Bahasa Inggris UMJ Berguru Program Mentoring ke UMM

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Sabtu (14/5). Kunjungan UMJ ini terkait studi banding mengenai program mentoring yang telah dilakukan Prodi Bahasa Inggris UMM. Rombongan UMJ terdiri dari anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan dosen UMJ, diterima langsung oleh Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM, Dr. Sudiran M.Hum di Aula FKIP, Gedung Kuliah Bersama (GKB) I. Dosen pendidikan Bahasa Inggris UMJ, Mutiarani, M.Pd mengatakan prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM memiliki banyak sekali program inspiratif yang mendorong mahasiswanya untuk mengembangkan kemampuan mengajar dan berbahasa inggris salah satunya adalah program mentoring. “Makanya kami ke sini untuk mengetahui bagaimana program itu dijalankan dan apakah bisa kami terapkan di prodi kami,” paparnya. Sudiran menjelaskan, program mentoring merupakan program pembelajaran khusus diluar kurikulum yang wajib diikut oleh mahasiswa semester satu dan dua. “Program mentoring ini untuk mendorong dan memotivasi kemampuan dasar serta meningkatkan kemampuan berbahasa inggris para mahasiswa di semester awal dengan cara yang menyenangkan,” jelasnya. Selain itu, lanjut Sudiran mentoring juga berfungsi untuk mempererat jalinan antara mahasiswa senior dan junior. “Karena yang bertugas untuk memberikan pembelajaran adalah mahasiswa tingkat akhir yang duduk di semester enam atau delapan,” imbuhnya. Sudiran menambahkan, mahasiswa yang telah lulus program mentoring ini akan mendapatkan sertifikat yang bisa menambahkan nilai keaktifan mereka selama berkuliah di UMM. “Sertifikat sebagai bukti nilai yang bisa dimasukkan ke surat keterangan pendamping ijazah (SKPI) dan sebagai prasyarat untuk bisa mengikuti beberapa kegiatan seperti ujian skripsi,” pungkasnya. (gas/han)

UMM Jajaki Kerjasama Riset dengan ACER Australia

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) tengah menjajaki kerjasama penelitian dengan Australian Council for Educational Research (ACER). Hal itu terungkap dalam seminar mengenai pendidikan kewarganegaraan di era globalisasi yang digelar oleh International Relations Office (IRO) UMM, Jumat (13/5). Hadir sebagai pembicara, Dr. Rachel Parker mewakili ACER dan dosen Fakultas Hukum UMM, Cekli Setya Pratiwi, SH, LL.M. Kepala Divisi Australia-New Zealand IRO UMM, Rinjani Bonavidi, M.Ed, Ph.D mengatakan, perihal kerjasama telah koordinasikan dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM untuk ditindaklanjuti. Terkait seminar, Rinjani menjelaskan, kegiatan ini dihadiri dosen-dosen prodi pendidikan bahasa Inggris untuk memberikan pemahaman bahwa pendidikan kewarganegaraan bisa disampaikan melalui berbagai bidang pendidikan. “Makanya perlu adanya implementasi di setiap pembelajaran tentang pendidikan kewarganegaraan ini,” jelasnya. Sementara itu, Rachel dalam pemaparannya menerangkan dengan pendidikan kewarganegaaran global menciptakan kedamaian global. “Antar negara akan saling menghargai keanekaragaman, mengerti bagaimana seharusnya dunia bekerja, menjadikan dunia ini menjadi tempat yang adil dan aman,” jelasnya. Berdasarkan penelitian yang telah Rachel lakukan. Menurutnya, ada tiga pendidikan kewarganegaraan yang harus dipahami yakni ilmu pengetahuan, sikap dan nilai serta tingkah laku dan kemampuan. “Harus adanya sinergitas antara konten dan konsep pembelajarannya,” terangnya. Sementara, Cekli mengatakan di era globalisasi saat ini semua aspek pendidikan kewarganegaraan itu penting untuk diterapkan secara cerdas dan baik untuk memberdayakan diri sendiri serta mampu menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi. Hal ini untuk melahirkan suatu gagasan kreatif yang menentukan sikap seseorang dalam mengambil keputusan dan bertindak di lingkungan sekitarnya. “Era globalisasi ini melahirkan banyak sekali permasalahan, mulai dari politik, sosial, keamanan, lingkungan dan ekonimi. Pendidikan kewarganegaraan akan menuntun masyarakat untuk berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menghadapi era globalisasi kemudian ikut berpartisipasi serta bertanggungjawab dalam bertindak di setiap kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan global,” pungkasnya. (gas/han)