Pascasarjana UMM Kritisi Kebijakan Konservasi Alam Kota Batu

JELANG peringatan Hari Jadi Kota Batu ke-15 yang jatuh pada 17 Oktober, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (PPs UMM) bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Usaha Strategis dan Advokasi Pelestarian Alam (Pusaka) menggelar diskusi publik bertajuk “Urgensi Penguatan Konservasi Alam Kota Batu di Era Otonomi Daerah” Malang, Kamis (13/10) di Aula PPs UMM. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri, yaitu Ketua Yayasan Pusaka Malang Bambang Parianom, Pakar Lingkungan UMM Dr Abdul Kadir Raharjanto, serta Direktur/Aster Group Bidang Usaha Toko Retail Kosmetik Kota Malang sekaligus Ketua Komunitas Malang Bersatu, Agus Endra. Bambang Parianom mengatakan, sejak ditetapkan sebagai daerah otonomi pada 2001 silam, di tengah pertumbuhan pembangunan yang begitu pesat, Kota Batu ternyata menyimpan berbagai persoalan pelik menyangkut lingkungan. “Otonomi daerah, baik undang-undang yang keluar pertama yakni nomor 22 tahun 1999 termasuk undang-undang yang melahirkan Kota Batu nomor 1 tahun 2001 itu spiritnya pemanfaatan potensi alam. Bukan perlindungan wilayah dan aset ekologi. Sehingga kalau otonomi itu ekonomi yang menonjol, ada kecenderungan terjadi paradox antara otonomi daerah dan konservasi ekologi. Inilah yang saya anggap keprihatinan,” paparnya. Menurutnya, ada tiga strategi berkelanjutan dan bersifat penyelamatan yang musti ditempuh Kota Batu meski ada di era otonomi daerah. Yakni strategi struktural, kultural, dan teknis sektoral. Strategi Struktural kata Bambang, yakni pemahaman politik masyarakatnya. “Pemahaman politik menempatkan pembangun Batu yakni penyelamatan wilayah dan ekologi itu yang harus menonjol. Inilah yang akan melahirkan suatu kebijakan dan regulasi pendukung,” papar Bambang. Sementara strategi kultural menerangkan bagaimana agar seluruh lapisan masyarakat dapat ikut mendukung gerakan. Sedangkan, lanjut Bambang, strategi teknis sektoral yakni mendorong pemaksimalan kerja dinas terkait. Selaras dengan Bambang, Abdul Kadir menjelaskan, jika dilihat dari sisi ekologi, permasalahan utama pada lingkungan bukan pada lingkungannya. Tapi permasalahan utama lingkungan di mulai dari permasalahan sosial. “Apabila kebutuhan-kebutuhan sosial meningkat, maka kebutuhan ekonominya juga akan meningkat. Pada saat kebutuhan ekonomi meningkat, dan ketika tidak ada hal lain yang bisa digunakan, maka manusia akan mengekploitasi alam sehingga alamnya akan rusak,” papar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM ini. Sementara itu, Agus Endra mengatakan, perkembangan ekonomi tidak akan berlanjut dan akan sia-sia jika kita tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup. “Kalau kita hanya mempertimbangkan faktor ekonomi, maka lingkungannya rusak itu akan menjadi boomerang bagi kita. Mau tidak mau, ketika kita membangun kota kita, maka faktor lingkungan hidup itu harus dikedepankan juga,” jelas Agus Endra. Wakil Direktur III PPs UMM Dr Wahyudi Winarjo menerangkan, PPs UMM ingin terlibat dalam dinamika kehidupan nyata di masyarakat. “Kita tidak ingin menjadi ‘menara gading’. Kita tidak hanya bicara konsep, tetapi kita ingin mengajak komponen Universitas Muhammadiyah Malang terlibat langsung dalam persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyarakat,” kata Wahyudi. Menurutnya, perguruan tinggi sebagai salah satu pilar demokrasi serta masyarakat sebagai civil society selayaknya dapat bergerak bersama secara independen membangun bangsa dan negara sesuai visi Negara Kesatuan Republik Iindonesia (NKRI). Diskusi dihadiri sejumlah elemen masyarakat antara lain anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), komunitas masyarakat Kota Batu,  Non Government Organization (NGO), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta mahasiswa strata 1 dan 2 UMM. (acs/han)

KPK Ajak Mahasiswa UMM Lawan Korupsi

POSISI Indonesia sebagai 20 besar negara terkorup mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanamkan mental anti-korupsi. Bekerja sama dengan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), KPK mengadakan kuliah tamu untuk menggembleng mental anti-korupsi pada mahasiswa baru UMM, Kamis (13/10), Berlangsung di UMM Dome, kegiatan ini mengangkat tema “Menyiapkan Generasi Hukum yang Bersih dan Antikorupsi” menghadirkan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK, Sujanarko. Dalam paparannya, Sujanarko mengungkapkan, palayan publik pemberi suap terbanyak yaitu kepolisian. Ia menjelaskan, dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara, polisi Indonesia paling banyak melakukan suap, yakni mencapai 75 persen. Sedangkan jaksa, hakim, serta penyidik sebesar 66 persen, sementara instansi pendidikan sebesar 21 persen. Sedangkan, jabatan yang paling banyak melakukan korupsi tertinggi dipegang oleh swasta sebesar 142 kasus, pejabat eselon 1, 2, dan 3 sebanyak 129 kasus, dan anggota DPR/DPRD 119 kasus. “KPK sempat terheran, karena malah swasta-lah yang paling banyak kasusnya. Jelas, uang yang dimiliki swasta berkali-kali lipat dibandingkan APBN. Misalnya, APBN sebesar 600 Triliun, uang yang dimiliki swasta bisa 1500 Triliun. Uang inilah yang digunakan untuk ‘mempermainkan’ para pejabat negara. Padahal, KPK tidak berwenang menindak swasta. Ini masalahnya,” urai Sujanarko. Sujanarko menekankan, apapun profesi yang dipilih setelah lulus, haruslah berpegang teguh pada tiga poin penting, yakni ber-antikorupsi, ber-spesialisasi, dan ber-integritas. Ber-antikorupsi artinya harus bertekad untuk tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun, ber-spesialisasi dimaksudkan agar apapun profesinya, haruslah menjalankan pekerjaan sesuai jobdesk yang sesuai dengan bidang profesionalnya. “Seorang lawyer,” contoh Sujanarko, “Tugasnya adalah membela klien. Kalau untuk urusan melakukan lobi, lalu lawyer ini ikut main golf dengan kliennya untuk mempermulus urusannya, ini namanya melakukan hal yang tidak berkepentingan dengan kaidah profesinya. Inilah yang disebut tidak ber-Spesialisasi,” paparnya. Yang ketiga, ber-integritas. Integritas bermakna menjalankan sesuatu yang baik dan benar tanpa  diawasi. Hal ini, menurut Sujanarko, perlu dilatih dan perlu model yang nyata. Langkah awal untuk membentuk pribadi berintegritas ini bisa dimulai dengan membuat resolusi pribadi yang dijalankan dengan penuh komitmen. Pada acara ini, antusiasme 400 mahasiswa yang menjadi peserta tampak dari banyaknya pertanyaan bernada kritis pada Sujanarko. Salah satu yang dianggap menarik olehnya adalah pertanyaan tentang hal apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk membantu KPK. “Orang-orang terbaik dari Fakultas Hukum di Indonesia ini yang nantinya akan jadi generasi penerus kami di KPK. Saat ini KPK memiliki program Indonesia Memanggil. Lewat program ini, KPK akan berkeliling ke kampus-kampus untuk mencari mahasiswa akhir siap lulus yang berintegritas dan berkomitmen tinggi untuk bergabung dengan KPK,” jawabnya. Dekan FH UMM Dr Sulardi SH MSi membenarkan adanya program Indonesia Memanggil KPK. Sampai saat ini, UMM sering mengajukan alumninya untuk mengikuti seleksi menjadi bagian dari KPK. Sulardi menegaskan, tantangan lulusan FH untuk masuk ke dunia hukum sebagai penegak hukum terbilang susah. Pasalnya, para koruptor kini mempunyai gate keeper, yakni pihak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan koruptor seperti hubungan darah  atau bisnis, bahkan tidak berada pada lokasi yang berdekatan, tapi pihak itulah yang ‘bertugas’ untuk menyimpan uang-uang jarahan para koruptor. “Lewat kuliah umum ini kami tanamkan jiwa bersih dan antikorupsi, apalagi pesertanya mahasiswa baru. Nantinya, ketika mereka berkiprah di dunia kerja, mereka akan menjadi profesional yang berintegritas seperti yang dikatakan Pak Sujanarko,” ujar Sulardi mengakhiri. (ich/han)

Mahasiswa UMM Dampingi Siswa Singapura Lakukan Analisis Pasar

SEBANYAK 22 siswa Singapore Polytechnic (SP) Business School bekerjasama dengan dua perusahaan multinasional, yaitu Johnson and Johnson dan Panasonic melakukan riset pasar (market research) di tiga negara, yaitu Indonesia, Thailand dan Vietnam. Di Indonesia, riset dilakukan di Malang didampingi 8 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain melakukan riset, selama tiga pekan ini, yaitu Mulai 24 September hingga 13 Oktober 2016, ke-22 siswa ini juga mengikuti empat seminar seputar bisnis yaitu marketing, cultural and regulatory issues, economic, dan supply chain management. Bukan hanya itu, siswa juga diajak melakukan company visit, berkunjung ke sejumlah perusahaan farmasi dan elektronik yang berkedudukan di Malang dan daerah seputar wilayah Jawa Timur. Sementara untuk riset, menurut Koordinator Program Perwakilan UMM Veri Kurnia Aditama, ada sejumlah tahapan yang dilalui peserta. Pertama, tahap investigasi ke masyarakat. Di sini, siswa SP Business School turun ke 22 rumah warga dan 6 apotek di sekitarUMM guna melihat apa saja alat elektronik yang dipakai dan juga kebutuhan hidup apa yang sering masyarakat gunakan. “Dengan adanya investigasi ini, siswa Singapura bisa mengetahui secara langsung dan mendetail kebutuhan pasar  yang nantinya menjadi rekomendasi bagi dua perusahaan tersebut,” jelas staf International Relation Office (IRO) UMM tersebut. Dari hasil investigasi, ditemukan sejumlah permasalahan, diantaranya masyarakat pada umumnya masih susah mencari sinyal televisi sehingga ketika waktu berkumpul dengan keluarga untuk menonton televisi terganggu. Tidak hanya itu, untuk produk keseharian masyarakat ditemukan perusahaan Johnson and Johnsonbelum banyak mengeluarkan produk oral care. Para siswa itu juga mencari sejauh mana tingkat konsumsi masyarakat Indonesia pada produk oral care dan home care. “Oral care ini seperti misalnya penyegar mulut atau juga perawatan badan. Sedangkan home care ini misalnya seperti pasta gigi, sabun dan semacamnya,” jelas Veri lebih lanjut. Setelah melakukan market research, mahasiswa SP melakukan analisa untuk melihat kebutuhan masyarakat dan apa saja yang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Pada program yang diadakan selama tigaminggu tersebut, ditemukan hasil bahwa masyarakat Indonesia masih banyak yang menggunakan produk Panasonic untuk alat elektronik. “Untuk kebutuhan seperti mesin cuci dan Air Conditioner (AC) milik Panasonic belum banyak digunakan oleh masyarakat,” jelas Veri pada penutupan program Tri City (13/10) di Auditorium UMM. Menurut Koordinator Program dari SPBusiness School, Tan Lii Chong,hasil penelitian yang dilakukan oleh 22 siswa Singapura dan 8 mahasiswa UMM ini belum hasil akhir karena siswa SP masih akan ke Thailand dan Vietnam untuk melakukan penelitian serupa. Bagi Tan Lii Chong, waktu 3 minggu untuk pelaksanaan program ini merupakan waktu yang sangat pendek untuk melakukan penelitian di Indonesia. “Kedepannya akan kami kaji kembali hasil penelitian ini ketika sudah selesai ke dua negara lainnya,” ujar salah dosen SP Business Scholl tersebut. Menambahkan hal itu, salah satu siswa SP Chia Kerxin menyatakan, Indonesia adalah negara yang sangat ramah.Chia bahkan takjub melihat bagaimana UMM mendampingi siswa Singapura. “Kami sangat banyak berterimakasih kepada UMM dan semua buddy yang mendampingi kami selama tigaminggu. Kalian sudah mengorbankan waktu untuk terus mendampingi kami,” ujar Chia saat penyampaian kesan dan pesan. Asisten Rektor UMM Koordinator Bidang Kerjasama Luar Negeri Drs Soeparto MPd mengaku senang dan bangga bisa terus bekerjasama dengan SP dalam berbagai bidang. “Harapan besarkami agar UMM bisa terus dilibatkan dalam berbagai kerjasama dengan  SP,” jelas Soeparto.(jal/han)