UMM Siap Distribusikan Kurma Bantuan Arab Saudi

PANITIA Syiar Ramadhan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menerima hibah dari Kedutaan Besar dan dermawan Arab Saudi berupa buku, kurma dan paket buka untuk dibagikan kepada masyarakat luas. Bantuan yang terdiri dari 1,5 ton kurma, 245 paket buku yang setiap paketnya terdiri dari 15 buku keagamaan berbahasa Indonesia, 4 buku berbahasa Arab dan 1 Al-Quran serta 2.267 paket buka puasa. Seluruh bantuan dipusatkan di Markaz Dakwah UMM di masjid AR Fachruddin. Kepala Kantor International Relations Office (IRO) UMM, Dr. Abdul Haris, MA yang menerima langsung bantuan menjelaskan bantuan ini datang karena UMM dipercaya baik dalam mengelola setiap bantuan tersebut. “Alhamdulillah selama ini kami melakukan pendistribusian dengan baik dan hasil pendistribusian bantuan juga kami laporkan secara berkala,” ujarnya. Haris memaparkan bantuan yang telah diberikan sejak 2013 datang dari mushinin Arab Saudi yang dikoordinasikan Ustadz Abdul Hamid Al-Syahtri. Enam tahun lalu Hamid pernah mengajar di UMM sebagai dosen Bahasa Arab. “Meski sudah tidak mengajar lagi di sini ustadz Hamid memang tetap menjalin silaturahim,” terangnya. Haris berharap kepercayaan yang diberikan ini dapat menambah keakraban UMM dengan Arab Saudi dalam hal pelayanan sosial masyarakat. “Semoga hubungan baik ini bisa terus terjalin kedepannya dan menambah syiar dakwah di Bulan Ramadhan,” harapnya. Kepala Markaz Dakwah UMM, Shofroni Hidayat, menegaskan pihaknya siap menjalankan amanah untuk menyalurkan bantuan ini. Bantuan ini akan dibagikan kepada lembaga-lembaga di bawah Persyarikatan Muhammadiyah, sekolah, masjid, dan pondok pesantren. “Kami juga membagikan kepada masyarakat di Malang yang berhak menerimanya,” terangnya. Karena tingginya peminat, Shofroni menjelaskan bantuan tidak akan dibagikan secara langsung kepada masyarakat melainkan dengan cara mengajukan perminat. “Jadi pihak-pihak yang berhak dan ingin mendapatkan bantuan bisa langsung daftar ke Markas Dakwah di lantai satu Masjid AR-Fachrudin UMM,” jelasnya. Seperti diketahui, setiap tahunnya selama Bulan Ramadhan, UMM memang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan khusus. Selain penyaluran bantuan tadi, UMM juga menyelenggarakan kajian dan pengajian, dialog, halaqah, gebyar apresisasi seni, bakti sosial dan pelayanan kesehatan, serta pekan i’tikaf Ramadhan. (gas/nas)
Fikes UMM Dorong Ujian Klinik OSCE Diterapkan Secara Nasional

Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong agar profesionalisme perawat diuji sejak di bangku kuliah melalui metode OSCE atau Objective Structured Clinical Examination. Jika ujian OSCE diberlakukan secara nasional, maka profesionalisme perawat diharapkan dapat tercapai standard yang sama. “Selama ini ujian klinik untuk D3 Keperawatan masih bersifat tertulis. Mestinya bisa seperti kedokteran yang sudah seatle menggunakan OSCE untuk mendapatkan register dokter,” kata Dekan Fikes UMM, Yoyok Bekti Prasetyo, S.Kep, M.Kep, Sp.Kom saat meninjau ujian akhir praktek klinik OSCE terstandard untuk mahasiswa D3 Keperawatan UMM, Rabu (8/5). UMM sendiri sudah menggunakan OSCE sebagai syarat kelulusan mahasiswanya sejak tiga tahun lalu. Hal ini dibenarkan Kaprodi D3 Keperawatan UMM, Reni Ilmiasih, M.Kep, Sp. Kep. An. Kali ini sebanyak 65 mahasiswanya mengikuti ujian OSCE. “Dengan cara ini ke depan kami sudah siap jika OSCE standard nasional akan digunakan sebagai bentuk uji kompetensi perawat nasional,” kata lulusan Universitas Indonesia untuk spesialisasi keperawatan anak ini. Ujian OSCE, kata Reni, bertujuan melihat kemampuan atau performa mahasiswa dalam memberikan perawatan pada pasien. Uji ini meliputi kemampuan kognitif, atitude dan skill. “Tentu saja skill antara perawat dan dokter berbeda.Kalau pada perawat penekanannya pada bagaimana memberikan pelayanan keperawatan dengan nursing process meliputi assessment, nursing diagnostic, intervention, implementation, and evaluation,” terangnya. Sekretaris Prodi D3 Keperawatan, Nurlailatul Masruroh, MNS, menambahkan metode OSCE ini menjadi salah satu metode evaluasi yang secara berkala digunakan oleh Prodi D3 Keperawatan di setiap akhir mata kuliah tertentu yang memiliki muatan praktek. “Dengan menggunakan OSCE terstandard nasional maka berbagai area seperti pengetahuan, kemampuan analisis, kecakapan ketrampilan dan pemecahan masalah pada tiap-tiap mahasiswa dapat diukur dengan baik,” terang Nurlailatul yang akrab disapa Ila ini. Dirincinya, OSCE akhir praktek klinik ini melibatkan 16 orang penguji yang stand by di 16 station untuk melakukan penilaian di departemen Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Komunitas dan Keperawatan Gawat Darurat. “Di setiap station rata-rata membutuhkan waktu 10 menit untuk melakukan tindakan mengatasi atau memecahkan masalah kasus pasien yang ada di soal,” tutur lulusan Ila. Menurut Master of Nursing dari Thailand ini, tidak banyak kampus yang memiliki fasilitas dan sumberdaya clinical instructure untuk menyelenggarakan OSCE. “Itulah sebabnya mungkin masih sulit jika ini diterapkan secara nasional. Tetapi bagi UMM yang penting kita siap,” pungkasnya. (nas)