Hasil Karya Tugas Kuliah, Mahasiswa Agronomi Pamerkan Tanaman dalam Pot

PRODI Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM membuat inovasi baru dalam salah satu praktikumnya. Hasil praktikum mahasiswa agroteknologi UMM dipamerkan di depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM. Beberapa karya yang dipamerkan yaitu taman mini dalam pot dan taman mini dalam aquarium. Pameran tersebut merupakan realisasi mata kuliah arsitektur pertamanan. Sebanyak 63 karya mahasiswa semester 5 prodi Agroteknologi dipamerkan selama satu pekan (5-10/12). Praktikum yang dikerjakan adalah membuat dish garden dan teratorium. Dosen pengampu mata kuliah tersebut, Dr Ir Fatimah Nursandi MSi menjelaskan, dish garden adalah tanaman yang berada di dalam pot. Sedangkan, teratorium adalah tanaman yang berada di media yang transparan. Fatimah menjelaskan, pameran tersebut memiliki tujuan agar mahasiswa dapat mengerti bagaimana merawat tumbuhan dengan benar dan bagaimana mendesain tanaman dalam wadah yang ukurannya kecil. “Praktikum ini diadakan dengan tujuan agar mahasiswa mengerti bagaimana mengelola lingkungan sekaligus dapat belajar berwirausaha,” jelas dosen FPP UMM tersebut. Sebelumnya, mahasiswa prodi Agroteknologi juga diajak untuk terjun langsung ke lapangan dengan membuat taman instan. “Biasanya pada kegiatan seperti wisuda yang mengatur tamannya adalah mahasiswa agroteknologi yang sedang menempu mata kuliah ini,” jelas Fat, panggilan akrabnya. Fatimah menjelaskan, dengan memberikan penugasan dan dipamerkan maka mahasiswa tidak sembarangan dalam pembuatan tugas pertamanan tersebut. Banyak hal yang ingin dicapai dalam praktikum ini, lanjut Fatimah, diantaranya kesadaran mahasiswa tentang peluang usaha dalam bidang pertamanan sangat besar. Tidak hanya itu, Fatimah juga ingin mahasiswa mulai memperhatikan jenis-jenis tanaman disekitarnya. “Dish garden atau teratorium yang dibuat minimal dapat bertahan selama 3 bulan dan maksimal selama satu tahun,” ungkap Fatimah. Mahasiswa juga dididik berwirausaha dengan menjual karya praktikum tersebut sesuai dengan pengeluarannya. Hingga saat ini, lanjut Fatimah, sudah ada 9 tanaman yang terjual dari 63 tanaman yang di pamerkan, dan kemungkinan akan masih terus bertambah. Fat menganjurkan kepada mahasiswa untuk memberikan harga sesuai dengan biaya, tenaga dan pikiran yang telah dikeluarkan. “Tidak hanya balik modal saja yang penting, namun juga bagaimana mahasiswa bisa menghargai pemikiran dan tenaganya sendiri juga bagian penting,” jelasnya lebih lanjut. Tugas praktikum tersebut akan dilanjutkan dalam Program Keatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K). “Nantinya, produk praktikum itu akan diletakkan di setiap meja pejabat kampus seperti kantor wakil rektor atau wakil dekan untuk teratorium. Sedangkan untuk dish garden nanti akan diletakkan di tempat yang strategis seperti di depan kantor rektorat atau di depan kantor wakil rektor,” ujar Fat. (jal/han)
DPPM Dorong Dosen Perbanyak Menulis Buku Ajar

PENTINGNYA publikasi hasil penelitian dalam bentuk buku ajar mendorong Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM) mengadakan Workshop Penulisan Buku Ajar Berkualitas bagi dosen UMM, Selasa (6/12). Workshop ini menghadirkan Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM), Prof Dr Imam Suyitno MPd yang disandingkan dengan dosen program studi (Prodi) Bahasa Indonesia Dr Hari Windu MSi. Kegiatan diikuti 64 dosen yang sebelumnya telah mengajukan proposal pengajuan pembuatan buku ajar melalui program Intensif Program Penulisan Buku Ajar di Perguruan Tinggi (IPBA PT). IPBA PT sendiri merupakan kegiatan mempublikasian hasil penelitian civitas akademika UMM melalui kegiatan penulisan buku ajar yang ber-ISBN sebagai referensi perkuliahan di PT dan pengayaan wawasan masyarakat secara umum. Sebagaidosen, kata Imam, alangkah disayangkan jika bahan ajarnya yang dipergunakanbertahun-tahun tidak dibuat menjadi buku ajar.“Kalau kita ngajar bertahun-tahun tidak membuat buku kok eman-eman,” ujar Imam. Selain itu menurut Imam, dalam penulisan buku ajar, isinya setidaknya harus melingkupi tiga bagian. Yakni halaman pendahuluan, halaman nas (batang tubuh), dan halaman penyudah. Baginya, buku ajar yang bagus adalah bukuyang selesai ditulis. “Saya siap menjadi konsultan dalam penulisan buku ajar Bapak dan Ibu sekalian,” tegasnya. Sementara itu, Hari Windu menyoroti aspek kebahasaan dan laras penulisan. “Meski sudah berstatus dosen,banyak yangmasihmenganggap soal kebahasaan bukan hal yang penting,” serunya. Sehingga untuk memulai pembuatan buku ajar, Hari Windu mengajak seluruh peserta yang hadir untuk kembali mempelajari kaidah berbahasa yang baik dan benar. Salah satu yang patut diperhatikan antara lain perihal keterpahaman dan keterbacaan kalimat. “Keterpahaman dan keterbacaan kalimat bisa dinilai dari seberapa panjang kata yang kita digunakan, akan mempengaruhi pemahaman pembaca. Selain tentu juga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) seperti ejaan, tata bunyi, tata bahasa yakni pembentukan kalimat, juga penyusunan alinea dan paragraf,” pungkasnya. (can/han)