Jatim Dominasi Kejurnas Tapak Suci 2016

KONTINGEN Jawa Timur (Jatim) dikukuhkan sebagai Juara Umum pertama dalam gelaran Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Golongan Remaja VI Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Kamis (8/12). Jatim menyapu bersih 2 kategori sekaligus, yakni Tanding dan Seni.  Momen membanggakan tersebut langsung disambut gegap gempita peserta kontingen Jatim pasca diumumkan di Hall Dome Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai juara umum, Pimpinan Wilayah (Pimwil) Tapak Suci Putera Muhammadiyah Jatim memperoleh 2625 poin dengan menggondol 14 emas, 7 perak dan 7 perunggu. Sementara di  urutan ke-II diraih kontingen Pimwil Jawa Tengah dengan perolehan 1375 poin dan membawa 7 emas, 5 perak dan 3 perunggu, serta Juara Umum III diraih kontingen Pimwil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan perolehan 1300 poin dan membawa 5 emas, 6 perak, 10 perunggu. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Tapak Suci Putera Muhammadiyah M. Afnan Zamhari menyatakan bahwa event kejuaraan ini dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan para pendekar membina anak didiknya. “Pasca ini, semoga dapat menjadi bahan evaluasi untuk menjadikan para kader lebih baik lagi kedepannya,” kata Afnan. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan,berpesan bahwa ajang kompetisi bela diri yang sedang peserta ikuti setidaknya memiliki 2 misi. Pertama, misi keorganisasian. Menurutnya, diadakannya Kejurnas ini tidak lepas dari misi Kemuhammadiyahan. “Karena saudara merupakan duta Muhammadiyah di bidang bela diri, maka saudara memiliki tanggungjawab untuk menjadikan bela diri ini tidak hanya sekedar dapat membela diri, tapi juga membela persyarikatan,” papar Fauzan. Selain misi keorganisasian, lanjut Fauzan, kompetisi bela diri ini memiliki misi Keislaman. “Saudara harus menjadi orang yang bermanfaat. Kalau sekarang ini saudara berkompetisi, sebenarnya hal itu tidak lain memberikan pendidikan kepada saudara-saudara bahwa hidup ini harus berkompetisi untuk kemudian menjadikan saudara sebagai seorang pemenang,” ujarnya. Fauzan juga berpesan untuk para pemenang agar tidak membanggakan diri dan bersikap sombong. “Setiap kompetisi pasti ada yang kalah dan menang, namun pada hakikatnya semuanya adalah pemenang,” pungkasnya. (can/han)

Mahasiswa FEB Sasar Wirausaha Kuliner dan Industri Kreatif

KULINER dan industri kreatif menjadi tren wirausaha anak muda dewasa ini, karena memiliki potensi yang amat menjanjikan. Untuk itu, melalui bazaar wirausaha, Program Studi D3 Keuangan dan Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya memberi kesempatan bagi mahasiswanya untuk berkarir di bidang tersebut. Pada kegiatan yang diadakan di depan Gedung Kuliah Bersama II, Selasa (6/12) itu, produk yang ditawarkan beraneka rupa, meski didominasi kuliner. Menyajikan stan-stan kreatif mahasiswa D3 Keuangan dan Perbankan yang tengah menempuh matakuliah Kewirausahaan. Semuanya adalah mahasiswa tingkat akhir, yakni semester 5. “Ini adalah bentuk praktikum matakuliah Kewirausahaan. Mahasiswa diminta menuangkan ide kreatif wirausaha melalui bazaar ini. Tujuannya untuk membekali kemampuan mengawali dan mengembangkan wirausaha pada tahap pemula,” ungkap Yunan Syaifullah MSc, salah satu dosen yang tengah melakukan penilaian stan bazaar. Bazaar ini tak serta-merta digelar. Di minggu awal perkuliahan, mahasiswa diminta membuat proposal bisnis sebagai pengantar. Kelompok mahasiswa dengan proposal yang layak lalu maju untuk menyusun konsep bazaar. Selanjutnya, setelah Ujian Tengah Semester, barulah bazaar ini digelar. Total, 25 stan terpilih dari 3 kelas yang ada. Masing-masing stan digawangi oleh 4-5 mahasiswa. Meski merupakan bagian dalam praktikum, tapi tak semua stan yang dipamerkan kemarin merupakan stan ‘dadakan’. Di ujung utara stan, berdiri sebuah stan yang menjual beragam pakaian dan asesoris khas distro, Diamond Goblin namanya. Ternyata, stan ini adalah salah satu wirausaha yang dikembangkan mahasiswa di luar perkuliahan. Tak Cuma itu, sebuah stan yang menamakan diri Mix juga merupakan stan yang sehari-hari beroperasi dalam bentuk café kecil di daerah Sawojajar. Ini adalah inisiatif produktif dari 3 mahasiswa yang merupakan rekan sekelas. “Sudah mencoba wirausaha meski saat itu belum jadi mahasiswa. Mumpung masih muda,” ujar Gery Ardiansyah, mahasiswa semester 5 itu. Ada beberapa poin yang menjadi penilaian dosen, di antara produk kreatif, produk konsinyasi, harga, keindahan, kebersihan, kemampuan deskripsi produk, dan promosi. Yunan menilai, tema kuliner yang paling banyak disajikan mahasiswa merupakan bentuk kebutuhan dasar dan pasar masyarakat saat ini. “Harapannya, mahasiswa nanti punya bekal dan kemampuan serta bisa mengawali untuk jadi wirausahawan pemula. tak sebatas memulai, tapi juga bisa menindaklanjuti bisnis tersebut,” pungkas Yunan. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang digelar di lantai 4 GKB II, bazaar kali ini digelar di depan GKB II. Lokasi strategis yang dipilih menjadikan bazaar ini ramai dikunjungi mahasiswa maupun dosen UMM yang tengah melintas. Sehingga, rencana awal bazaar ditutup pukul 15.30, namun tengah hari ternyata sudah tutup lantaran dagangan sudah luders terjual. (ich/han)