UMM Rumah Kedua Mahasiswa Thailand

DARI tahun ke tahun, perkembangan jumlah mahasiswa Thailand yang mengikuti Pesmaba UMM terus meningkat secara signifikan. Tahun ini, ada 34 mahasiswa Thailand yang resmi menjadi bagian dari Jas Merah Kampus Putih UMM angkatan 2016. Mereka akan bergabung dengan sekitar 370 warga Thailand lainnya yang sebelumnya telah menjadi mahasiswa UMM. Menurut staf unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, Mohamad Isnaini, pertama kali warga Thailand menjadi mahasiswa UMM yaitu pada angkatan 2010. Kala itu jumlahnya masih lima orang, yaitu Anwar Artawee, Pattama Sritiangtong, Worapong Srisaad, Wilawan Rattana dan Phokham Alounsavath. Saat ini kelimanya telah lulus dan berkerja di kampung halamannya di Thailand. Kemudian angkatan 2011 jumlah mahasiswa Thailand naik menjadi 13 orang. Jumlah itu, kata Isnaini, terus mengalami peningkatan di setiap tahunnya, hingga pada tiga tahun terakhir, untuk program reguler saja, jumlah mahasiwa Thailand yang masuk UMM konsisten di angka 30 hingga 40-an pada masing-masing angkatan. “Ada yang kuliah di sini karena beasiswa Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, namun banyak juga yang melalui jalur mandiri,” jelas Isnaini. Peningkatan jumlah itu membuat Kedutaan Besar Thailand memberikan apresiasi khusus, di antaranya melalui pendirian Thailand Corner di UMM. Thailand Corner, menurut Kepala International Relation Office (IRO) UMM Dr Abdul Haris MA, sekaligus melengkapi corner-corner lainnya yang sebelumnya telah berdiri di UMM, yaitu China Corner, American Corner dan Saudi Arabian Corner. Lebih dari itu, agar memiliki pusat informasi di Thailand, UMM lantas menginisiasi berdirinya Indonesian Corner di Ayutthaya Technical College (ATC) Thailand, yang sekaligus merupakan Indonesian Corner pertama di Negeri Gajah Putih itu. Setelah pendirian itu, UMM berencana akan terus mendirikan Indonesian Corner dan UMM Corner di sejumlah kampus di Thailand. “Sudah banyak kampus yang interest. Tinggal nanti tindak lanjutnya saja,” kata Abdul Haris. Keterikatan mahasiswa Thailand dengan UMM semakin erat dengan kuatnya jejaring alumni yang sangat efektif dalam mengenalkan UMM di negara tersebut. Misalnya pada pertengahan bulan lalu (18/8), sejumlah alumni UMM asal Thailand, yaitu Samila Doloh, Tapanee Taweekayujan, Sufeenah Sidek, dan Anwar Artawee, turut serta mempromosikan UMM pada PSU Openweek 2016 yang diadakan di Prince of Songkla University (PSU), Thailand. Itu merupakan kali ketiga UMM menggelar pameran di Thailand. “Kami sangat mencintai UMM. Kampus ini seperti rumah kedua bagi kami. Banyak kesan bahagia yang kami alami selama belajar di UMM, sehingga kami tak segan-segan mempromosikan kampus tercinta ini di negeri kami. Semoga banyak anak Thailand yang dapat merasakan pendidikan seperti kami,” tutur Samila. (ich/han)
Filosofi di Balik Flashmob Jas Merah

FLASHMOB dan papermob kini menjadi tren di setiap pelaksanaan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) di berbagai kampus di Indonesia. Di UMM, tradisi membuat formasi bernuansa merah putih telah menjadi ciri khas pelaksanaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) sejak 2009. Tahun ini, UMM kembali membuat flashmob berciri merah putih, dengan formasi membentuk tulisan “Love UMM, Love Indonesia” dan “Jas Merah Kampus Putih”. Menariknya, UMM sama sekali tidak pernah menggunakan kertas, layaknya papermob, dalam membentuk formasi tersebut. Corak merah yang tampil melalui foto udara sepenuhnya merupakan view jas merah yang dikenakan mahasiswa, sementara warna putih merupakan tampilan jilbab mahasiswi. Paduan merah putih itulah yang pada gilirannya memperkuat filosofi kebangsaan flashmob UMM. “Kebanyakan kampus menggunakan papermob, yaitu paduan kertas warna-warni sehingga membentuk formasi. Kami lebih suka menggunakan warna pakaian, yaitu paduan jas almamater merah serta baju, celana dan jilbab yang serba putih, agar karakter UMM benar-benar terasa,” kata Jamroji, ketua bidang publikasi dan dokumentasi Pesmaba UMM 2016. Rektor UMM Fauzan mengatakan, slogan “Jas Merah Kampus Putih” tak hanya bermakna harfiah lantaran mahasiswa mengenakan jas berwarna merah dan kampus UMM dominan warna putih, tetapi juga mengingatkan akronim yang dikenalkan presiden pertama RI Soekarno tentang “Jas Merah” yang bermakna; jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sedangkan kampus putih bisa bermakna kampus yang amanah, optimistik dan mencerahkan. Flashmobjas merah sekaligus membangkitkan rasa bangga mahasiswa pada UMM dan bangsa Indonesia. Menurut Fauzan, dengan corak merah putih dan kata-kata “Love UMM Love Indonesia” pada formasi flashmob, maka kebanggaan dan kecintaan pada kampus ini dan bangsa ini akan muncul dalam diri mahasiswa. Dengan rasa bangga pada UMM, diharapkan mahasiswa bisa betah selama belajar di kampus ini, dan dengan rasa cinta pada Indonesia, maka nasionalismenya akan semakin kuat. Hal itu, kata Fauzan, selaras dengan tagline UMM “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. (han)