Prodi Kehutanan Kenalkan Potensi Pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

PROGRAM Studi (Prodi) Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Kuliah Tamu bertajuk “Pengelolaan Kawasan Peletarian Alam dan Zonasi” Jumat (30/9) di Auditorium UMM. Kuliah tamu menghadirkan Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTN-BTS) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Muhammad Wahyudi SP MSc. Acara dihadiri mahasiswa baru Prodi Kehutanan dan sejumlah fungsionaris Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kehutanan. Dalam materinya, Wahyudi mengurai Pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sesuai SK Menteri Kehutanan Nomor 178/Menhut-II/2005 tanggal 29 Juni 2005, berdasarkan wilayah admisnistrasinya, Taman Nasional Bromo Tengger Semerumemiliki luas tanah sebesar 50.276,20 hektar. Bentangan tersebut, kata Wahyudi, tentu menyimpan banyak potensi kawasan yang luar biasa. “Selain potensi keanekaragaman hayati berupa flora dan Fauna, TN-BTS juga banyak menyimpan potensi lainnya. Antara lain, potensi jasa lingkungan, potensi objek wisata budaya, potensi wisata alam serta potensi objek wisata alam,” papar alumni Prodi Pendidikan Biologi UMM angkatan 1993 ini. Untuk meningkatkan kerjasama pengelolaan taman nasional, BBTN-BTS telah bekerjasama dengan beberapa pihak terkait, mulai dari instansi pemerintah, perusahaan swasta, perguruan tinggi serta organisasi internasional. “Misalnya dalam pemanfaatan jasa lingkungan air, kami bekerjasama dengan pemerintah desa untuk pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga dan pertanian. Selain itu, dalam aspek pembangunan maupun penyempurnaan infrastruktur wisata alam, kami bekerjasama dengan perusahaan swasta, juga bantuan sarana dan prasarana bagi paguyuban pelaku wisata,” lanjut Wahyudi. Di akhir sesi, Wahyudi juga memberi pesan moril kepada peserta. Ia menyebut, aspek penting dalam pengelolaan potensi-potensi di atas dapat berjalan baik dengan tidak mengutamakan kepentingan sesaat dan mengorbankan kepentingan masa depan. “Mari bergandeng tangan menjaga kelestarian hutan,” pungkasnya. (can/han)
Roadshow AFI 2016, MAFI Fest Nominasi Apresiasi Festival Film Terbaik

SEBELUM nantinya acara puncak Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 digelar di kota Manado, Sulawesi Utara pada 8 Oktober 2016, AFI 2016 melakukan roadshow ke beberapa kota, yaitu Banjarmasin, Makassar, Padang, dan Malang. Di Malang, roadshow diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama dua hari, Jumat-Sabtu (30/9-1/10). Dipilihnya UMM sebagai lokasi roadshow, menurut Kepala Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film)Kemendikbud RI Maman Wijaya,lantaran komunitas film di UMMgaungnya sudah terdengar ke seantero Nusantara. Terlebih dengan masuknya gelaran tahunan apresiasi film milik UMM, Malang Film Festival (MAFIFest) ke salah satu nominasi, yaitu apresiasi festival film. Pada nominasi tersebut, MAFI Fest akan bersaing dengan empat festival lainnya, yaitu Denpasar Film Festival, Anti-Corruption Film Festival, Jogja-Netpac Asian Film Festival, dan Jakarta Documentary & Experimental Film Festival. Di antara kelima festival yang masuk nominasi, MAFI Fest merupakan satu-satunya festival film garapan mahasiswa, mengingat festival lainnya merupakan garapan sineas profesional. “Ini merupakan awal kerjasama yang baik. Mudah-mudahan menghasilkan sesuatu yang lebih produktif di masa depan. Kami berharap dari Malang ini,terutama dari Malang Film Festival, akan lahir sineas-sineas unggul, yang bisa bicara di kancah nasional maupun internasional,” harap Maman. Tahun depan, lanjut Maman, UMM dan Pusbang Film akan mengagendakan kerjasama yang lebih konkrit. “Pak menteri sangat concern, terutama dalam pengembangan film. Serta mendorong para komunitas perfilm untuk maju,” lanjut Maman. Terkait rangkaian acara roadshow AFI 2016 di UMM, beberapa kegiatan yang digelar yaitu nonton bareng (nonbar) dan diskusi film Sepatu Dahlan bersama sang pemeran utama, Donny Damara pada Jumat (30/9) di UMM Dome, dilanjurkan nonbar film Princess, Bajak Laut dan Alien pada Sabtu (1/10) di alun-alun Kota Malang. Film Sepatu Dahlan merupakan karya inspiratif garapan sutradara Benni Setiawan yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama mengangkat kisah sosok Dahlan Iskan. Setelah film selesai, para penonton yang mayoritas mahasiswa diajak berdiskusi terkait perkembangan perfilman tanah air. Donny Damara yang sekaligus bertindak sebagai Ketua Panitia AFI 2016, sangat mengapresiasi kegiatan nonbar tersebut. Menurutnya, film yang baik adalah film yang tidak memiliki jarak dengan para penontonnya. Nonbar, baginya, adalah salah satu cara efektif untuk meniadakan jarak tersebut. “Kegiatan pemutaran film seperti nonbar kali ini merupakan salah satu kesempatan langka untuk lebih mendekatkan jarak antara para sineas tanah air dengan para penikmat film. Dan seharusnya, kegiatan-kegiatan semacam ini lebih sering diadakan, sebagai wadah edukasi terhadap perfilman tanah air,” ucap Donny saat ditemui di sela-sela pemutaran film. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan menyambut baik gelaran AFI 2016. “Roadshow AFI digelar di UMM, ini tidak lain dalam rangka memberikan penajaman cara berpikir kita, sehingga memperoleh sesuatu yang produktif dan edukatif. Ini bagus bagi sineas muda UMM,” kata Fauzan.(acs/han)