UMM Perkuat Internasionaliasi dan Hilirisasi Hasil Riset

PROGRAM Pengembangan Karya Ilmiah Doktor (PPKID) yang digagas Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat kinerja penelitian kampus ini terus meningkat. Hal itu ditandai keberhasilan UMM yang kembali mempertahankan Klaster Penelitian Mandiri. Dalam standarisasi Dikti, menurut Direktur DPPM Prof Dr Sujono MKes, kampus-kampus di Indonesia dikategorikan ke dalam empat klaster, yakni Binaan, Madya, Utama dan yang tertinggi adalah Mandiri. Sujono menambahkan, secara kualitas dan kuantitas, penelitian di UMM meningkat, terutama lantaran semakin banyaknya publikasi ilmiah pada jurnal-jurnal internasional. Melalui skema PPKID, para doktor di UMM digelontorkan dana sebesar 25 juta untuk dapat melakukan publikasi internasional. “Program ini kita lakukan karena makin banyaknya pesaing, tidak hanya PTN (perguran tinggi negeri) tapi juga PTS (perguruan tinggi swasta),” paparnya. Tingginya persaingan dapat dilihat dari meningkatnya peraih klaster mandiri. Ketika mendapat klaster mandiri pada 2014, UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta dari total 14 peraih klaster mandiri. Namun, saat tahun ini UMM kembali mempertahankan klaster penelitian tertinggi tersebut, jumlah peraihnya kian bertambah yaitu 25 perguruan tinggi, dan UMM tidak lagi menjadi satu-satunya peraih dari kampus swasta. Untuk itu, kata Sujono, pengembangan penelitian UMM saat ini lebih terfokus pada publikasi internasional dan komersialisasi hasil riset. Publikasi dilakukan agar internasionalisasi karya ilmiah dosen kian menguat. “Salah satunya, melalui publikasi di jurnal internasional terindeks oleh lembaga terindeks terpercaya seperti Scopus.” Sementara itu komersialisasi hasil riset dilakukan dengan cara hilirisasi, yaitu dengan lebih banyak menggandeng kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) daripada menyasar industri besar. Hal itu dilakukan agar prinsip pengembangan akademik melalui riset dapat berjalan beriringan dengan pengabdian masyarakat. Dengan cara itu pula, kata Sujono, UMM juga akan mempunyai income yang diperoleh secara mandiri dari luaran penelitian yang dihasilkan dosen. Agar misi tersebut benar-benar terealisasi, UMM tengah gencar melakukan workshop dan pertemuan ilmiah yang mendukung hal tersebut, semisal sosialisasi e-journal, workshop penulisan jurnal terindeks Scopus, serta temu ilmiah menghadirkan peneliti internasional yang memiliki banyak hak paten. Terakhir, pada pekan lalu, Selasa (24/8), DPPM UMM mendatangkan Prof Wu Da Ying, CEO dan presiden perusahaan biokimia yang berbasis di Amerika Serikat. Prof Wu juga merupakan ahli bio-kimia dan bio-teknologi yang telah memegang lebih dari 14 paten internasional. Sujono berharap, kedatangan Prof Wu dapat memperkuat klaster mandiri yang dimiliki UMM. Terlebih, Prof Wu berencana mengembangkan kemitraan lebih lanjut, salah satunya dengan menyumbangkan buku-buku dan hasil-hasil risetnya pada kampus ini melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan UMM. (han)