Dosen FPP Gagas ‘Satu Rumah Satu Kolam’ sebagai Inovasi Urban Farming

PENGUATAN riset berbasis kepakaran menjadi ciri khas UMM untuk mengembangkan mutu akademik agar bisa bersaing di level internasional. Hal itu selaras dengan ikhtiar UMM yang terus berupaya melakukan pemetaan kepakaran para dosen agar memiliki keahlian yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu hasil riset terkini yang dapat menjadi solusi bagi masyarakat urban yaitu konsep one house one pond (satu rumah satu kolam) yang digagas dosen Prodi Perikanan, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, Riza Rahman Hakim MSc. Dalam konsep tersebut, Riza memiliki strategi memanfaatkan lahan sempit di perkotaan untuk berternak ikan hasil dengan hasil maksimal. Dalam konsep ini, Riza menggabungkan antara budidaya ikan lele di kolam terpal dengan budidaya sayuran melalui sistem aquaponik. Ada dua sistem yang dikembangkan Riza, yaitu sistem budidaya lele biona berbasis bio-natural serta budidaya lele bionik yang merupakan kombinasi antara bio-natural dan aquaponik. Secara  umum, one house one pond menjadikan kotoran lele sebagai pupuk tanaman di atas kolam yang terus berulang. Selain hemat dalam memberi makan lele, konsep ini juga meminimalisir pemakaian air. “Dalam konsep ini, penggunaan air sangat sedikit. Pada budidaya lele tradisional, sekitar 50% air diganti dan dilakukan hampir setiap hari, airnya juga berbau tak nyaman. Dengan konsep one house one pound, penggantian air hanya 30% dan dilakukan seminggu sekali. Airnya juga tidak berbau,” jelas Ketua Prodi Perikanan ini. Dengan cara ini, Riza menjelaskan, satu meter kolam dapat diberikan 1000 ikan lele dan dalam waktu tigabulan sekali dapat dipanen sebanyak 300 ikan lele.Hal ini, diyakini Riza, tentu dapat menjadi solusi bagi kemandirian pangan keluargalantaran keluarga merupakan kelompok terkecil dan paling efektif dapat mewujudkan kemandirian pangan. Lantaran penelitian tersebut, Riza diundang untuk mengikuti pendidikan singkat selama duapekan di Wageningen University, Belanda, pada 29 Februari hingga 16 Maret 2016, untuk memperkuat risetnya tersebut. Pada kegiatan yang dihadiri peneliti 10 negara tersebut, UMM merupakan satu-satunya kampus swasta yang mengirimkan perwakilannya. Setelah kembali dari Belanda, Riza makin yakin konsepnya sangat relevan diterapkan di kota-kota dengan lahan terbatas. Selain mengembangkan one house one pondsebagai urban farming, Riza juga ingin mengembangkan teknologi perairan yang memang telah menjadi keunggulan Negeri Seribu Tulip itu. Riza berharap, hasil riset ini dapat mewujudkan gagasannya agar terealisasi satu rumah satu kolam di masyarakat perkotaan. “Apalagi, ini akan meningkatkan protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh,terutama untuk masa perkembangan dan asupan otak,” imbuh peraih gelar Master of Science dari Kasetsart University, Thailand ini. (jal/han)

Purnatugas, Nurhadi Kenang Atap Kelas UMM yang Bocor

RABU (31/1), jajaran dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta pejabat struktural Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti acara silaturrahim dan purnatugas dosen Prodi Civic Hukum FKIP UMM Drs Nurhadi MSi yang telah mengabdi di kampus ini sejak 1981. Nurhadi dan UMM memiliki kedekatan emosi yang sangat kuat. Saat ia bergabung di UMM, kala itu kampus ini tengah melakukan perintisan. Kegiatan perkuliahan masih sulit dilakukan karena keterbatasan ruangan. “Bukan hanya itu, ketika hujan menerpa, atap kelas seringkali bocor,” kenang Nurhadi. Alas dan lantai yang masih terbuat dari papan kayu juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Ia harus berhati-hati saat akan menempatkan kakinya pada pijakan papan agar tidak terperosok lantaran papan yang sudah reot. Layaknya orang sukses lainnya, Nurhadi memiliki filosofi yang menjadi ciri khasnya sehingga selalu diingat dosen lainnya karena selalu ia sampaikan di berbagai forum. Filosofi hidup tersebut yaitu NK4: Niat, Kesempatan, Keberanian, Kekayaan dan Ketahanan. “Di UMM ini diniati ibadah saja, jangan hanya niat mencari uang saja,” kata Nurhadi. Rektor UMM, Fauzan, dalam sambutannya di Auditorium UMM bercerita bahwa Nurhadi adalah dosennya, di mana beliau dikenal sebagai sosok yang tegas namun tidak pemarah. “Pak Nurhadi tetaplah bagian dari keluarga UMM, jangan sampai pensiun membuat jarak yang merenggakan silaturrahim di UMM,” tuturnya. Bagi Rektor, yang paling penting dalam acara ini adalah merawat rasa. “Merawat rasa itu tidak mudah, apalagi di tengah-tengah keringnya hubungan. Ini adalah bentuk penghormatan atas jasa-jasa atau dedikasi yang telah dilakukan Pak Nurhadi,” imbuhnya. Fauzan juga berpesan bahwa kehormatan itu bukan jabatan tapi kehormatan. “Kehormatan didapatkan karena diri sendiri, maka berbuatlah baik di mana saja,” tutup Rektor. Wakil Rektor I Syamsul Arifin menganalogikan hidup Pak Nurhadi ibarat mengayuh sepeda, yang dilakukan untuk mencapai keseimbangan. “Nah, Pak Nurhadi saat ini sudah mencapai keseimbangan itu,” ujarnya mengapresiasi dosen yang telah mengabdi di UMM selama 35 tahun itu. (nov/han)