Alumni Teknik Mesin Jadi Kepala Biro Koran Sindo

EDI Purwanto tidak pernah menyangka bakal menjadi seorang jurnalis. Alumni jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 1995 itu sejak awal hanya ingin menjadi ahli rekayasa mesin yang handal. “Skripsi saya saja kan tentang gaya magnet yang bisa digunakan untuk pengereman kereta api. Eh, sekarang saya dengar Jepang menggunakan teknologi itu,” katanya mengenang.       Edi tak pernah menyesal. Naluri sebagai aktivis membawanya harus berjibaku dengan dunia jurnalistik ini. “Banyak perubahan yang bisa dilakukan ketika menjadi wartawan,” kata aktivis Perguruan Silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah ini. Semasa mahasiswa, ia termasuk sering berinteraksi dan ikut dalam aksi-aksi demontrasi melawan rezim Orde Baru tahun 1998.       Pekan lalu, Kepala Biro Jawa Timur Koran Sindo ini bertandang ke UMM dan bertemu dengan rektor, Fauzan. Di depan rektor ia bercerita bagaimana karirnya di dunia jurnalistik yang dimulai sejak lulus UMM dan bekerja di Surabaya Post, lalu pindah ke Sindo Jakarta hingga menjadi seorang redaktur. Kenangan dengan sesama aktivis seperti dengan Mantan Menteri Pertahanan Timor Leste, Julio Thomas Pinto dan Sekjen Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Ahmad Rofiq, tak luput dari cerita nostalgia yang menarik.       “Saya tidak menyangka, teman seangkatan saya sekarang jadi Sekjed Perindo dan Komisaris Sindo Group, bahkan ada yang pernah jadi menteri,” katanya, mengenang dua teman aktivisnya itu.       Selain di Tapak Suci, Edi juga sempat mencicipi pengkaderan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Teknik. Karena itulah sejak masih di Jakarta, ia aktif menggalang kekuatan kelompok jurnalis dari kalangan Muhammadiyah melalaui media sosial dalam bentuk grup Whats App (WA). “Kami memiliki grup yang namanya Jurnalis Merah. Di grup ini saya menemukan banyak sekali alumni UMM yang jadi wartawan di Jakarta,” ungkap pria asli Blitar ini.        Rektor UMM, Fauzan, mengungkapkan banyak alumni UMM yang telah sukses di berbagai media di seluruh Indonesia. Mereka perlu dihimpun untuk membangun sinergi membangun dakwah melalui media masing-masing. “Saya sering disapa oleh alumni di berbagai daerah, kebetulan mereka itu wartawan. Alhamdulillah mereka masih peduli dengan almamaternya,” tutur Fauzan.       Rektor berharap, para alumni yang telah sukses bisa menjalin komunikasi dengan adik-adiknya di kampus. Sehingga jika ada lulusan yang memerlukan akses di dunia luar segera bisa teratasi. Ia juga minta agar pemberitaan media dapat lebih serius mengangkat karya-karya kampus yang bermanfaat bagi masyarakat luas. “Sering temuan di kampus yang sebetulnya bagus kurang diminati media. Kalau hanya dipublikasikan di jurnal ilmiah saya kira masih kurang. Media massa harus bisa mengambil peran untuk diseminasi hasil kerja kampus ini,” harapnya.       Menanggapi hal itu Edi sepakat agar dunia kampus terhubung dengan baik dengan media massa. Untuk itu pihaknya akan selalu memantau temuan-temuan baru UMM yang memiliki nilai manfaat atau komersil di kalangan masyarakat luas. “Ini sinergi yang kami sangat harapkan,” pungkas Edi. (nas)