mei mendatang di helipad menjelang wisuda sarjana UMM,”kata Tri Sulistyaningsih yang juga Wakil Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Malang ini.             Jalannya audisi Nampak menarik karena peserta tampil total dalam hal penghayatan, ekspresi, kostum, dan pengetahuan tentang lagu yang dibawakannya. Beberapa lagu yang dipilih peserta secara bebas ternyata adalahlagu-lagu yang di industri musik dikenal sebagai lagu religius. Di antaranya, lagu Sebatang Pohon yang dibawakan oleh Dyah Ayu Rahmawati (FKIP),lagu Kumohon yang dibawakan peserta nomer 5, Satria Pramadani (FPP), lagu Padamu Aku Bersujud oleh Wulansari Fardana (FIKES), termasuk lagu Rhoma Irama- Ampunilah oleh Yessy Witranti (FIKES).             Selain vocal, para juri memberi perhatian dan sekaligus edukasi kepada peserta berkaitan dengan unsur-unsur penunjang di setiap akhir penampilan. “Potensi siswa dan mahasiswa Muhammadiyah itu luar biasa, termasuk yang ikut audisi hari ini. Kita harus mensuport dan bina mereka. Moment audisi seperti ini kesempatan juga untuk pembinaan dengan memberikan komentar-komentar pada mereka, “ papar Sigit Baskara. Peserta audisi mengaku antusias karena merupakan kesempatan baik untuk tampil mengembangkan bakatnya. “Kesempatan ini kan tidak tiap tahun ada, makanya saya ikut, supaya tahu sampai di mana kemampuan saya dalam acting dengan cara dinilai oleh orang-orang yang ahli di bidangnya,” kata Tria, salah satu peserta audisi talent dari FIKES. Hal senada diakui Ilham dari FAI yang mengatakan ingin mencoba lagu religi setelah terbiasa dengan dengan band lagu-lagu barat R & B. (*/fri/nas)

Percepat Internasionalisasi, UMM Gandeng Rusia

RELASI Muhammadiyah dan Rusia yang selama ini telah terjalin dengan baik akan diteruskan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kemitraan akademik. Rektor UMM, Fauzan, mengatakan kerjasama UMM dengan Rusia ini menambah daftar kerjasama luar negeri yang telah dijalin UMM dengan 104 negara lainnya.       Perbincangan seputar kerjasama dilakukan Rektor UMM bersama Kepala Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia, Veronika Novoseltseva PhD, serta Koordiantor Pendidikan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moscow, Rusia, Darmawan Suparno. Pertemuan lantas dilanjutkan dengan seminar bertajuk Indonesia-Rusia Bilateral Relations di Auditorium UMM, Rabu (23/3).       Veronika mengungkap, Muhammadiyah dan Rusia telah memiliki kerjasama yang sangat baik. Pada beberapa kesempatan, menurut Veronika, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin diundang untuk berceramah di hadapan Muslim Rusia. “Yang terbaru kami bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk melatih kader-kadernya belajar perkeretaapian. Saat ini sudah ada 50 mahasiswa dari Kaltim yang khusus belajar kereta api di Rusia,” ujarnya.       Veronika juga mengaku terkesan dengan UMM. “UMM merupakan kampus yang bagus. Saya secara pribadi mengenal sosok Din Syamsuddin. Saat saya akan ke Malang dan ke UMM, saya bilang ke beliau dan ia sangat senang mendengarnya,” katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih.       Sementara itu, Darmawan Suparno menilai bahwa atara antara Indonesia dan Rusia terdapat banyak persamaan. Menurutnya, banyak masyarakat Indonesia tidak mengetahui lebih dalam jika ada persamaan dan kemiripan budaya antara Indonesia dan Rusia. “Indonesia punya banyak budaya, Rusia pun demikian,” ujar Darmawan.       Yang tidak banyak orang tahu, menurutnya, adalah jumlah orang muslim di Rusia saat ini sudah sekitar 20-25 juta orang. Banyaknya jumlah penduduk beragama Islam di Rusia membuat negara tersebut saat ini menjadi observer di Organisasi Kerjasama Islam (OKI). “Jumlah ini malah mendekati atau sama dengan jumlah penduduk Saudi sendiri,” katanya.       Di bidang kerjasama pendidikan, melalui Beasiswa Darmasiswa, Rusia telah mengirim banyak mahasiswanya untuk belajar budaya dan bahasa Indonesia di berbagai kampus di Indonesia, termasuk di UMM. “Namun mahasiswa Indonesia yang belajar ke Rusia jumlahnya masih sangat sedikit, hanya sekitar 224 orang saja. Padahal Malaysia saja bisa sampai tiga ribu mahasiswa yang dikirim ke Rusia,” ungkap Darmawan.       Fauzan menambahkan, berbagai kerjasama yang dilakukan UMM ini ditujukan untuk mempercepat proses internasionalisasi di UMM. “Beberapa waktu lalu UMM sudah membuka Indonesian Corner di Thailand sebagai wujud konkrit kerjasama di tingkat ASEAN. Ke depan kita harap di Rusia bisa dilakukan hal serupa,” ucapnya di hadapan lebih dari 300 mahasiswa Hubungan Internasional (HI) UMM.       Dalam sambutannya, Fauzan mengatakan kedatangan perwakilan Rusia di UMM akan membuka wawasan dan kerjasama dengan Rusia. “Kita sudah mencanangkan di 2016 ini akan banyak kerjasama yang akan kita buat, saya harap Rusia menjadi salahsatu yang akan bekerjasama dengan UMM,” ujarnya. (zul/han)

FPP UMM Jadi Penyelenggara Uji Kompetensi Profesi Pertanian

FAKULTAS Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk menyelenggarakan uji kompetensi sertifikasi bidang pertanian. UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Jawa Timur yang berhak menyelenggarakan program tersebut.       Penunjukan tersebut ditandai dengan penyerahan sertifikat profesi dan sertifikat penunjukan UMM sebagai tempat uji kompetensi dari Direktur LSP Bidang Pertanian, Drs. Surini Santoso, M.Si pada Dekan FPP, Dr. Ir. Damat, MP serta perwakilan mahasiswa yang telah lulus uji kompetensi di Hall Dome UMM, Rabu (23/03).       Setelah prosesi peresmian, acara dilanjutkan dengan kuliah umum bertajuk “Strategi Peningkatan Daya Saing Lulusan dalam Menghadapi MEA Melalui Sertifikasi Prosesi” di hadapan ratusan mahasiswa FPP.       Dekan FPP Damat mengungkapkan, ditunjuknya FPP UMM sebagai penyelenggara program uji kompetensi merupakan sebuah kebanggan. UMM sendiri, lanjut Damat, telah mempersiapkan segala sesuatunya, baik sarana maupun prasarananya untuk menunjang penyelenggaraan uji kompetensi.       “UMM saat ini telah menjadi salah satu leader dalam uji kompetensi bidang pertanian dan peternakan,” ujarnya. Damat mengatakan, selain memiliki sarana yang lengkap, saat ini FPP UMM juga memiliki delapan assessor kompetensi. Selain itu, 120 mahasiswa tercatat telah berhasil lulus uji kompetensi.       Terkait kepentingan memiliki sertifikasi profesi di era MEA, Damat menilai, hal tersebut sangat dibutuhkan untuk bisa bersaing dengan tenaga kerja asing, tak terkecuali di bidang pertanian dan peternakan. “Akan terjadi arus tenaga kerja dan barang secara besar-besaran antar negara-negara ASEAN, jadi saat ini tidak cukup hanya berbekal ijazah dan keahlian, tapi juga ada sertifikat profesi,” jelasnya.       Ia menjelaskan, sertifikasi profesi ini penting tidak hanya bagi para pencari kerja namun juga bagi penyedia lapangan kerja. Hal ini diperlukan agar barang yang diproduksi tidak hanya bisa diterima secara lokal maupun nasional tapi juga secara internasional. “Saat ini Indonesia hanya memiliki 1,7 persen tenaga kerja yang memiliki sertifikasi profesi,” paparnya.       Oleh karenanya, Damat berharap, dengan ditunjuknya UMM sebagai penyelenggara uji kompetensi, mahasiswa bisa mengasah kemampuan dan semakin banyak mahasiswa FPP UMM yang memiliki sertifikasi profesi. “Mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi dan semangat untuk bisa bersaing di era MEA,” harapnya.       Surini Santoso mengatakan, meningkatnya persaingan kompetensi pada pasar kerja akibat globalisasi dan pasar bebas mengharuskan tenaga kerja saat ini harus memiliki sertifikasi profesi. “Tuntutan kebutuhan tenaga kerja berkualitas dan produktif di pasar kerja nasional dan global terus meningkat,” katanya.       Ia menerangkan, di dunia industri saat ini sertifikasi profesi sangat dibutuhkan. Nantinya sertifikasi ini akan membantu meyakinkan kepada industri jika ia memiliki kompetensi dalam bekerja dan menghasilkan produk atau jasa. “Dengan sertifikat profesi ini juga akan meningkatkan kepercayaan diri sebagai seorang profesional,” pungkasnya. (gas/han)