Wisuda UMM Hadirkan Nuansa Bhineka Tunggal Ika

NUANSA Bhineka Tunggal Ika akan menjadi ciri khas baru dalam prosesi wisuda UMM ke-81 yang akan berlangsung Sabtu (27/8). Hal itu sejalan dengan arahan Rektor UMM, Fauzan, yang selalu ingin ada inovasi dalam setiap gelaran wisuda yang diadakan di Kampus Putih ini. Mengusung tema multikulturalisme, yaitu keragaman suku, ras, dan budaya yang menjadi ciri khas bangsa ini, cita rasa Bhineka Tunggal Ika akan menjadi sentuhan baru dalam setiap lini prosesi wisuda. Ciri tersebut, di antaranya tampak pada penampilan tim paduan suara, karawitan, pembawa acara hingga penerima tamu yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya itu, menurut ketua pelaksana wisuda, Sudjalil, para mahasiswa asingUMM juga akan terlibat dalam membangun nuansa Bhineka Tunggal Ika ini. Mereka akan menjadi penerima tamu yang menggunakan pakaian adat Indonesia. “Agar mereka tidak hanya belajar di UMM, tidak hanya tinggal di Indonesia, tapi juga bisa mencintai negeri ini. Salah satunya, dengan mengenakan pakaian adat kita,” paparnya. Semangat melibatkan mahasiswa asing dalam prosesi wisuda juga tak lepas dari spirit UMM agar mereka benar-benar merasa enjoy dengan suasana dan tradisi di kampus ini. Menariknya, banyak dari mahasiswa asing tersebut tidak hanya fasih berbahasa Indonesia, tapi juga lihai dalam menggunakan bahasa, bahkan logat Jawa. Rektor UMM Fauzan mengatakan, internasionalisasi di UMM tidak hanya mengharuskan kampus ini mengembangkan sayap kemitraan ke berbagai negara di dunia. Internasionalisasi juga berarti membuat warga asing lebih familiar dengan budaya Indonesia dan atrmosfer UMM. “Di sini, mahasiswa asing harus bisa berbahasa Indonesia. Mereka juga harus bisa menyatu dengan mahasiswa pribumi,” ujarnya. Selain dalam penggunaan seragam, ciri multikultural juga akan ditampilkan pada berbagai dekorasi yang bernuansa kearifan lokal. Dengan begitu, Sudjalil menyatakan, nantinya tokoh nasional yang hadir sebagai tamu akan disambut dengan nuansa kedaerahanyang khas. “Dengan karakter mahasiswa yang majemuk, kita ingin segala perbedaan itu menyatu dalam irama yang sama. Inilah pendidikan multikultural yang sesungguhnya, yang dapat meningkatkan kualitas bangsa ini,” jelas dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMMini. Sudjaliljuga menambahkan, nantinya akan ada sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang turut meramaikan prosesi yang diikuti 1312 wisudawan ini, di antaranya yaitu UKM Pramuka, UKM Karawitan, UKM Paduan Suara, UKM Korp Sukarela Palang Merah Indonesia, dan UKM Resimen Mahasiswa. (jal/han)
Sertifikasi AUN-QA Perkuat Internasionalisasi UMM

UPAYA internasionalisasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengalami kemajuan. Terkini, UMM baru saja meraih sertifikasi internasional, yaitu sebagai Associate Member of Asean University Network–Quality Assurance (AUN QA)tertanggal 11 Agustus 2016. AUN-QA merupakan jejaring perguruan tinggi ASEAN yang dikualifikasi berdasarkan jaminan mutu (quality assurance) regional dan internasional. Raihan AUN-QA melengkapi capaian UMM yang sebelumnya telah meraih akreditasi institusi A dari BadanAkreditasiNasionalPerguruan Tinggi (BAN PT) dan penghargaan Anugerah Kampus Unggul (AKU) Kopertis VII Jawa Timur sembilan tahun beruntun. Karena akreditasi institusi tertinggi nasional telah diraih, menurut Rektor UMM Fauzan, saat ini UMM fokus meningkatkan pengakuan internasional. Sebagai sertifikasi internasional, AUN-QA mengacu pada standar akreditasi International yang disusun oleh pakar-pakar quality assuranceASEAN. Anggota AUN-QA dan prodi yang telah dinilai berdasar standar AUN, mahasiswanya dapat mengikuti program kredit transfer dengan universitas-universitas anggota AUN-QA lainnya. “TahuniniUMMmenyiapkantiga program studi(Prodi) antara lain Prodi Manajemen, PendidikanBiologi dan Peternakan yang akandisertifikasimelaluimekanisme AUN-QA,” terangKepala Kantor PengeloladanPengendaliAkreditasi (KPPA), DrAinurRofieg MKes. Berdasarkan mekanisme AUN-QA, kata Rofieg, maksimalhanyatiga prodi yang dapat disertifikasi setiaptahunnya.“Jadi,secarapelandan pastiseluruhprodi di UMM akanterakreditasiinternasional. Raihantersebutakan menjadi kebanggaantersendiribagi kampus ini,” lanjutnya. Rektor menyadari, UMM tidak hanya dikenal dari sisi fisiknya saja, tetapi juga merupakan brand image, sebuah nama besar. Karenanya, segala raihan prestasi yang diraih UMM menuntut kampus ini lebih banyak lagi melahirkan tokoh-tokoh besar. “Salah satunya, kita harus memobilisasi para dosen untuk bisa menjadi tokoh-tokoh dan pakar-pakar di bidangnya, agar memiliki resonansi, tidak hanya secara nasional, tapi juga internasional,” ujar Fauzan. Fauzan menambahkan, sertifikasi AUN-QA membuat UMM harus berpikir dan bertindak lebih strategis, salah satunya melalui program pemetaan kepakaran. Program ini, jelas Fauzan, manfaat dan kebutuhannya kian relevan mengacu pada perkembangan nasional dan internasional. “UMM harus terus melahirkan ilmuan-ilmuan yang kapasitasnya diperhitungkan. Tentu saja, harus ada desain. Salah satunya, melalui revitalisasi pengembangan SDM,” paparnya. Setelah AUN-QA, saat ini UMM tengah mempersiapkan diri untuk meraih akreditasi internasional dari Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) yang bermarkas di Los Angeles, Amerika Serikat. Selain itu, masing-masing prodi di UMM juga telah melakukan benchmarking dengan berbagai universitas di dunia untuk mengukur kualitas secara internasional. (can/han)