Prodi Ilmu Pemerintahan Kupas Isu Nasionalisme di Masyarakat Perbatasan

SANTERNYA isu-isu yang terjadi di wilayah terluar perbatasan Indonesia menggugah program studi Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meningkatkan jiwa nasionalisme pada mahasiswanya melalui orasi ilmiah, Senin (10/10) di Auditorium UMM. Kegiatan ini mengangkat tema “Peran Pemerintah dalam Penguatan Nasionalisme Masyarakat di Perbatasan”. Menghadirkan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM Dr Saiman MSi, acara ini sekaligus respon terhadap sejumlah isu yang tengah hangat, di antaranya tertangkapnya kapal ilegal negara asing penangkap ikan di wilayah perairan Indonesia dan insiden lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan di wilayah selat Makassar. Tema ini dipilih selain karena semakin terancamnya wilayah perbatasan Indonesia, juga karena tema ini sama dengan disertasi pembicara. Menurut Saiman, wilayah perbatasan Indonesia merupakan wilayah yang krusial dan strategis karena berbatasan langsung dengan kedaulatan negara lain. Oleh karenanya, bukan tidak mungin kedekatan secara geografis dengan negara lain tersebut yang akan melunturkan nilai-nilai nasionalisme warga di sana. “Ada slogan begini,” katanya, “Garuda di dadaku, Malaysia di perutku,” lanjutnya. Hal ini kerap terdengar, karena secara kependudukan mereka ikut Garuda, ikut Indonesia, tapi untuk kebutuhan sehari-hari mereka berbelanja bahkan di Malaysia. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, selama ini kondisi medan yang sulit, ketertinggalan pembangunan, serta keamanan yang tidak terjamin merupakan masalah umum yang terjadi di wiayah perbatasan. Pembangunan seringkali bersifat parsial. “Kendati ada program pembangunan, dana yang digelontorkan pemerintah bisa jadi malah habis untuk ongkos kirim bahan material bangunan,” ujar Saiman. Belum lagi permasalahan terkait kesehatan, fasilitas dan kualitas pendidikan yang memprihatinkan, serta luas dan sulitnya medan sebagai akses ke perbatasan. Belum lagi, masalah-masalah khusus seperti sosial budaya, sosial ekonomi, atau politik pemerintahan. “Tema tentang perbatasan wilayah Indonesia merupakan penelitian disertasi Dr Saiman. Berlatar belakang hal itu, kami ingin memberi wawasan dan penguatan bagaimana nasionalisme di wilayah perbatasan,” ujar Hevi Kurnia, MM Gov, kepala program studi IP UMM. Tema ini menyedot antusias mahasiswa terutama saat sesi tanya jawab. Beberapa mahasiswa, utamanya yang berasal dari Sulawesi dan Kalimantan memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis terkait pencegahan dan penanggulangan dampak hilangnya nasionalisme bagi masyarakat daerah terluar Indonesia. Beberapa program pemerintah jadi jawabannya. Mulai tahun depan, Kementerian Kesehatan mewajibkan lulusan dokter spesialis untuk terjun ke daerah, khususnya daerah terpencil dan perbatasan. Juga, Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (SM3T) yang sudah digalakkan Kemenristek Dikti beberapa tahun silam. “Pemerintah memang sudah semestinya memikirkan upaya-upaya untuk pembangunan di daerah perbatasan. Bangun SDMnya, perbaiki kualitas pendidikan dan kesehatan,” pungkas Saiman. (ich/han)
Inisiasi Lesson Study di Malang, UMM Segera Gelar Konferensi Internasional

POLA pembelajaran lesson study dengan cirinya yang kolaboratif dan berbasis pada komunitas belajar dinilai dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Dimulai dari Jepang, pendekatan ini kini telah dipraktekkan di banyak negara dan telah membantu sekolah-sekolah di seluruh dunia berkembang menjadi komunitas belajar. Menyadari hal itu, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya terus mengembangkan pola pembelajaran tersebut. Pada 3-5 November mendatang, di UMM akan diadakan International Conference of Lesson Study (ICLS) menghadirkan presiden World Association on Lesson Study (WALS) WALS Prof Christine Lee PhD, pendiri Lesson Study for Learning Community (LSLC) Prof Manabu Sato PhD, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, Japan International Cooperation Agency (JICA) Expert Ryo Suzuki dan Presiden Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI) Sumar Hendayana PhD Dosen FKIP UMM yang juga pengurus pusat ALSI Drs Nur Widodo MKes menjelaskan, Ini merupakan konferensi tahunan yang menjadi ajang berbagi pengalaman dan praktek lesson study serta mendiskusikan isu-isu kekinian yang berkaitan dengan pengajaran, pembelajaran dan penelitian tentang lesson study. UMM sendiri, kata Nur Widodo, sudah aktif terlibat di lesson study sejak 2011. Saat ini, bahkan tiga dosen FKIP UMM, yaitu Nur Widodo, Dr Roro Eko Susetya Rini MSi dan Dra Sri Wahyuni MKes tergabung di salah satu organisasi internasional di bidang lesson study, yaitu WALS. Melalui WALS, ketiga dosen ini selalu aktif dalam konferensi internasional seputar lesson study. Menurut Nur Widodo, ada empat prinsip utama dalam lesson study. Pertama, pembelajaran harus bisa memenuhi hak siswa sehingga tidak ada yang terabaikan. Kedua, pembelajaran itu bagaikan taman artinya siapapun boleh menikmatinya dan juga harus terbuka untuk semua orang. Ketiga, pembelajaran berpusat pada siswa. “Artinya bukan guru yang diperhatikan kesalahannya, namun bagaimana siswa bisa memahami pelajaran dengan baik dan benar,” jelas Nur Widodo. Keempat, lanjutnya, pembelajaran harus yang berkualitas. Guru harus menjadi fasilitator yang baik agar proses belajar siswa berlangsung secara bermakna dan dampaknya jangka panjang. “Dengan diterapkannya lesson study di setiap sekolah akan menjadikan siswa paham tidak hanya secara jangka pendek, namun juga jangka panjangnya,” papar Nur Widodo yang juga tim utama pendiri ALSI ini. Sebagai inisiator lesson study di Malang, UMM saat ini tengah bekerjasama dengan pemerintah kota Batu dan salah satu perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pendidikan, Benesse untuk mengimplementasikan lesson study di Kota Batu. (jal/han)