Tim Proliferasi Jurnal UMM Genjot Penulisan Jurnal Terindex Scopus

PENULISAN jurnal bagi dosen merupakan sebuah keharusan untuk meningkatkan mutu akademik universitas. Didasari hal itu, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Workshop Penulisan Artikel Jurnal Internasional pada Senin (25/07). Ketua Tim Proliferasi Jurnal Terindex Scopus UMM, Akhsanul In’am PhD, menyatakan dengan menulis artikel ilmiah dapat membantu pengembangan kemampuan menulis dan peningkatan profesionalisme dosen. “Jurnal yang diterbitkan lebih baik di jurnal yang sudah terindex Scopus, lantaran Scopus merupakan salah satu entitas yang paling dikenal para peneliti dunia,” jelas dosen Prodi Pendidikan Matematika UMM tersebut. Dalam workshop tersebut sejumlah pembicara menyampaikan tentang tips dan trik penulisan artikel serta cara-cara untuk dapat menerbitkan jurnal di Scopus. “Ada beberapa alamat index jurnal yang dikenalkan dalam workshop ini. Mulai dari index jurnal yang memuat tentang masalah sosial, eksak, maupun teknologi. Berbagai materi pun disampaikan, mulai dari kriteria penulisan hingga cara pengunggahan jurnal dilatih dari awal hingga akhir,” kata In’am. Ada empat tahapan dalam pelaksanaan workshop ini. Tahapan pertama yaitu sosialisasi penulisan jurnal international yang telah dilakukan bulan lalu, kemudian workshop penulisan yang dilakukan hari ini, selanjutnya untuk tahapan ketiga dan keempat akan dilaksanakan bulan Agustus berupa workshop lanjutan dan finishing iurnal Internsional. Rencananya, workshop ini akan menerbitkan 100 lebih jurnal di Scopus. “Ada beberapa kekurangan yang biasanya terjadi dalam penulisan jurnal. Di antaranya yaitu referensi yang digunakan terlalu minim dan tunggal serta di bagian pendahuluan sangat sedikit sekali isi yang menunjang tulisan,” jelas lulusan University of Malaya ini. Tim Proliferasi Jurnal Terindex Scopus UMM yakin, pada tahun ini akan ada 80 jurnal yang akan terpublikasikan. Workshop ini tidak hanya diadakan di FKIP, namun akan diselenggarakan di seluruh fakultas di UMM. “Workshop ini baru dilaksanakan di dua fakultas, yaitu di Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) dan FKIP. Nantinya, akan dilanjutkan ke 10 fakultas yang ada,” ujar In’am. Dengan diadakannya workshop ini, lanjut In’am, diharapkan seluruh dosen dapat mempublikasikan penelitiannya sehingga dapat menunjang akreditasi lembaga. “Sebenarnya banyak dosen yang memiliki penelitian namun tidak dipublikasikan. Ada yang dipublikasikan, namun indeks jurnalnya belum bagus. Dari sinilah upaya yang kami lakukan untuk mengawali niat tadi,” jelasnya. Pembantu Dekan I FKIP, Dr Trisakti Handayani mengungkapkan, dengan adanya workshop, ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dosen untuk membuat jurnal yang dapat terindex Scopus. “Ini adalah salah satu cara agar kampus kita semakin mendapatkan pengakuan di dunia internasional, karena semakin banyak karya dosen yang di-publish di jurnal internasional. Dan semoga ini dapat menjadi sedekah bagi kita,” ungkapnya. (jll/nov/han)
Sering Lihat UMM di TV, Bikin Camaba Asal Papua Ini Ikuti Tes PMB

ZULFIYANI Madjid baru pertama kali ini menginjakkan kakinya di kota Malang. Itupun karena keinginannya yang kuat menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ya, Zulfi, panggilan perempuanasal Sorong Papua ini adalah satu di antara 10.130 peserta tes penerimaan mahasiswa baru UMM yang berlangsung Senin (25/7). Ditemani orang tuanya, Muhammad Madjid, Zulfi mengaku mengetahui UMM dari televisi. “UMM sangat terkenal di Papua. Saya sering lihatnya di tivi-tivi,” aku Zulfi yang dibenarkan ayahnya. Jurusan yang diambil Zulfi adalah Kedokteran. Ia percaya jurusan ini sangat banyak peminatnya, sehingga saingannya tentu sangat ketat. Itulah sebabnya tak ada pilihan lain kecuali belajar keras. “Ya banyak belajar, latihan soal, sampai ikut bimbingan belajar,” ungkap lulusan SMA Negeri 3 Kota Sorong ini. Muhammad Madjid mengakui dirinyalah yang mengarahkan anaknya ke Kedokteran UMM. Menurutnya, UMM sudah punya nama. “Siapapun yang punya anak kuliah di UMM pasti bangga, makanya saya arahkan anak saya ke sini,” katanya. Zulfi dan puluhan ribu calon mahasiswa UMM tentu berharap-harap cemas. Karena harus menunggu hasil kelulusan tes yang akan dirilis Jumat 29 Juli mendatang lewat pmb.umm.ac.id. Itupun masih harus memastikannya lagi karena jika dinyatakan lulus masih harus mengikuti sesi wawancara. Wakil Rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin, mengatakan wawancara juga penting. Selain untuk mengetahui motivasi, juga merupakan cara UMM untuk memetakan potensi calon mahasiswa untuk pembinaan lebih lanjut. “Jadi kita memang ingin mahasiswa UMM itu betul-betul punya niat untuk belajar keras, membangun dirinya secara sungguh-sungguh, tidak loyo. Niatnya juga harus lurus,” tegas Syamsul. Sementara itu, ditemui usai mengontrol jalannya ujian tulis Senin (25/7), rektor UMM Drs. Fauzan, M.Pd, menegaskan kembali meski peminatnya naik pihaknya akan menurunkan pagu penerimaan. Hal ini karena UMM ingin fokus pada peningkatan mutu pelayanan pendidikan. “Penambahan dosen, penambahan ruangan kelas, kantor dan laboratorium jalan terus. Insya Allah gedung baru GKB IV itu akhir tahun ini selesai. Tetapi jumlah mahasiswa kita tekan agar bisa lebih lebih maksimal pelayanannya,” tutur Fauzan. Di gelombang II ini yang akan diterima mencapai sekitar 2.400 orang. Jika belum bisa diterima di gelombang III, masyarakat masih bisa mendaftarkan lagi untuk ikut tes di gelombang III, kecuali untuk prodi Kedokteran sudah ditutup. “Tentu saja perlu persiapan tes yang lebih baik lagi ya supaya bisa melampaui passing grade program jurusan yang dituju,” kata rektor. Tes gelombang II berlangsung tertib dan aman. Seperti biasa, selain menerjunkan 610 pengawas, UMM juga melibatkan pihak keamanan untuk memastikan nihilnya praktik perjokian. Hasilnya, sejauh ini pada gelombang II tidak ditemukan kecurangan seperti tahun-tahun lalu. “Kita tetap mewaspadai, jangan sampai yang jujur dikalahkan oleh yang mau curang,” tegas rektor. (can/nas)
Selain Bersih dan Indah, Rektor UMM Harapkan Ekonomi Warga Kampung Warna-warni Jodipan Terdongkrak

REKTOR Unversitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan, memberi apresiasi khusus kepada mahasiswa Komunikasi yang berhasil menjadi inisiator kampung warna-warni di Jodipan, Blimbing, Kota Malang. Tak hanya berdampak pada kebersihan dan keindahan lingkungan, dengan kunjungan wisatawan ke kampung itu diharapkan bisa menggerakkan roda ekonomi warga setempat lebih baik lagi. “Ini harus ditindak lanjuti dengan program-program lain. Misalnya, pendampingan kepada masyarakat agar bisa memanfaatkan berkah wisatawan untuk meningkatkan penghasilan,” kata Fauzan. Untuk itu, pihaknya akan mendorong mahasiswa dan dosen untuk melakukan kajian lebih lanjut tentang potensi ekonomi yang mungkin bisa dikembangkan. Dikatakan Fauzan, UMM memiliki kepekaan terhadap persoalan ini dan terbiasa dengan penyelesaian masalah dengan berfikir kreatif. Mahasiswa yang sudah melakukan kreativitas yang memiliki dampak sosial dan ekonomi masyarakat memang menjadi keharusan. Dalam program KKN, misalnya, rektor selalu mendorong agar mahasiswa dapat mengangkat isu-isu pemberdayaan yang berkesinambungan. “Mahasiswa harus bisa menjadi inisiator, inovator, mencetuskan ide dan mengeksekusinya bersama masyatakat. Tak hanya itu, ide tersebut harus dipastikan bisa berjalan terus. Jangan sampai KKN selesai program terhenti,” kata Fauzan. Seperti diketahui, kampung Jodipan yang terletak di bandaran sungai Brantas disulap menjadi kawasan penuh warna yang elok. Sebelumnya, kawasan ini dikenal kumuh karena kesadaran masyarakat yang masih rendah. Sentuhan sekelompok mahasiswa UMM yang melaksanakan praktikum manajemen event untuk public relations berhasil membranding kampung itu menjadi destinasi wisata baru Kota Malang. Meski praktikum kuliah, mahasiswa UMM diharuskan menggandeng klien yang riil. Kelompok Guys Pro UMM berhasil menjalin kerjasama dengan produsen cat PT Indana Paint yang membiayaiseluruh pewarnaan kampung Jodipan. Wakil Rektor III, Dr. Sidik Sunaryo, SH, MSi, mengaku akan mempertimbangkan kreativitas yang riil itu agar dapat dikonversi denganKuliah Kerja Nyata (KKN). “Sebab, justru dengan program semacam inilah efek nyata di masyarakat dapat dirasakan,” ungkap Sidik. Sementara itu, rektor berharap pengecatan di bantaran sungai Brantas bisa berlanjut di kawasan sekitarnya. “Kalau bisa seluruh kawasan itu dapat bersih dan indah sehingga kesadaran menjaga lingkungan juga semakin baik,” kata rektor yang akan meninjau kawasan mirip Rio de Jenero di Brazil, Izamal di Meksiko, Nyhavn di Denmark, St John di Kanada, atau bahkan Cinque Terre di Itali itu. (nas)