BEM UMM Persoalkan RUU Tax Amnesty

RANCANGAN Undang-Undang (RUU) Tax Amnesty yang akan diparipurnakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dalam waktu dekat menimbulkan kegelisahan dari mahasiswa. Melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mereka mempersoalkan seberapa efektifkah RUU Tax Amnesty ini dalam Konferensi BEM se-Jawa Timur. Dalam acara yang digelar di Theater UMM Dome, Selasa (31/5), hadir sebagai pemateri, Pengamat Hukum Pidana yang juga Wakil Rektor III UMM, Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum. dan Dosen Perpajakan Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Dra.Eny Suprapti, Ak., M.M., CA. Dalam pemaparannya, Sidik mengungkap jika kebijakan Tax Amnesty bertentangan dengan prinsip keadilan dan kemanfaatan. Ia menyebut, seorang yang tidak membayar pajak tidak sepatutnya mendapatkan ampunan dari negara. “Kalau di Jepang, pejabat negara yang tidak membayar pajak itu akan memiskinkan dirinya sendiri. Malu dia kalau tidak bayar pajak, karena itu sama dengan korupsi,” tegas dosen Fakultas Hukum ini. Sidik mengungkap, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia saat ini mencapai 2.200 T, sedangkan hutang negara ini sendiri mencapai 3.200 T. Terjadi defisit anggaran sekitar 1.000 T. “Seandainya para pengemplang pajak itu membayar pajaknya secara jujur, mungkin defisit anggaran ini bisa tertutupi,” ujarnya. Sementara, Ketua Pelaksana konferensi ini, Riyanda Barmawi menyebut, banyak sekali pejabat negara yang dalam melaporkan kekayaannya tidak jujur. “Misalnya dalam LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) mereka mencantumkan kekayaan yang mereka simpan hanya 300 Juta. Padahal, ada miliaran rupiah yang sebenarnya ia simpan di bank-bank luar negeri yang tidak terdeteksi di dalam negeri,” ungkap mahasiswa Ilmu Pemerintahan ini. Selain itu, DPR, menurut Riyanda dalam menyusun RUU ini berdasarkan logika materiil semata, bukan logika hukum yang benar. “Ini yang ingin kami luruskan, bahwa RUU ini masih butuh banyak pertimbangan sebelum benar-benar disahkan dalam paripurna nanti,” katanya. Hasil konferensi dan diskusi yang diadakan ini, lanjut Riyanda, akan dibawa ke Komisi XI DPR-RI dan kemudian pihak BEM akan melakukan dengar pendapat dengan anggota Komisi XI DPR-RI. “Kami berharap pemerintah mau mempertimbangkan kembali RUU Tax Amnesty ini untuk menyelamatkan bangsa ini dari para pengemplang pajak,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri BEM UMM ini. (zul/han)
UMM Kenalkan Kuliner 21 Negara Pada Warga Malang

RATUSAN mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari 21 negara ramaikan International Culinary Festival yang berlangsung di Simpang Balapan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (28/5) malam. Para mahasiswa tersebut menjajakan kuliner khas negara mereka pada ribuan warga Malang yang memadati festival hasil kerja bareng UMM dan Pemerintah Kota Malang ini. Diiringi penampilan perkusi dan lomba tabuh patrol, tak ayal pengunjung yang datang antusias mengantre untuk masuk ke area festival. Sebanyak 1050 kupon yang disediakan panitia ludes diserbu pengunjung. Banyak di antaranya bahkan tak kebagian kupon, namun tetap menikmati kegiatan ini dengan berbaur, berinteraksi dengan mahasiswa asing. “Kami menyiapkan 1050 kupon gratis. Baik mahasiswa UMM maupun masyarakat umum bisa melakukan registrasi dan mendapatkan kupon yang bertuliskan nama salah satu negara peserta festival. Pengunjung bisa mendatangi negara yang tertulis di kupon dan mencicipi makanan khasnya,” urai Nimas Ratnasari, staf International Relations Office (IRO) UMM yang juga ketua pelaksana festival ini. Nimas mengungkapkan, ide kegiatan ini berawal dari keinginan untuk menggerakkan internasionalisasi di dalam kampus dalam bentuk yang berbeda. Menurutnya, sudah banyak kegiatan yang dikemas dalam bentuk seminar internasional dan kurang menarik perhatian. Lantas, terpikirlah ide untuk membuat sesuatu yang berbeda, yakni melalui festival kuliner. Awalnya, sasaran kegiatan ditujukan pada mahasiswa UMM saja, tapi setelah digodok lagi, mengenalkan budaya internasional pada masyarakat Malang dinilai lebih seru. “Kami akhirnya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Malang , dan responnya sangat positif. Dari sini, masyarakat tak hanya bisa have fun, tapi juga tahu dan mengenal keunikan kuliner dari negara lain. Bisa belajar ngobrol juga,” beber Nimas perihal tujuan diadakannya festival kuliner ini. Nimas berharap, kegiatan ini bisa menjadi wadah bagi mahasiswa asing untuk mengenalkan budaya internasional di Indonesia, juga sarana mengenal dan belajar budaya lain bagi masyarakat Indonesia. Olenka, salah satu mahasiswa UMM asal Ukraina yang ditemui di stan miliknya menyajikan makanan khas Ukraina, yakni Deruny. Deruny adalah parutan kentang yang dicampur dengan tepung, telur, dan garam lalu digoreng dan dimakan dengan topping sesuai selera. “Bisa dengan saus, mayonnaise, jamur, ayam, atau keju,” ulas Olenka dengan bahasa Indonesia yang masih terpatah-patah. Deruny merupakan makanan tradisional Ukraina yang biasa dinikmati dengan seduhan teh hangat. Meski begitu, Deruny bukan makanan yang biasa dimakan sehari-hari oleh masyarakat Ukraina. Olenka mengatakan respon masyarakat sangat bagus terhadap kegiatan ini karena mereka bisa mencoba banyak makanan dari beragam negara. Berbeda dengan Ukraina, di stan kuliner Sudan, salah satu makanan khas yang dihidangkan bernama Lugmat Elgaadi. “Ini adalah sejenis makanan ringan terbuat dari tepung, air, dan pengembang, yang digoreng dan dihidangkan dengan taburan kelapa parut manis dan disajikan dengan teh manis. Lugmat Elgaadi biasanya dimakan di sore hari,” terang Muhammad Fauzi, mahasiswa Sudan yang kuliah di Teknik Sipil UMM angkatan 2015. (ich/han)
PSLK UMM Gandeng KEI Kembangkan Pulau Terpencil

PUSAT Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Kangean Energy Indonesia (KEI) dalam penyelenggaraan penelitian dan pengabdian masyarakat di kepulauan terpencil di Jawa Timur. Penandatanganan kerjasama dilakukan bersamaan dengan digelarnya kajian interdisipliner di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM, Selasa (31/5). Kepala PSLK UMM, Husamah, S.Pd.,M.Pd mengatakan kerjasama ini terjalin untuk mengimplementasikan misi PSLK UMM untuk pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat. Salah satu kerjasama yang akan dilakukan, lanjut Usamah, adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Sapeken, Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep. Usamah menjelaskan mayoritas penduduk Sapeken yang bermata pencaharian nelayan tangkap masih berkutat pada masalah kemiskinan. Padahal Sapeken memiliki potensi perikanan yang besar seperti budidaya rumput laut. “Sayangnya, masih rendahnya pendidikan dan pengetahuan masyarakat, serta minimnya pendampingan menyebabkan potensi yang ada tidak teroptimalkan dan bahkan terjadi kerusakan sumberdaya akibat salah pengelolaan,” terang pria asli Pulau Sapeken ini. Oleh karenanya, dengan kerjasama ini Usamah menjelaskan ada beberapa permasalaha pokok yang menjadi prioritas penanganan di dua desa di Sapeken yakni Desa Pagerungan Kecil dan Desa Sadulang Besar. Kedua desa ini juga merupakan sasaran program CSR KEI . “Kami berikan peningkatan pengetahuan dan keterampilan nelayan Sapeken dalam membudidayakan hasil laut sehingga hasil panennya bisa meningkat, pendapatan meningkat,” paparnya. Sementara itu Vice Presiden Public Relation and General Affair KEI, Is Nugroho memaparkan mengaku senang dengan kerjasama yang terjalin dengan UMM. Menurutnya, UMM adalah salah satu kampus yang terpercaya dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat. “UMM adalah PTS terbaik di Jawa Timur bahkan Indonesia yang memiliki keunggulan serta komitmen tinggi dalam penelitian dan pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Is Nugroho. Is Nugroho memaparkan berbagai pelatihan dan contoh konkrit telah dilakukan KEI dalam mengembangkan masyarakat selama berpuluh-puluh tahun. Dampaknya pun, lanjut Is telah dirasakan begitu besar oleh masyarakat. “Kami melakukan program pengembangan di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, perikanan, ekonomi dan bidang lainnya,” imbuhya. Selain dengan KEI, Dalam acara tersebut PSLK dan Prodi Biologi UMM juga menandatangani kerjasama dengan Kaliandra Sejati Foundation. Hadir Kerjasama ini ditargetkan meliputi penerapan tri dharma perguruan tinggi serta implementasi good governance. Sebelumnya PSLK UMM telah menjalin kemitraan dengan PSLH Universitas Indonesia, LIPI Purwodadi, dan Pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL). Kedepan, PSLK UMM akan melakukan implementasi MoU dalam pengembangan masyarakat, advokasi lingkungan, konservasi, dan pendidikan lingkungan berbasis kampus. (gas/nas)
Prestasi UMM Kebanggaan Mahasiswa dan Alumni

UNTUK kesembilan kalinya, UMM mempertahankan predikatnya sebagai kampus terunggul di Kopertis VII Jawa Timur. Rektor UMM, Fauzan, menerima piala Anugerah Kampus Unggul (AKU) dari koordinator Kopertis VII, Prof Suprapto, disela-sela acara Rakerpim Perguruan Tinggi di hotel JW Marriot Surabaya, Kamis (26/5). Penyerahan secara simbolik piala AKU dilakukan di depan prosesi wisuda ke-80 periode II tahun 2016, hari ini (28/5) di UMM Dome. UMM dinilai sebagai kampus kategori universitas yang berhasil mempertahankan keunggulan-keunggulan dalam empat bidang. Yakni, pendidikan dan kerjasama; pendidik dan tenaga kependidikan, penelitian dan pengabdian; serta pengajaran dan pembinaan kemahasiswaan. UMM mengungguli Universitas Petra Surabaya dan Universitas Surabaya, yang masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga. Menurut koordinator Kopertis VII, Prof. Soeprapto, kampus swasta harus mampu menunjukkan kualitasnya setelah meraih peringkat secara kuantitatif melebihi kampus negeri. “Saat ini sudah banyak kampus swasta yang lebih unggul dari kampus negeri, termasuk UMM ini,” tuturnya. Prestasi UMM membuat mahasiswa dan alumni ikut bangga. Rohana, mahasiswa asal Kepanjen Malang, mengaku sejak sebelum menjadi mahasiswa sering mendengar perolehan prestasi UMM. “Ternyata bertahan sampai saat ini, alhamdulillah. Selamat ya pak rektor,” kata mahasiswa Komunikasi ini. Hal senada diungkapkan M. Zulfikar Akbar asal Bontang Kalimantan Timur. Lulusan yang ikut diwisuda ini menjadikan prestasi UMM sebagai alat ukur memasuki dunia kerja. “Siapa sih yang tak kenal UMM. Alhamdulillah saya dan teman-teman dulu juga menyumbangkan prestasi prestasi loh,” katanya. Zulfikar pernah meraih Juara I lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional di Universitas Indonesia. Selain kampusnya meraih piala AKU, mahasiswa UMM juga sedang panen prestasi. Tim mahasiswa Fakultas Hukum memenangkan kompetisi Debat Konstitusi Nasional di dua tempat sekaligus, yaitu di Universitas Muhammadiyah Yogjakarta dan Universitas Mataram. Sedangkan UKM pecinta alam Dimpa dalam lomba lintas medan di Semarang. Rektor UMM mengaku pencapaian ini sebagai landasan untuk bekerja lebih keras. Pihaknya tak mau terjebak pada indikator administratif sehingga menurunkan produktivitas. “Tidak ada pilihan selain memacu kualitas dan luaran-luaran yang dapat dirasakan masyarakat luas. Intinya hilirisasi menjadi pilihan mutlak bagi kita saat ini,” tegas Fauzan. (nas)
Doktor Pertama PAI UMM Ini Asli Singapura dan Lulus Tercepat
BAGI Nek Mah Binti Batry, studi Doktoral di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah masa yang paling berkesan dalam hidupnya. Bagaimana tidak, wanita asli Singapura ini sempat hampir berhenti di tengah jalan jika saja sang suami, Abu Bakar, tidak menguatkan mentalnya. Justru dengan spirit dari suaminya itulah Nek Mah menyelesaikan Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan masa studi paling cepat, yakni 2,8 tahun. Tak hanya itu, ia juga merupakan lulusan pertama dari Program Doktoral PAI UMM sejak didirikan tiga tahun lalu. “Ketika di pertengahan kuliah S3, ada keinginan untuk berhenti kuliah. Tetapi suami mengatakan begini…lakukan yang terbaik, demi Allah pada saat manusia memerlukan seorang Ustadzah yang dapat membuka pikiran masyarakat mencari kesamaan bukan mencari kesalahan,” kata Nek Mah mengenang masa kuliahnya. Nek Mah menjadi salah seorang dari wisudawan yang dikukuhkan rektor UMM, Fauzan, Sabtu (28/5). Dalam wisuda ini, UMM melepas 1.337 wisudawan yang terdiri dari lulusan Program Diploma III, Sarjana Strata 1, Strata 2 dan Strata 3. “Alhamdulillah, demi agama, bangsa dan negara, dengan menjadi wisudawati pertama di Fakultas Pendidikan Agama Islam di UMM saya dengan rasa senang telah menyatukan UMM dengan negara Singapura. Malahan di Singapura saya merupakan Ustadzah pertama dengan gelar Doktor Pendidikan Agama Islam,” ungkap Nek Mah bangga. Sosok Nek Mah tak asing lagi bagi warga kampus I UMM yang menjadi pusat perkuliahan pascasarjana. Sebab sejak lima tahun terakhir, ia memang menempuh studi di kampus itu. Lulusan S1 di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor Malaysia ini melanjutkan studi Magister Ilmu Agama Islam UMM. Tak lama setelah itu ia langsung mendaftar di S3 PAI di kampus yang sama sebagai mahasiswa pertama. Tak hanya gelar Doktor dari UMM, Nek Mah ternyata juga sedang menempuh PhD di UTM. “Insya Allah Juni akan selesai di Fakulti Fiqh dan Sains Teknologi,” aku Nek Mah yang juga pengurus pendidikan di Madrasah aLIVE dan An-Nahdhah Mosque Singapura ini. Ia juga merupakan Dosen di Pusat Pendidikan Tinggi Al Zuhri untuk Mahasiswa Diploma dan S1 Fakulti Pendidikan Islam, serta Psikologi dan Kaunseling Islam. Nek Mah berharap bisa membawa Prodi PAI UMM ini ke Singapura dalam jalinan kerjasama dengan lembaganya. “Karena ini merupakan satu program yang multikural yakni bukan saja di bidang agama tetapi melingkupi psikologi, sosial, budaya, ekonomi dan fenomena kontemporer. Melalui program PAI saya fikir lebih murni di dalam memahami konteks sebagai khalifah. Semoga UMM terus maju…Aamiin.” ungkapnya dalam bahasa Melayu yang khas. Ketua Program Studi Doktoral PAI UMM, Prof. Dr. Tobroni, MSi, menerangkan Prodi Doktor PAI UMM merupakan yang tertua di Malang dan bahkan Indonesia. Pihaknya ikut bangga karena telah melahirkan doktor dengan lulusan tercepat. Prodi ini, katanya, memiliki beberapa mahasiswa asing. Selain dari Singapura, ia juga punya mahasiswa dari Filipina, Thailand, Australia, Saudi Arabiyah, Australia dan Korea Selatan. “Sistem pendidikan di prodi ini kita buat kuliah teori berbasis riset dan fokus pada penulisan disertasi pada semester 1 dan 2. Seminar dan klinik penulisan proposal pada semester 3. Akhir semester 3 ujian pra proposal. Ujian proposal awal semester 4. Seminar hasil penelitian dan ujian tertutup semester 5 dan semester 6 ujian terbuka,” terang Tobroni yang juga pengurus Majlis Dikti Litbang PP Muhammadiyah ini. Selain itu, tambah Tobroni, PAI UMM juga memfasilitasi mahasiswa presentasi pada forum ilmiah internasional dalam wadah Assosiation Muslim Community in ASEAN (AMCA) dan penulisan jurnal internasional. (nas)