Kunjungi UMM, Dubes Tertarik Dirikan Australian Corner

BANYAKNYA kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan kampus-kampus di Australia membuat Duta Besar (Dubes) Australia untuk IndonesiaPaul Grigsontertarik untuk datang mengunjungi UMM, Selasa (22/11). Kegiatan Grigson di UMM meliputi kuliah tamu dengan mahasiswa, dialog dengan jajaran rektorat untuk pengembangan kerjasama, serta mengunjungi perpustakaan UMM. Saat berkunjung ke perpustakaan, khususnya ketika melihat-lihat American Corner, China Corner, Thailand Corner dan Saudi Arabian Corner, Grigsonlantas tertarik untuk mendirikan Australian Corner di UMM. Terlebih, sejak 2007 UMM telah menjalin kemitraan strategis dengan Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies (ACICIS), lembaga konsorsium internasionalberanggotakan 24 universitasternama di Australia. UMM juga saat ini telah memiliki 32 orang dosenlulusan Australia, dan tengah berupaya membentuk forum alumni Australia. Rencana tersebut, menurutAsisten Rektor Bidang Kerjasama Soeparto,dimaksudkan untuk pengembangan dan pemberdayaan alumni Australia. “Sebab, selama ini belum ada organisasi alumni Australia di Indonesia. Kalau alumni Amerika itu sudah ada organisasinya. Dari kedutaannya juga ada supporting untuk kegiatan berupa penelitian, pengabdian masyarakat, pemberdayaan organisasi sertanetworking,” terang Soeparto. Sementara itu pada sesi kuliah tamu, Paul Grigsonbanyak memberikan informasi seputar hubungan Indonesia dan Australia, juga peluang-peluang yang dapat diperoleh mahasiswa Indonesia di Australia. “Penting sekali untuk meningkatkan hubungan antara Australia dan Indonesia, khususnya dibidang pendidikan. Saya ingin mengajak warga Indonesia belajar ke Australia. Kami juga sangat mendukung alumni Australia yang saat ini mengajar di sini,” paparGrigsonyang juga mantan Wakil Sekretaris Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australiaini. Pada Maret 2017 mendatang, UMM akan kembali menjalin kerjasama dengan salah satu universitas ternama di Australia, University of South Australia (UniSA) berupa program internship bagi mahasiswa. (acs/han)

Utamakan Pelayanan, BPSDM Latih Mahasiswa Pekerja Paruh Waktu

PELAYANAN merupakan salah satu dedikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai lembaga pendidikan. Perlu adanya pelayanan yang baik dan disiplin dilakukan oleh setiap karyawan UMM, termasuk mahasiswa pekerja paruh waktu (part time). Untuk itu, melalui pelatihan yang berlangsung di Auditorium UMM (20/11) Badan Pengendali Sumber Daya Manusia (BPSDM) UMM membekali mahasiwa part time tentang pelayanan prima. Wakil Rektor III Dr Sidik Sunaryo MHum menjelaskan, pelatihan pelayanan prima ini merupakan salah satu wujud konkrit tanggung jawab UMM di luar kewajiban memberikan upah. Selain itu, kegiatan ini juga bentuk peduli UMM kepada mahasiswa yang mau bekerja sambil kuliah. “UMM peduli dalam artian UMM membuka ruang untuk memberi pengalaman kerja pada mahasiswanya,” jelas Sidik lebih lanjut. Menurut Sidik, orang bekerja itu memiliki spirit tertentu. Pertama, lanjut Sidik, spirit teologis atau ketuhanan. Semua orang bekerja hakikatnya bukan hanya untuk mencari upah namun bekerja itu adalah bentuk pengabdian manusia terhadap tuhannya. Menurut dosen Fakultas Hukum (FH) UMM tersebut, orang bekerja mempunyai beberapa unsur ketuhanan. “Setiap instansi yang mempekerjakan harus memberikan waktu khusus untuk beribadah seperti sholat dan ibadah lainnya tergantung kepercayaannya,” jelasnya. Selanjutnya, spirit kedua adalah nilai kemanusiaan, karena bekerja hakikatnya adalah memanusiakan manusia dan hakikat dari layanan prima adalah memanusiakan manusia juga. Spirit ketiga yaitu unity, karena satu tempat kerja pasti memiliki satu tujuan yang sama. “Layanan prima ini harus diwujudkan secara bersama-sama. Karyawan part time dan full time harus mendukung dengan mendisiplinkan diri masing-masing,” papar Sidik. Kepala BPSDM UMM Prof Dr Ir Jabal Tarik MSi menyatakan, pelatihan pelayanan prima diadakan untuk mengedukasi karyawan part time. Menurut dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM tersebut, setiap karyawan harus memiliki kemampuan untuk melayani ekternal dan internal instansinya. “Dalam kegiatan ini tenaga part time yang statusnya masih mahasiswa kita bekali dengan berbagai kemampupan soft skill. Selain memang untuk memperbaiki pelayanan di setiap instansi, tenaga part time ini juga bisa menggunakan bekal ini untuk terjun ke dunia kerja nantinya,” jelasnya. (jal/han)