UMM Buka China Corner

KEMITRAAN antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Confucius Institute Tiongkok semakin kuat dengan didirikannya China Corner. Tempat yang berfungsi sebagai pusat informasi budaya, bahasa, dan pendidikan Tiongkok ini diresmikan oleh Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto dan perwakilan dari Confucius Institute, Rabu (18/5). Pembukaan China Corner ini, menurut Soeparto sangat penting karena Tiongkok diperkirakan akan menggantikan dominasi Amerika dan Eropa dalam pergaulan global. “Kita lihat sendiri bahwa Tiongkok sudah mulai memperlihatkan tajinya. Maka, sangat penting jika UMM mendekati mereka melalui budaya, bahasa, dan pendidikannya,” ujar Soeparto. Di dalam China Corner yang terletak di lantai 3 Perpustakaan Pusat UMM, ada tiga hal penting yang disajikan, yakni pembelajaran bahasa mandarin, budaya, dan informasi pendidikan di Tiongkok. Untuk pembelajaran bahasa mandarin, tambah Soeparto, terbuka untuk mahasiswa dan dosen. “Dalam pembelajaran ini, bagi mahasiswa yang sudah mencapai level 2 akan punya peluang mendapatkan summer course ke Tiongkok,” katanya. Sedangkan untuk informasi budaya dan pendidikan di Tiongkok, berbagai informasi tersebut tersedia secara lengkap di China Corner. “Baik mahasiswa maupun dosen bisa mempelajari budaya Tiongkok itu seperti apa, dan tentunya bagi yang berminat summer course ataupun mencari beasiswa di Tiongkok, di China Corner akan difasilitasi pencarian informasinya,” tandas Soeparto. Setelah China Corner didirikan di UMM, Soeparto berharap ke depan Indonesian Corner segera akan didirikan di Tiongkok. “Kami masih mencari perguruan tinggi yang bisa kami dirikan Indonesian Corner di sana,” pungkasnya. Pembukaan China Corner melengkapi corner-corner yang sudah berdiri sebelumnya di UMM, yakni American Corner dan Saudi Arabian Corner. Direncanakan, pada 24 Mei mendatang UMM juga akan membuka Thailand Corner di lokasi yang sama. (zul/han)

Dosen dan Alumni UMM Diminta Manfaatkan Beasiswa LPDP

WAKIL Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Syamsul Arifin MSi mengajak segenap civitas akademika UMM untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu peluang beasiswa yang bisa dimanfaatkan, kata Syamsul, yaitu beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). “Ada banyak dana untuk memanfaatkan peluang pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga ke luar negeri. Manfaatkan betul LPDP”, papar Syamsul ketika menyambut kegiatan “Scholarship Show” Presentasi Beasiswa LPDP yang diadakan oleh International Relations Office (IRO) UMM dan LPDP RI, Kamis (19/5). Direktur Dana Kegiatan Pendidikan Kementrian RI Dr Abdul Kahar MPd yang hadir dalam kegiatan ini mengatakan, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah kesenjangan SDM terdidik, sehinga Indonesia harus menyiapkan ratusan juta tenaga terampil pendidik. “Indonesia memiliki potensi sumberdaya manusia yang luar biasa, namun kita harus menyiapkan tenaga pendidik sejumlah 113 pendidik,” kata Abdul Kahar. Beasiswa LPDP, jelas Kahar, adalah program beasiswa yang dibiayai oleh pemerintah melalui pemanfaatan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) yang dikelola oleh LPDP dan Kementrian Keuangan RI. LPDP tidak boleh disamakan dengan lembaga beasiswa yang berbasis pendidikan. LPDP memiliki komponen yang begitu lengkap dari berbagai aspek, salah satunya yaitu aspek regulasi keuangan. Lebih lanjut, Kahar mengatakan, LPDP menyediakan beasiswa melalui program tersebut yaitu, beasiswa magister dan doktor, beasiswa tesis dan disertasi, beasiswa afirmasi, beasiswa pendidikan dokter spesialis dan presidential scholarship. Salah satu keunggulan beasiswa LPDP adalah pendaftarannya dibuka sepanjang tahun yang terbagi dalam beberapa peridode. Periode  di 2016 ini pada bulan Februari,  Mei, Agustus, dan November. Jika ingin mendaftar dan mendapatkan beasiswa LPDP persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain; (1) WNI dengan batas usia program magister 35 tahun dan program doktor 40 tahun, (2) Telah memperoleh Letter of Acceptance (LoA) unconditional atau memiliki Batas IPK Minimal pada jenjang studi sebelumnya, dan kemampuan bahasa, (3) Mempunyai karakter kepemimpinan, nasionalisme, profesionalisme dan integritas, (4) Memperoleh surat rekomendasi dari tokoh masyarakat, memperoleh surat SKCK dan SKS dari RS Pemerintah. Juga bisa daftar online melalui www.lpdp.kemenkeu.go.id. (roh/han)

DIMPA Juara 2 Lomba Lintas Medan Nasional

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (Dimpa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengharumkan nama kampus. Dalam Lomba Lintas Medan di Semarang, tiga mahasiswi UMM anggota DIMPA berhasil menyabet juara dua untuk kategori mahasisiwi. Keberhasilan ini terbilang hebat, mengingat mereka harus berhadapan dengan sejumlah pesaing yang beberapa di antaranya merupakan atlet profesional. Ketiga mahasiswi tersebut yakni Anis Jatnika, Melia Regina, dan Siti Aisah. Mereka adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM. Anis dan Aisah bercerita, dalam perlombaan itu mereka harus bersaing dengan 10 tim dari berbagai daerah yang berbeda, di antaranya Jakarta, Jogja, Bandung, dan Salatiga. “Perlombaan ini ada empat kategori, yang pertama kategori mahasiswa putra, kedua kategori umum putra, ketiga kategori mahasiswa putri, dan keempat kategori umum putri,” kata Aisah. Medan yang dilintasi dalam perlombaan itu juga beragam. Mereka harus menyusuri jalan raya, perbukitan, hingga masuk ke dalam perumahan warga. Selain medan yang beragam, mereka juga harus melawan cuaca panas yang katanya lebih panas dari Surabaya. “Yang paling berat saat menyusuri bukit, karena medannya naik turun dan cukup sulit untuk dilewati,” ujar Anis. Total, mereka harus berlari sejauh 20 kilometer. Sebelum menuju perlombaan yang diadakan 14-15 Mei lalu, ketiganya berlatih terlebih dahulu seminggu sebelum keberangkatan. “Kami tiap hari hampir berlatih berlari dari kampus sampai Batu, bahkan sampai Coban Putri. Latihannya kami upayakan semirip mungkin medannya dengan perlombaan nanti,” tutur Anis. Berkat latihan yang keras itu, ketiganya berhasil mengharumkan nama baik UMM dengan meraih juara kedua. Mereka juga berhak membawa piala dan dana pendidikan. “Dari berbagai saingan yang kami hadapi, kontingen dari Salatiga adalah yang paling berat karena kami dengar kampusnya sudah banyak melahirkan atlet-atlet. Mereka pulalah yang menjadi juara pertama dan ketiga,” tambah Aisah. Raihan ini merupakan yang pertama kalinya setelah sekian lama Dimpa di berbagai perlombaan hanya sukses sampai di tahap sepuluh besar. Baik Anis maupun Aisah berpesan kepada sesama mahasiswa agar jangan takut untuk memulai mengikuti berbagai perlombaan. “Semoga dengan ini dapat memotivasi teman-teman yang lain untuk mulai menjadi mahasiswa yang berprestasi,” pungkas mereka. Lomba Lintas Medan merupakan even yang diadakan Mapala Universitas Semarang (USM) dalam rangka Hari Jadi ke 469 Kota Semarang. Kini, mereka tengah menatap mengikuti lomba-lomba berikutnya. Yang terdekat, Dimpa akan mengikuti Lomba Kebut Gunung di Gunung Merbabu, 6-7 Agustus mendatang. (zul/han)