RS UMM Latih Perawat Tangani Sindrom Koroner Akut

PERHIMPUNAN Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Komisariat Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) mengadakan Seminar dan Workshop Keperawatan Sindrom Koroner Akut (SKA), Ahad (2/10) di Museum Tubuh Jawa Timur Park I, Malang.Kegiatan yang diikuti 70 tenaga keperawatan se-Jawa Timur ini untuk mengedukasi pentingnya kesehatan jantung sebagai alat kerja pernafasan manusia, khususnya terkait penanganan penyakit sindrom koroner akut. Menurut dokter speasialis jantung RS UMM dr Andi Wahjono Adi SpJp, penyakit SKA merupakan salah satu penyakit pembuluh darah yang disebabkan penyumbatan dan pengurangan pasokan oksigen secara tiba-tiba. Solusinya, kata Andi, dengan memasukkan selang kateter ke dalam pembuluh darah untuk dipasangring/stent. Andimenjelaskan, penyumbatan pembuluh darah ini dikarenakan beberapa hal, seperti merokok, hipertensi, atau keturunan keluarga. “Biasanya gejala awal yang sekaligus dapat menyebabkan kematian itu adalah angin duduk, dalam istilah masyarakat awam,” ujarnya. Solusi yang dilakukan bukan dikerok, lanjut Andi, tapi dilakukan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dengan memasukkan stent ke dalam tubuh tanpa pembedahan. Materi lain yang disampaikan pada kegiatan ini yaitu tentang peran perawat dalam pelaksanaan door to balloon oleh ketua PPNI Komisariat RS UMM Teguh Santoso AMdKep. Teguh menjelaskan bagaimana seharusnya perawat berperan dalam operasi sehingga kesalahan dapat diminimalisir. Menurutnya, peran perawat sangat vital dalam tindakan PCI seperti mencegah dan mendeteksi dini potensial komplikasi, memberikan pendidikan pada pasien dan keluarga serta rehabilitasi. “Riwayat pasien dan riwayat pembehan sebelumnya juga perlu diperhatikan oleh perawat sebelum tindakan PCI dilaksanakan,” ujar salah satu perawat Kateter Laboratorium tersebut. Selepas seminar,peserta diajak mengunjungi museum jantung untuk menyaksikan secara langsung implementasi dari pemasangan kateter. Saat ini,di Malang pemasangan kateter hanya bisa dilakukan di dua RS, yaitu RSUD Saiful Anwar dan RS UMM Menurut ketua pelaksana seminar Fandy Dharmawan SKep Ns, di Malang Raya hanya terdapat limaperawat yang khusus menguasai bidang Kateter Laboratorium. “Dua diantara limaperawat tersebut berada di RS UMM,” jelasnya. Fandy berharap,dengan diselenggarakannya acara ini,para perawat memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang penanganan sindrom koroner akut.“Saat ini yang terserang penyakit jantung tidak hanya yang tua saja, namun yang masih muda pun sudah berpotensi terkena penyakit jantung,” pungkasnya.(jal/han)

Film ‘Play On’ Karya Mahasiswa UMM Bakal Diputar di Asia Pacific Festival

MESKI sempat diguyur hujan, hal itu tak menyurutkan minat masyarakat untuk nonton bareng (nonbar) roadshow Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 yang dihelat di Alun-Alun Kota Malang, Sabtu (2/10) malam. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang turut mendukung gelaran dua hari ini juga memutar film garapan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Studi Sinematografi Kine Klub UMM lewat filmnya, Play On. Film yang pada 2015 lalu sempat diputar di Guangxi Normal University China ini akan kembali dipertontonkan di Asia Pacific Festival pada akhir Oktober 2016 di Bandung. Film bedurasi 15 menitan ini melibatkan 30 kru anggota Kine Klub UMM yang berasal dari latar belakang program studi berbeda. Produser film Play On Rindya Fery Indrawan menjelaskan, judul “Play On” dalam film tersebut memiliki dua makna sekaligus, yang pertama play on merupakan kata dari bahasa Inggris yang memiliki arti “mainkan”, dan yang kedua merupakan plesetan dari kata playonan yang berarti “berlari-lari”. Film ini mengangkat tentang seorang anak kecil bernama Deva yang memadukan pendekatan modern dan tradisional dalam bermain. Dalam film ini, Deva menggunakan tablet untuk membangun strategi pemenangan permainan tradisional gobak sodor. Film ini, kata Rindya, sekaligus membuktikan keberadaan teknologi tak selamanya membawa pengaruh buruk bagi fase bermain anak-anak. Sebaliknya, dengan memanfaatkan teknologi, Deva dengan laku sebagai seorang anak kota yang disekolahkan di desa, mampu menampilkan sudut pandang berbeda tentang bagaimana teknologi jika digunakan dengan tepat, dapat mengembangkan keterampilan anak-anak. Rindya mengatakan, salah satu kendala dibuatnya film ini yaitu cuaca. “Karena sering hujan, jadi proses produksi agak molor. Rehat sebentar, terus kita shooting lagi,” curhat Rindya yang saat membuat film tersebut, yaitu pada 2014, berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan dan Perikanan UMM. Devalia Ilafi Savani, salah satu pemeran Play On juga turut hadir dalam pemutaran film tersebut. Siswi yang kini duduk di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 5 Kota Malang ini mengaku senang filmnya bisa turut diputar dalam Roadshow Festival Film berskala nasional ini. “Selama main film, cuma butuh percaya diri aja. Pokoknya aku yakin, kalau semua orang punya bakat tersendiri,” kata Deva. Kabar baik lainnya, gelaran festival film besutan Kine Klub UMM, yaitu Malang Film Festival (MAFI Fest) masuk dalam nominasi Apresiasi Festival Film. Pada nominasi tersebut, MAFI Fest akan bersaing dengan empat festival lainnya, yaitu Denpasar Film Festival, Anti-Corruption Film Festival, Jogja-Netpac Asian Film Festival, dan Jakarta Documentary & Experimental Film Festival. Di antara kelima festival yang masuk nominasi, MAFI Fest merupakan satu-satunya festival film garapan mahasiswa, mengingat festival lainnya merupakan garapan sineas profesional. (can/han)

Hadirkan Pakar dari New Zealand, UMM Kembali Gelar Workshop Jurnal Internasional

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus berupaya meningkatkan produktivitas penulisan jurnal bagi para dosennya. Salah satunya, melalui Workshop Kepenulisan Jurnal Ilmiah Internasional yang diadakan oleh Internasional Relations Office (IRO) di Ruang Sidang Senat UMM, Jumat (2/9). Dalam workshop ini, IRO mengadirkan pembicara Assoc Prof Tim Pasang dari Auckland University of Trchnology, New Zealand. Tim, sapaan akrabnya, memang dikenal sangat mumpuni di bidang ini.Hal itu di antaranya dapat dilihat dari portofolionya yang telah memiliki lebih dari 30 jurnal internasional. Kehadiran Tim di UMM dipandang relevan karena para dosen dapat menimba ilmu dan pengalaman Tim di bidang jurnal internasional. Pada paparannya, Tim mengatakan, sebagai dosen, ada tiga poin yang harus diperhatikan yakni teaching, service, dan research. Dalam konteks Indonesia, tiga poin itu kita kenal dengan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian pada masyarakat. Bagi Tim, agar kualitas kita terus meningkat, yang terpenting adalah keterbukaan. “Jangan jadi orang yang merasa pintar kemudian menutup diri. Janganlah kita rakus,” ungkapnya. Tim menambahkan, ketika ada proyek penelitihan jangan dipaksanakan untuk dikerjakan sendiri. “Jika ada proyek sebaiknya dikerjakan bersama-sama dengan teman, terutama tema yang memiliki kajian ilmu yang berbeda. Sehingga hasilnya akan lebih cepat dan berkualitas.” Selain itu, kata Tim, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mempercepat penulisan jurnal internasional hingga ter-publish. “Menulislah sesuai dengan bidang yang kita kuasai, berkolaborasilah dalam melakukanpenelitihan sehingga ada tim diskusi, dan tentunya harus ada fasilitas pendukung sebagai penunjang dilajukannya riset tersebut,misalnya perpustakaan atau library of open access journals. Dengan begini kalian akan mudah untuk membuat jurnal internasional,” papar pria yang mahir berbahasa Sunda ini. Wakil Rektor IUMM yang hadir di acara ini mengatakan, UMM memiliki banyak dosen potensial. Namun, dari 56 prodi di universitas,guru besar yang dimiliki hanya 13 orang. “Semoga kegiatan ini tak hanya berhenti pada workshop namun juga ada produk jurnal internasionalnya. Paling tidak,calon guru besar punya dua artikel yang ter-publishdijurnal internasional karena ini juga bagian dari internasionalisasi UMM,”tuturnya. (nov/han)