Kuliah Tamu Dosen UNISA Australia Kaji Kontekstualisasi Bahasa

KEPALA Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris University of South Australia (UniSA), Dr Greg Restall, hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberi kuliah tamu bertajuk ‘Competent Language Use: Teaching the Four Skills in Socio-Cultural Context’ bagi mahasiswa dan dosen Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Kamis (14/4). Menurut Greg, kemampuan berbahasa yang baik harus bisa menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya di lingkungan sekitar. Ia mencontohkan bahasa Inggris yang digunakan di Australia akan disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya di negara tersebut. Begitupun ketika diterapkan di Indonesia, kata Greg, juga harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya di Indonesia. “Bahasa yang digunakan di suatu konteks tertentu akan berbeda maknanya jika diterapkan pada konteks lainnya,” jelasnya. Sebagai pengajar Bahasa Inggris, lanjut Greg, baik dosen maupun guru harus memahami apa yang akan dilakukan dan disampaikan terkait kondisi sosial dan budaya muridnya. “Pemakaian bahasa itu harus dipahami sebagai penuntun antar individu satu dengan individu lainnya, kelompok masyarakat satu dengan masyarakat lainnya,” imbuhnya. Sementara itu, Staf International Relation Office (IRO) UMM, Dr Rinjani Bonavidi MEd mengatakan, sebagai dosen Bahasa Inggris dirinya mengaku mendapatkan pemahaman baru dan juga menguatkan pengalaman yang didapatnya selama dirinya mengajar. Menurutnya, mengajar Bahasa Inggris memang memerlukan kemampuan khusus agar mudah dimengerti dan dipahami mahasiswa. “Mengajar Bahasa Inggris adalah sebuah tantangan, apalagi menghadapi kondisi sosial dan budaya yang berbeda, makanya pembahasan ini jadi sangat penting,” pungkasnya. (has/han)
Kyungdong University Perkuat Kerjasama dengan UMM

REKTOR Kyungdong University (KDU) Korea Selatan, Prof John Lee, kembali mengunjungi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (13/4). Jika sebelumnya Lee datang ke UMM (17/3) untuk partnership meeting terkait kerjasama pengembangan bahasa, kali ini ia bersama tiga rekannya bertemu langsung mahasiswa UMM untuk menjelaskan tentang pelaksanaan program tersebut. Lee mengatakan, saat ini bukan zamannya menjadi pemain tunggal dalam menghadapi kompetisi global. “Sekalipun jarak antar negera tetap berjauhan, namun penyebaran informasi sangat cepat. Ini harus dimanfaatkan untuk saling bertukar ide dan gagasan,” kata Lee di Ruang Sidang Senat UMM. Bagi Lee, Indonesia adalah negara yang memiliki potensi yang luar biasa. Saat ini, KDU tengah membangun kerjasama dengan 21 kampus di Indonesia, di mana 18 di antaranya adalah perguruan tinggi Muhammadiyah. Lee mengaku tertarik dengan cara Muhammadiyah mengembangkan pendidikan di Indonesia. Melalui kemitraan akademik, Lee yakin pihak-pihak yang bekerjasama akan bisa lebih berperan di kancah internasional. Namun, agar kompetitif Lee memberi prasyarat agar mahasiswa memiliki skill dan spesialisasi yang bisa diandalkan. “Anda bisa pergi ke mana saja, bekerja di mana saja, asalkan Anda punya skill dan spesialisasi,” ungkap Lee. Lee juga menyebut masa mahasiswa sebagai golden age, karena pada saat inilah seseorang memiliki motivasi yang tinggi untuk membekali diri. Lee juga menyinggung soal masa kuliah empat tahun yang menurutnya lebih dari cukup untuk menjadi seorang spesialis. “Untuk menjadi spesialis dengan gelar MBA (Master of Business Administration) hanya dibutuhkan waktu satu setengah tahun. Harusnya, mahasiswa yang kuliah empat tahun bisa lebih hebat dari seorang spesialis bergelar MBA,” paparnya. Terkait kerjasama, Lee memberi kesempatan bagi seluruh mahasiswa UMM yang ingin belajar bahasa korea di KDU. Setelah belajar tiga bulan, mahasiswa berkesempatan melanjutkan studi dengan skema joint degree atau bekerja di berbagai sektor industri di Korea, tergantung pada kualifikasi yang dimiliki. “Kuliahnya gratis, mahasiswa hanya menanggung akomodasi dan tiket pulang-pergi,” jelas Lee. Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto, menyebut kerjasama ini sebagai kesempatan bagi mahasiswa UMM untuk meningkatkan kompetensi akademik sekaligus memperluas pergaulan internasional. Terlebih, KDU merupakan kampus dengan employment rate atau penyerapan tenaga kerja tertinggi di Korea Selatan. Selain skema yang dijelaskan Lee, Soeparto menambahkan, UMM-KDU juga bersepakat mengembangkan program kredit transfer. Sistem serupa sebelumnya telah dijalankan UMM dengan Tongren University, Tiongkok. Saat ini, ada 13 mahasiswa UMM yang tengah belajar di Tongren dan 26 mahasiswa Tongren yang sedang belajar di sini. Melalui kredit trasfer, mahasiswa cukup membayar kuliah sesuai dengan biaya di kampusnya masing-masing. (han)