Walikota Malang: MAFI Fest Perkaya Kreativitas Kota Malang

WALIKOTA Malang, Mochamad Anton resmi membuka gelaran Malang Film Festival (MAFI Fest) ke-12, Rabu (6/4). Festival film garapan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta sinematografi Kine Klub Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini diadakan di Theater UMM Dome, Rabu hingga Sabtu (6-9/4). Dalam sambutannya, walikota yang akrab disapa Abah Anton ini menyebut MAFI Fest sebagai ajang bergengsi bagi insan perfilman, sekaligus memperkuat Malang sebagai kota kreatif. “Saya bangga UMM memiliki Kine Klub yang bisa menjadi wadah bagi anak-anak kreatif di bidang perfilman. Ini akan semakin memperkaya dan memperkuat Malang sebagai kota yang kreatif,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir dalam pembukaan tersebut. Kota Malang saat ini memang tengah mengukuhkan diri sebagai Kota Kreatif. Terbukti, dengan dibentuknya Malang Creative Fusion (MCF) dan digelarnya Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) 2016 di Kota Malang beberapa waktu lalu. Abah Anton memaparkan, kreativitas yang muncul tidak lepas dari sinergi dengan akademisi. “Sebagai kota pendidikan yang memiliki kampus, tidak sulit bagi Malang melahirkan insan-insan kreatif,” paparnya. Selain dengan akademisi, lanjut Abah Anton, sinergi juga harus terjalin dengan birokrasi, pebisnis dan juga media massa. Birokrasi dalam hal ini pemerintah, mempunyai kewajiban memberikan wadah bagi insan-insan kreatif. “Perkembangan industri kreatif tentunya akan membantu perekonomian negara ini, sebagaimana yang dilakukan di negara-negara maju,” tuturnya. Oleh karena itu, Abah Anton berharap, Kine Klub UMM dapat terus bersinergi dengan MCF untuk meningkatkan dan mengembangkan kreativitas khususnya di bidang perfilman. “Semoga semakin banyak anak-anak kreatif perfiman Kota Malang yang bisa melanglang buana di tingkat nasional maupun internasional,” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMM, Fauzan, mengatakan UMM sangat mengapresiasi gelaran MAFI Fest. Menurutnya, kegiatan merupakan wujud kreativitas mahasiswa di dunia perfilman. “MAFI Fest merupakan ajang untuk menumbuhkembangkan minat dan bakat serta mencurahkan ide-ide kritisnya dalam bentuk film,” jelasnya. Fauzan menambahkan, alumni dari Kine Klub UMM juga banyak yang menjadi sineas-sineas di perfilman baik tingkat regional maupun nasional. Oleh karenanya, Fauzan berharap gelaran MAFI Fest bisa terus terlaksana setiap tahunnya. Direktur MAFI Fest, M Abdul Chafidz, mengatakan, akan ada 43 film pendek pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia yang akan diputar dalam MAFI Fest kali ini. Ia menambahkan, akan ada empat kategori film yakni film fiksi pendek pelajar, film fiksi pendek mahasiswa, film dokumenter pendek pelajar dan film dokumenter pendek mahasiswa. “Nantinya akan dipilih oleh juri-juri yang berkompeten empat film terbaik dari masing-masing kategori tersebut,” ungkapnya. (gas/zul/han)
MAFI Fest, 12 Tahun Apresiasi Film Pendek Indonesia
FESTIVAL film garapan mahasiswa pertama di Indonesia, Malang Film Festival (MAFI Fest) kembali hadir. Ajang apresiasi film pendek yang digagas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini akan menghadirkan 43 film pendek pelajar dan mahasiswa yang telah terseleksi dari 278 film yang masuk dari seluruh Indonesia. Menurut Direktur MAFI Fest, M Abdul Chafidz, dari festival yang digelar pada 6-9 April ini akan dipilih empat film terbaik dari masing-masing kategori. “Di festival ini kami punya dua macam program, yaitu program kompetisi dan program non kompetisi. Program kompetisi dibagi menjadi empat kategori yaitu film fiksi pendek pelajar, film fiksi pendek mahasiswa, film dokumenter pendek pelajar dan film dokumenter pendek mahasiswa. Sedangkan untuk program non kompetisi, kami memiliki program Klinik Kritik, Kelas Publisis Film, Nawak Ngalam serta program Malang Sinau dokumeter,” ujar mahasiswa Manajemen UMM ini. Dalam program kompetisi, MAFI Fest menghadirkan beberapa juri yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing, seperti Adrian Jonathan, Astu Prasidia, dan Jason Iskandar yang diundang sebagai juri Film Fiksi. “Sedangkan Budi Irawan, Akbar Yumni, dan Taufan Agustyan Prakoso diundang sebagai juri Dokumenter,” ungkap Chafidz. Di program non kompetisi, Malang Sinau Dokumenter menjadi salahsatu program unggulan MAFI Fest. Menurut Chafidz, program berbentu workshop dokumenter ini sebenarnya merupakan program yang masih dipertahankan di festival karena semangat dalam memproduksi film dokumenter di Indonesia, terutama di Malang dirasa masih kurang dibandingkan film Fiksi. “Dalam kemasan Malang Sinau Dokumenter ini, kami mendatangi sekolah-sekolah untuk dapat menerima workshop secara mendalam. Output dari workshop ini adalah pembuatan film dokumenter pendek yang akan di screeningkan di Malang Film Festival,” tambah Yuli, Programer MAFI Fest 2016. Di tahunnya yang ke-12 ini, Chafidz berharap MAFI Fest sebagai festival yang cukup tua di Indonesia akan terus mencoba hadir untuk mengapreasiasi karya film pendek pelajar dan mahasiswa. “Meskipun pemerintah tidak sepenuhnya mensupport secara materi dalam festival ini, semangat keindependensian dalam berfestival akan terus digalakkan,” pungkasnya. (nov/zul/han)