Mencintai Ilmu, Faridlotul Ingin Jadi Peneliti Hortikultura

KECINTAANNYA pada ilmu pengetahuan membuat Faridlotul Khasanah tak pernah berhenti berkarya. Sekalipun sempat gagal masuk di program studi (prodi) yang diimpikannya, yaitu Pendidikan Matematika, ia justru jatuh cinta pada jurusan yang akhirnya ia pilih, yaitu Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Semula, Faridlotul sempat lolos di Prodi Pendidikan Matematika UMM melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Namun, karena tidak bisa mengejar tenggat waktu pembayaran daftar ulang, keinginannya untuk kuliah di jurusan tersebut akhirnya kandas. Ia lantas kembali mengikuti tes di gelombang berikutnya dengan mengambil bidang studi Agroteknologi. Dalam perjalanan studinya, Faridlotul tidak menyangka akhirnya semakin mencintai dunia hortikultura yang merupakan rumpun ilmu Agroteknologi. Ia mengaku, kecintaannya tersebut berawal dari ketakjubannya pada kepintaran dosennya. “Dosen di UMM bukan hanya mengajar, tapi lebih dari itu, membuat kita makin penasaran memperdalam ilmu. Kami pun tergerak untuk senang meneliti,” ungkapnya. Tak heran, selain berhasil menjadi salah satu dari dua lulusan terbaik pada gelaran Wisuda UMM ke-81dengan nilai IPK 3.96, masa kuliah Faridlotul dipenuhi dengan karya dan aktivitas yang produktif, khususnya di bidang riset. Ia berpandangan, hasil riset merupakan ilmu yang berguna kapan saja, yang tak lekang oleh zaman. “Hidup harus bermanfaat bagi orang lain. Jika tua nanti kita meninggal, kita mungkin tidak bisa bermanfaat lagi. Namun, pemikiran kita masih tetap bisa berguna bagi orang lain,” tutur putri dari pasangan Khoerul Ahmad Yani dan Suprihatiningsih ini. Beberapa penelitian yang pernah dilakukannya selama mahasiswa yaitu Kajian Penggunaan Berbagai Mulsa Organik Lembaran pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kubis Bunga, Pengaruh Pematahan Dormansi dengan Vernalisasi dan Perendaman Geberelin terhadap Penggunaan Subang Gladiol, dan Pengaruh Electrical Conductivity (EC) Tanah Terhadap Budidaya Cabai di Dataran Tinggi Tabanan Bali. Riset-risetnya tersebut sebagian besar didanai melalui jalur Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) maupun kerjasama riset dengan dosen. Ke depan, Faridlotul ingin lebih banyak melakukan penelitian, khususnya di bidang yang telah dicintainya, yaitu Agroteknologi, khususnya hortikultura. “Saya bangga pernah kuliah di kampus ini, saya merasa semakin mencintai ilmu. Ke depan, saya berharap tetap bisa menjadi peneliti yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar mahasiswi penyuka novel ini. (nov/can/han)
Wijayanto, Sempat Tak Bisa Kuliah, Akhirnya Jadi Lulusan Terbaik

KETERBATASAN tidak menghalangi Wijayanto meraih sukses, hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu dari dua lulusan terbaik pada gelaran Wisuda UMM ke-81dengan nilai IPK 3,96. Padahal, sejak selesai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)pada 2010, kedua orang tuanya, Miskan dan Sunarti menyatakan sudah tidak bisa membiayainya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu Wijayanto lantas memutuskan untuk tidak kuliah dan bekerja sebagai paramedis sapi di perusahaan minuman susuGreenfields yang berkantor di daerah Gunung Kawi.Setelah dua tahun bekerja, ia kemudian meminta persetujuan manajemen kantor dan kedua orang tuanya agar diperbolehkan kuliah, untuk meningkatkan keilmuannya di bidang peternakan. Pada 2012, Wijayanto akhirnya mendaftar di Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Sejak saat itu, ia belajar membagi waktu antara kuliah dan kerja. “Saya biasanya kerja mulai jam 10 malam hingga 6 pagi. Lalupulang sebentar dan berangkat lagi ke kampus untuk kuliah,kadang-kadang sampai jam 5 sore,” ceritanya. Mengingat Wijayanto bertempat tinggal di daerah Semanding, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan tempat kerjanya di daerah Gunung Kawi dengan jadwal kerja 8 jam, tak heran jika waktu tidurnya menjadi sangat sedikit. Apalagi jika dikalkulasi, jarak tempuh rumah ke tempat kerjanyamencapai 35 kilometer, itu belum dihitung perjalanannya ke kampus UMM.“Saya kadang tidur sehari hanya 2sampai 4 jam saja,” ujarnya. Tak hanya bekerja dan kuliah, ia juga seringkali dipercaya dosennya untuk membantu melakukan penelitian. Karena itu, baginya waktu sangatlah berharga. “24 jam itu sebenarnya kurang. Bagi saya, satumenit itu waktu yang sangat amat berharga. Kalau saya keluar dari tempat kerja jam 6 lewat 5 menit saja,saya sudah sangat menyesal karena membuang waktu 5 menit yang seharusnya digunakan untuk perjalanan,” tuturnya. Wijayanto mengaku tidak menyangka akan menjadi lulusan terbaik karena dulu prinsipnya adalah ‘yang penting lulus’. Bagi Wijayanto, kedua orang tuanyamerupakan motivasi terbesarnya. “Orang tua saya dulu tidak sekolah jadi belum bisa baca dan tulis. Namun,mereka tidak saja bisa membuat saya bacatulis, tapi membuat saya menjadi lulusan terbaikdi kampus ini. Perjuangan memang selalu berbuah manis,”ujarnya terharu. (jal/han)