UMM Rujukan Kampus Ramah Lingkungan

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Divisi Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Malang (DIMPA UMM) membentangkan spanduk besar bertuliskan “UMM Green, Clean & Comfortable” di atas Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM. Atraksi ini dilakukan dalam rangka memperingati hari bumi yang jatuh pada hari ini, Sabtu (22/4).       Rektor UMM, Fauzan mengungkapkan, refleksi tersebut memperkuat UMM sebagai kampus ramah lingkungan. Ia menegaskan, dengan gerakan yang dicanangkan sejak 2013, seluruh civitas akademik di UMM berkomitmen untuk berkontribusi nyata dalam pelestarian lingkungan. “Kita bisa mulai dari skala yang kecil, yakni lingkungan kampus,“ kata Fauzan.       Meski begitu, lanjut Fauzan, gerakan ini ia yakini akan semakin besar mengingat UMM adalah kampus rujukan banyak pihak. Selain itu, UMM juga memiliki puluhan ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru nusantara bahkan mancanegara. “Pengalaman gerakan lingkungan di UMM tentu akan menjadi bekal yang dapat ditularkan atau dikembangkan mahasiswa jika kembali ke daerahnya masing-masing,” imbuhnya.       Sementara itu, Ketua DIMPA Trio Yuda mengatakan, momentum peringatan hari bumi harus dijadikan ajang refleksi dan perubahan sikap atau pola hidup sebagai upaya bersama menyelamatkan bumi. “Harus ada tanggung jawab bersama dalam perlindungan dan pengelolaan bumi agar terjaga kelestariannya,” ujarnya.       Lebih lanjut, Yuda mengatakan, DIMPA akan terus berkomitmen menjaga aset bumi yang terus berkurang. “Kami akan terus menggelorakan komitmen pelestarian lingkungan sebagai kebiasaan yang nantinya bisa menjadi gaya hidup,” imbuhnya.       Kegiatan ini juga hasil kolaborasi DIMPA dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM. Kepala PSLK UMM, Husamah memaparkan, pelestarian lingkungan juga dapat dilakukan melalui kegiatan akademik.    Sebagai contoh, kata Husamah, PSLK UMM beberapa waktu lalu menyelenggarakan seminar nasional bertema lingkungan hidup. “Kegiatan ini dihadiri 200 orang pemakalah dari seluruh Indonesia untuk membahas berbagai pemecahan permasalahan lingkungan,” pungkasnya.       Peringatan ini ditandai dengan penandatangan bingkai pesan untuk bumi oleh Fauzan dan manajemen Arema Cronus serta Direktur Radar Malang, Kurniawan Muhammad. (gas/han)

UMM dan Arema Punya Sejarah Tak Terlupakan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar diskusi multidisipliner “UMM Gazebo Forum” yang dikemas santai di Gazebo Perpustakaan UMM, Sabtu (23/4). Diskusi yang mengambil tema “Arema: Identitas Kultural, Bisnis dan Ideologi” ini menghadirkan petinggi Arema Cronus di antaranya Manajer Bisnis, Muhammad Yusrinal Fitriandi, Manajer Media Officer, Sudarmaji dan Manajer International Affair Fuad Ardiansyah. Selain itu hadir dalam diskusi tersebut, Direktur Radar Malang, Kurniawan Muhammad.       Rektor UMM, Fauzan, yang secara langsung meresmikan diskusi perdana ini mengatakan, pengetahuan dan informasi mendalam bisa didapat bukan hanya melalui forum diskusi formal. “Kita bisa memperoleh informasi, bahkan mengurai dan menyelesaikan persoalan melalui forum yang santai seperti ini,” ujarnya.       Ia berharap, diskusi yang dihadiri pejabat struktural, dosen, dan mahasiswa ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh civitas akademik di UMM. Setelah memberikan sambutan, Fauzan kemudian menyematkan pin lambang “UMM Gazebo Forum” pada para pembicara. Pihak Arema pun membalasnya dengan memberikan jersey Arema bernomor punggung satu dengan nama UMM.       Sudarmaji mengungkapkan, Arema memiliki hubungan sejarah yang berkesan dengan UMM. Ia menceritakan saat itu Arema akan menghadapi pertandingan delapan besar dalam sebuah kompetisi di Jakarta namun masih terkendala sponsor. “Di menit-menit akhir, UMM mau menjadi sponsor Arema sehingga kami bisa berangkat ke Jakarta,” ungkapnya.       Ia menjelaskan, saat ini memang sepak bola tidak terlepas dari berbagai kepentingan. Arema yang sudah menjadi identitas Malang bisa dimanfaatkan di sektor sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik. Di bidang sosial, Arema telah menjelma menjadi ikon yang bisa menyatukan berbagai kalangan.       Di sektor budaya, lanjut Darmaji, Arema bahkan sudah tidak bisa dilepaskan dengan kekuatan kultural di Malang. Dampak bisnis, baik dari sepak bola maupun di luar sepak bola pun sangat besar. Di dunia politik, nama besar Arema selalu menjadi topik utama yang diangkat. “Saat kampanye, tagline ‘Salam Satu Jiwa’ selalu dielu-elukan oleh para politisi untuk mendulang suara,” terangnya.       Sementara itu, Kurniawan Muhammad memaparkan, perjalanan Arema menjadi salah satu klub terbesar di Indonesia sangat panjang. Ia melihat klub yang berdiri 11 Agustus 1987 tersebut dari tiga sisi, yakni ideologi, brand dan identitas.       Menurut pria yang akrab disapa Kum ini, Arema lebih dari sekedar klub sepak bola, namun telah dijadikan sebuah pandangan hidup. “Jadi apapun yang dilakukan masyarakat Malang pasti tidak terlepas dari Arema,” paparnya.       Dari ideologi tersebut, lanjut Kum, lahir identitas yang sangat kuat sehingga muncul loyalitas suporter yang luar biasa. “Jadi Arema adalah sebuah brand yang ikonik, bisa dijual dan pemasarannya akan luar biasa, makanya Arema tidak akan sulit mencari sponsor besar,” pungkasnya. Kegiatan “UMM Gazebo Forum” ini rencananya akan diselenggarakan rutin setiap bulan dengan mengangkat topik yang berbeda. (gas/han)