Tenis Kian Diminati, Ditantang Raih Prestasi Nasional

SALAH satu cabang olahraga yang kian diminati mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah tenis lapangan. Terbukti, pada Rector Cup kali ini jumlah pendaftar di cabang ini meningkat tajam. Lebih dari 90 mahasiswa lintas fakultas telah menjadi anggota aktif klub tenis dan siap bertanding memperebutkan trofi piala Rektor UMM 2016. Diharapkan, kesuksesan ajang ini dapat berdampak pada pada prestasi nasional. “Kita sudah punya lapangan tenis berstandar nasional, sudah seharusnya prestasi klub tenis UMM ini juga setingkat nasional,” kata kepala bagian Minat Bakat UMM, Harry Wijaya, pada pembukaan Rector Cup cabang tenis, Sabtu (9/4) di lapangan tenis UMM yang diikuti anggota dan pengurus Klub Tenis Lapangan (KTL). Untuk itu, kata Harry, hanya kerja keras, kekompakan dan semangat latihan yang tinggi yang bisa meningkatkan kemampuan atlit bersaing di level yang lebih tinggi. “Semoga rector cup ini tidak hanya menjadi ajang gengsi antar fakultas, tapi sebagai sarana untuk mencetak atlit-atlit handal yang berprestasi”, ujar Harry. Di cabang ini, ada lima kategori yang dipertandingkan yaitu single putra dan putri, double putra dan putri, serta ganda campuran. Setiap fakultas wajib mengikuti semua kategori dengan menggunakan sistem gugur. Acara ini akan digelar pada pagi pukul 07.00-15.00 dan malam pukul 18.30-22.00 WIB pada tanggal 9-24 April 2016 di dua lapangan yang berjenis flexy milik UMM. Mengawali dan menyemarakkan acara pembukaan, digelar pertandingan eksibisi antara ganda terbaik putra klub tenis dosen-karyawan UMM diwakili Ridlo Setyono dan Ahyar Muslimin melawan ganda terbaik dari mahasiswa, Radit dan Biondi. Pertandingan bak “bapak” vs “anak” tersebut berjalan sangat seru dan menegangkan karena susul-menyusul poin yang sengat ketat sehingga penonton merasa terhibur dan bersemangat mengikuti jalannya pertandingan. Dengan hasil selisih poin yang sangat tipis 8-7 membuat seluruh penonton bersorak ria memberikan selamat kepada kedua tim yang telah mengeluarkan penampilan terbaiknya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pertandingan kategori single putra, double dan ganda campuran yang diikuti oleh perwakilan semua fakultas. “Semoga pertandingan ini berjalan dengan semangat sportivitas dalam meraih prestasi, baik dalam lokal kampus maupun di luar. Selamat bertanding,” kata Harry. (rid/han)
UMM-APPBIPA Perkuat Internasionalisasi Bahasa Indonesia

BERLAKUNYA Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah membuka ruang yang luas bagi tenaga kerja asing berkerja di Indonesia. Jika tidak dijaga, hal itu akan berdampak pada berkurangnya penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Hal tersebut menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam pertemuan nasional Asosiasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (APPBIPA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (9/4). Pertemuan dilakukan untuk memaparkan program kerja sekaligus menyusun kepengurusan APPBIPA Jawa Timur. Hadir pada pertemuan ini Dewan Pembina APPBIPA Pusat, Dr Widodo HS, Kepala APBIPA Pusat, Dr Liliana Muliastuti MPd serta pimpinan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dari perguruan tinggi se-Jawa Timur. Menanggapi persaingan tenaga kerja yang begitu ketat di era MEA, Liliana menegaskan, BIPA akan memperjuangkan agar peraturan menteri ketenagakerjaan tentang tenaga kerja asing harus bisa berbahasa Indonesia diberlakukan kembali. “Peraturan ini penting untuk melindungi bahasa Indonesia dan SDM bangsa kita sebagai tuan rumah,” tegasnya. Untuk itu, kata Liliana, di era globalisasi saat ini peran BIPA dalam mewujudkan internasionalisasi Bahasa Indonesia sangatlah penting. Menurutnya, BIPA merupakan ujung tombak agar bangsa Indonesia khususnya bahasa Indonesia bisa dikenal masyarakat internasional. “Karena ini juga merupakan amanah dari Undang-Undang Dasar,” terangnya. Untuk mewujudkannya, Liliana memaparkan dalam pertemuan kali ini juga akan dibahas mengenai sertifikasi pengajar BIPA. Dengan adanya sertifikasi tersebut nantinya akan ada standarisasi bagi pengajar BIPA. “Ini salah satu yang menjadi pekerjaan rumah kita,” jelasnya. Meski saat ini belum ada sertifikasi bagi pengajar BIPA, Liliana menjelaskan, untuk meningkatkan kualitas para pengajarnya APPBIPA selalu bekerjasama dengan badan bahasa dan perguruan tinggi untuk melakukan pelatihan metodologi pembelajaran bagi pengajar BIPA. “Mereka tetap harus memiliki kompetensi mengajar yang layak,” imbuhnya. Sementara itu, Kepala BIPA UMM, Arif Budi Wuriyanto mengatakan, BIPA UMM selalu mengembangkan program internasionalisasi Bahasa Indonesia. Terbukti dengan dibukanya Indonesian Corner di Thailand dan rencananya di negara ASEAN lainnya. “Harapannya akan ada pengajar bahasa Indonesia yang berasal dari negara tersebut,” kata Arif. Arif menambahkan pembelajaran BIPA harus dikembangkan secara integratif melalui bahasa dan kebudayaan. “Cara ini dapat membantu internasionalisasi universitas sekaligus mendidik mahasiswa untuk belajar tentang Indonesia,” terang Arif yang juga ketua APPBIPA Jawa Timur ini. Program integratif yang dikembangkan antara lain pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa Indonesia untuk tujuan riset, pengetahuan budaya Indonesia, keterampilan menulis riset dalam bahasa Indonesia. Lebih jauh, Widodo HS berharap, anggota APPBIPA mampu mewujudkan internasionalisasi Bahasa Indonesia melalui aksi nyata dan kinerja yang terancang. “Diperlukan kesadaran dan tanggung jawab yang tulus untuk memajukan BIPA, bahasa dan bangsa Indonesia di mata dunia,” pungkasnya. (gas/han)