Paduan Suara Fikes UMM Pukau Peserta Musda DPD PPNI

Paduan suara mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ikut menyemarakkan acara Musyawarah Daerah Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Malang yang diselenggrakan di Hotel Atriya Gajayana Malang, Sabtu (4/6). Mereka berhasil tampil memukau dihadapan para peserta yang hadir pada agenda tersebut. Dekan Fikes UMM, Yoyok Bekti Prasetyo, S.Kep.,M.Kep, Sp.Kom mengatakan ini tampilnya tim paduan suara Fikes di agenda ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Penampilan mereka, lanjut Yoyok mendapat respon yang sangat baik dari sekitar 300 perwakilan komisariat peserta yang menghadiri agenda ini. “Tim mahasiswa ini membawa suasana sangat kidmat dengan kerancakan suaranya, para peserta pun terkesima dengan penampilan mereka,” paparnya Paduan suara Fikes UMM ini membawakan lagu Mars PPNI yang merupakan lagu nasional perawat Indonesia. Selain itu sebagai penutup acara tim ini mempersembahkan lagu Believe Miracle. Yoyok menambahkan, Apresisi juga diberikan oleh Ketua DPW PPNI Provinsi Jatim, Prof. Dr. Nursalam, M.Kes (Horns)dengan meminta tim paduan suara naik ke podium untuk mendapatkan beberapa buku keperawatan. ”Buku ini adalah buku uji kompetensi keperawatan yangg beliau tulis bersama tim dan diterbitkan oleh penerbit internasional Elsevier book di Asia berkantor di Singapura, jadi ini apresiasi yang sangat berharga,” imbuh Yoyok. Salah satu anggota tim paduan suara mengatakan adalah suatu kebanggan bisa tampil diihadapan peserta yang merupakan orang-orang penting. “Tentu saja hal ini adalah hal yangg tidak terduga oleh kami dan kami sangat bangga dapat memeriahkan acara Munas DPD PPNI kota Malang yang sangat sakral ini,” ungkapnya. Selain itu penampilannya ini lanjutnya, membuatnya semakin bangga menjadi mahasiswa Fikes UMM dan memilih profesi sebagai perawat. “Apalagi tema munas kali ini adalah perawat sebagai sumber kekuatan meningkatkan sistem pelayanan kesehatan bagi masyarakat kota Malang,” ujarnya Musda merupakan agenda lima tahunan untuk profesi perawat untuk memilih ketua dan pengurus PPNI Kota Malang. Selain dihadiri Ketua DPW (Dewan Pengurus Wilayah) PPNI Provinsi Jatim, hadir pula Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang DR. dr. Asih Tri Rachmi Nuswantari, MM. Pada Musda salah satu dosen keperawatan FIKES UMM yakni Ririn Harini, M.Kep terpilih sebagai pengurus periode 2016 – 2021 DPD PPNI Kota Malang pada Divisi Kesejahteraan. (Gas/Nas)
Sambut Ramadhan, UMM Gelar Kajian Islam Berkemajuan

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kajian Islam menjelang datangnya Bulan Ramadhan 1437 H yang jatuh pada Senin (6/6) mendatang. Kajian yang diselenggarakan di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (4/6) mengambil tema “Dakwah Muhammadiyah Menuju Islam Berkemajuan”. Hadir sebagai narasumber pada kajian yang diikuti oleh pejabat struktural se-UMM ini, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S.,M.Kes. Kajian dibuka Wakil Rektor (Warek) I UMM, Prof. Dr. Syamsul Ariffin, M.Si. Dalam sambutannya, Syamsul mengatakan, UMM sebagai bagian dari persyarikatan Muhammadiyah memiliki komitmen dan semangat untuk mengembangkan keilmuan lewat Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). AIK ini, ia menjelaskan memang sudah menjadi ciri khas di semua Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia. ” Ke depan UMM akan mengintegrasikan AIK sebagai suatu nilai muatan pada mata kuliah umum lainnya, sehingga AIK bisa jadi nilai yg hidup dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Sementara itu, dalam ceramahnya Agus menyampaikan, UMM sebagai salah satu kekuatan yang dimiliki Muhammadiyah khususnya di bidang pendidikan harus bisa melakukan langkah konkrit dakwah bersama komponen masyarakat dan persyakrikatan lainnya. “UMM harus bisa merangkul masyarakat sekitar yang tujuannya membawa Muhammadiyah menuju Islam berkemajuan,” terangnya. Kemudian, Agus memberikan pemahaman mengenai konsep yang disampaikan tokoh Muhammadiyah AR Fachruddin tentang Islam berkemajuan. Ia menjelaskan Muhammadiyah merupakan Islam yang maju dan unggul, membanggakan serta ‘nyah-nyoh’. “Maksudnya nyah nyoh itu Muhammadiyah itu harus bisa memberi dan menolong kepada umat, dan ini yang harus menjadi spirit ajaran Muhammadiyah,” terangnya. Agus pun memaparkan lima fondasi konsep Islam berkemajuan yang harus dikuatkan oleh Muhamadiyah. Pertama memiliki tauhid yang murni. Kedua, memahami Al-Quran dan Sunnah secara mendalam. “Ketiga, Muhammadiyah harus melembagakan amal shalih yang fungsional dan solutif,” paparnya. Keempat, berorientasi kekinian dan masa depan dan terakhir Islam harus bersikap toleran moderat dan saling bekerjasama. “yang terpenting, di era perubahan yang begitu cepat, Islam harus mampu menyesuaikan dengan perubahan itu,”pungkasnya. Selain dengan pejabat struktural, kajian juga dilakukan di Masjid AR Fakhruddin UMM usai Solat Zuhur berjamaah bersama seluruh dosen dan karyawan. Selama Bulan Ramadhan, UMM akan tetap melakukan syiar dengan melakukan berbagai kegiatan diantaranya kajian untuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada 11-12 Juni mendatang di UMM Dome. Kemudian pada 20 Juni akan ada Halaqah Ramadhan yang diselenggrakan di Masjid AR Fachrudin. Dilanjutkan dengan dialog Ramadhan bagi pimpinan, dosen dan karyawan antar fakultas dan unit yang akan diselenggarakan pada 20-25 Juni. Gebyar Apresiasi Seni yang diselenggrakan pada 17-18 Juni di Helipad UMM juga akan menyemarakan Bulan Ramadhan. Tak ketinggalan UMM juga akan mengadakan kegiatan bakti sosial dan pelayanan kesehatan kepada warga Desa Ngajum, Kabupaten Malang pada 18 Juni mendatang. Pekan I’tikaf pada 25 Juni dan puncaknya adalah penyelenggraan Shalat Idul Fitri di Helipad Kampus II dan Masjid Ad-Da’wah Kampus III UMM pada 6 Juli. (gas/han)
Program Mentoring Prodi Bahasa Inggris Tinggatkan Skill Mahasiswa

PROGRAM Studi (Prodi) Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program mentoring Bahasa Inggris untuk mahasiswa baru. Mentoring dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa dalam berbicara menggunakan bahasa inggris. Selama delapan kali pertemuan, prodi Bahasa Inggris UMM telah menggelar program mentoring ini, yakni pada bulan April dan Mei. Pada pertemuan yang ke-9, program ini ditutup dengan perlombaan-perlombaan yang memicu rasa percaya diri mahasiswa dalam berbahasa Inggris. Kegiatan dikaksanakan di lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama, Sabtu (4/6). Penanggungjawab Program Mentoring, Nina Inayati MEd mengatakan, sebagian besar mahasiswa baru yang masuk dalam Prodi Bahasa Inggris kurang terlihat aktif dalam merespon proses pembelajaran di kelas. Hal ini, kata Nina, dikarenakan mahasiswa kurang percaya diri dalam berargumen menggunakan bahasa Inggris sehingga mahasiswa perlu untuk difasilitasi untuk mendapatkan rasa percaya diri itu sejak sementer awal. Nina menambahkan, monitoring program ini akan melatih mahasiswa untuk dapat percaya diri dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris sehingga hal ini akan sangat bermanfaat untuk proses sidang skripsi yang di dalamnya nanti akan ada presentasi dan mempertahankan argumen menggunakan bahasa Inggris. Sejumlah 223 mahasiswa semester II akan dimentori 24 mahasiswa yang berasal dari semester 4, 6 dan 8. 24 mentor tersebut telah diberikan pelatihan terlebih dahulu sehingga dapat membimbing mahasiswa semster 2 untuk mendapatkan proses pembelajaran tambahan yang lebih nyaman dan rilex dengan suasana outdoor juga. Mahasiswa semester 2 akan kelompokkan sekitar 11 hingga 12 orang. Setiap kelompok akan mentori 2 orang. Proses pembelajaran inilah yang akan membedakan seperti saat di kelas. Mahasiswa dan dosen terlihat ada jarak, tidak bisa leluasa bertanya dan harus saklek pada silabus pembelajaran akan dihindari dalam mentoring program ini. Ada tiga hal yang difokuskan dalam mentoring ini yaitu: English independent studies, argumentative skill dan Phecha Kucha skill presentation. Ketua Panitia Mentoring, Dwicky Fandi Setiabudi mengatakan, dalam pembelajaran Phecha Kucha mahasiswa diajak untuk presentasi 20 gambar. Setiap gambarnya akan dipresentasikan dalam waktu 20 detik. “Dalam proses mentoring yang seperti itu mahasiswa dapat menambah vocab bahasa Inggris. Mahasiswa dibebaskan dalam memilih tema gambar yang akan dipresentasikan,” jelasnya. Dalam mengasah argumentative skill, mahasiswa juga diajak untuk melakukan mini debat. Mahasiswa diberikan kasus dan dipersilahkan untuk mempersiapkan argumen yang kuat berdasarkan aturan hukum atau teori kemudian diperdebatkan. Nina mengungkapkan, adanya program ini sangat mempengaruhi proses pembelajaran di kelas. Setelah adanya proses ini mahasiswa terlihat lebih aktif di kelas karena rasa percaya diri telah muncul dan membuat mahasiswa Bahasa Inggris UMM semakin berkualitas. Sama halnya dengan apa yang sudah dirasakan mahasiswa Bahasa Inggris peserta program mentoring, Jeni Florida. Ia mengaku terbantu dengan program mentoring ini. “Pada awalnya saya merasa bukanlah mahasiswa yang terlalu mahir dalam berbahasa inggris, saya sangat canggung ketika ingin bertanya dikelas menggunakan bahasa inggris. Namun setelah mendapatkan mentoring program saya menjadi lebih percaya diri karena sudah terlatih terbiasa berbahasa inggris terlebih saat Phecha Kucha,” ujarnya. (nov/han)
PGSD Dorong Pendidikan Inklusi untuk Kesetaraan

PROGRAM Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogjakarta mengadakan Seminar Nasional “Education For All”, Sabtu (4/6) di Theater UMM Dome. Seminar mengangkat tema “Menyiapkan Pendidik Profesional di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”. Menurut Sekretaris Jurusan PGSD Erna Yayuk, tema “Education For All” merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) yang dikeluarkan oleh pemerintah, bahwa yang berhak untuk mengecap pendidikan tidak hanya siswa normal saja. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pun juga berhak menerima pendidikan yang setara, atau yang biasa disebut pendidikan inklusi. “Inilah yang menjadi ciri khas dari PGSD UMM, yaitu pendidikan berbasis inklusi, satu satunya di Indonesia,” papar Erna. Erna menjelaskan, pendidikan Inklusi adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) untuk belajar bersama-sama dengan anak normal di sekolah umum, sehingga potensi anak berkembang optimal. “Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi adalah sekolah umum atau biasa yang memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik normal dan PDBK secara bersama-sama,” paparnya. Sementara itu, Dosen PGSD FKIP UMM Endang Poerwanti menilai, kadangkala perkembangan anak tidak sesuai yang diharapkan. “Dulu ABK dididik secara khusus di SLB (Sekolah Luar Biasa) dan SDLB. Namun, sekarang ada kebijakan baru yaitu pendidikan inklusi di mana ABK diikutsertakan untuk belajar bersama dengan anak normal di sekolah umum dan menjadi bagian dari masyarakat sekolah. Sayangnya, guru SD tidak disiapkan untuk mengelolah pendidioan Inklusi,” jelasnya. Di sisi lain, Teknolog Pembelajaran Universitas Negeri Malang Nyoman S. Degeng menilai pendidikan pada jaman dahulu sedikit sekali para pendidik yang menggunakan budaya mengajar profesional. Karena itu, ia mengajak untuk membangun proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi. “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan mestinya diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”, tutur Nyoman. Cara mengubah paradigma pendidik dengan belajar mengajar kreatif mulai dari hal terkecil yakni memulai mengabsen murid di kelas dengan cara yang berbeda hingga memulai proses belajar dikelas dengan hal yang baru dan menarik. “Memulai paradigma revolusi belajar dengan memadukan hal yang terkecil seperti tegas, lembut, disiplin, sabar, senyum, mesra, lembut, dan dengan ketulusan hati”, ungkap Nyoman. Selanjutnya, Dosen Prodi PGSD UAD Dr. Suyatno M.Pd.I menjelaskan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sekolah dasar ke depan. Pertama, struktur kurikulum maupun proses pembelajaran di sekolah harus mampu memberikan bekal kepada anak didik secara seimbang antara keilmuan agama dan keilmuan umum. Kedua, proses pembelajaran dari rumpun keilmuan tersebut tidak bisa hanua sebatas pembelajaran kognitif, melainkan lebih banyak menekankan penanaman karakter. “Oleh karena iti, paradigma yang digunakan adalah values based education bukan values education. Jika sekolah dasar dapat memenuhi dua kriteria itu, tidak mustahil mereka akan menjadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya, khususnya dari kalangan menengah Muslim”, ujar Suyatno. (roh/han)
Psikologi UMM Rayakan Dies Natalis ke-30

PANGGUNG seni bertajuk “30PHORIA” digelar di lapangan basket Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (3/6). Perayaan ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan dies natalis ke-30 Fakultas Psikologi (Fapsi) UMM. Ketua pelaksana kegiatan dies natalis Rifqi Naufal Azri mengatakan tema yang diambil pada perayaan malam puncak tersebut menggambarkan kemeriahan menyambut usia Fapsi UMM yang mencapai tiga dekade. “Jadi kita disini menampilkan berbagai karya mahasiswa Fapsi UMM semua angkatan, diharapkan mereka merasakan suka cita ini bersama-sama,” ujarnya. Perayaan ini dimeriahkan berbagai penampilan mahasiswa seperti band, vocal group dan theater. Acara semakin semarak dengan diumumkan mahasiswa terfavorit, dosen terfavorit, Lembaga Semi Otonom (LSO) dibawah naungan Fapsi terfavorit, kelas terfavorit dalam Psycologi Award. Sementara itu, Dekan Fapsi UMM, Dra. Hj. Tri Dayakisni mengaku senang dan bangga atas pencapaian Fapsi UMM di usianya yang sudah “Dewasa Madya” ini. “Alhamdulillah Fapsi UMM tetap bisa mempertahankan akreditasi A hingga saat ini,” ujarnya saat sambutan pembuka acara. Ia berharap dengan kualitas Fapsi UMM yang telah diakui sebagai fakultas psikologi bergengsi diantara perguruan tinggi Jawa Timur bahkan di Indonesia, tidak membuat Fapsi UMM jumawa. “Kita harus tetap bersikap arif dan bijaksana,” imbuhnya. Sikap tersebut, lanjut Tri sangat penting dikedepankan untuk menghadapi persaingan di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ia berharap Fapsi UMM kedepan tetap bisa menjadi fakultas yang prestisius. “Mari kita bersama-sama bekerja keras membangun dan berdoa mengantarkan Fapsi UMM semakin bergengsi lagi serta bisa menjadi pusat psikologi terapan di Asia Tenggara ,” ajaknya. Selain menonton pertunjukan yang apik, peserta juga diajak menuliskan harapan bagi fakultas mereka di selembar kertas kemudian ditempelkan di “Hope Tree”. Acara tersebut diakhiri dengan pelepasan 30 lampion secara bersama-sama sebagai simbol di usia Fapsi UMM saat ini dan pencapaian yang lebih tinggi dikemudian hari. Rangkaian dies natalis ke-30 ini sebelumnya diisi dengan seminar tentang pendidikan seks untuk anak usia di yang diselenggarakan pada 14 Mei lalu. (gas/han)