PSIF Hidupkan Literasi Kritis Anak Muda

KECEPATAN penyebaran informasi melalui media sosial dan media online mengharuskan kita mencerna informasi secara lebih bijak dan kritis. Sebagai kelompok pribumi digital (digital native), kaum muda diharapkan menjadi aktor utama penggerak kedua media tersebut melalui literasi kritis. Merespon hal tersebut, Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Jaringan Islam Muda Muhammadiyiah (JIMM) menggelar diskusi gerakan literasi Muhammadiyah, Sabtu (10/12)di Ruang Sidang Senat UMM. Kepala PSIF UMM Dr Pradana Boy MA menyatakan, diskusi ini merupakan upaya untuk menghidupkan tradisi intelektual, khususnya di kalangan kaum muda. Menurut Pradana, membangun tradisi intelektual itu tidaklah mudah, perlu metode yang serius. Melalui cara ini, PSIF sekaligus hendak mengenalkan pada publik bahwa UMM gencar memperkaya khazanah intelektual melalui forum-forum diskusi. “Diskusi literasi adalah tradisi yang tengah kami bangun secara masifdan konsisten. Jika sebuah gerakan kecil dikerjakan secara konsisten maka gerakan tersebut akan membawa dampak yang besar bagi masyarakat,” jelas peraih gelar doktor dari Natonal University Singapore (NUS) ini. Agar tradisi ini kian kuat, pada 2017, PSIF akan mengadakan call for paper untuk kalangan muda untuk menulis dan berbicara tentang pemikiran maupun isu-isu terkini. Pradana berharap, sebagian besar narasumber yang berbicara adalah anak muda. “Selain itu, kami juga akan menghadirkan pembicara ahli sesuai dengan tema yang diangkat. Para ahli dihadirkan bisa dari internal UMM atau pakar dari luar UMM,” ungkap Pradana. PSIF, lanjut Pradana, sengaja memperbanyak pembicara dari kalangan muda agar terjadi regenerasi bagi UMM, lebih-lebih untuk bangsa. Pradana berpandangan, di setiap seminar yang dilihat pertama kali adalah pembicaranya, jika pembicaranya tidak terkenal maka yang datang akan sedikit. “Jika yang berbicara di setiap seminar generasi tua terus, lantas kapan pemuda Indonesia akan berkembang dan memiliki keahlian lebih,” jelasnya lebih lanjut. Menurut Pradana, dengan diberikannya wadah bagi pemuda untuk pembicara, maka secara tidak langsung akan menumbuhkan potensi intelektual yang dimilikinya. Pradana juga menyatakan,pemuda harusnya menjadi arus bagi masyarakat. Yaitu menjadi penggerak bukan hanya penghibur. “Jika pemuda hanya menjadi buih, maka fungsinya hanya nampak dipermukaan dan tidak membawa kebaikan bagi masyarakat,” jelas dosen yang pernah mengenyam pendidikan master di Anustralian National University (ANU) ini. Diskusi literasi ini dibagi dua sesi. Sesi pertama bedah buku “Benturan Ideologi Muhammadiyah” oleh sang penulisSolihul Huda dan peneliti PSIF UMM Haeri Fadly. Pada sesi kedua dilanjutkan diskusi bertema “Muhammadiyah dan Literasi di Era Media Sosial” oleh direktur riset Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM Nafi’Muthohirin, pendiri Reading Group for Social Transformation (RGST) Hasnan Bahctiar dan staf Humas UMM Subhan Setowara. (jal/han)
Analogikan Semangat Korea Selatan, Rektor Minta Mahasiswa Berlari Kejar Prestasi

DENGAN mengutip salah satu falsafah hidup yang dijunjung masyarakat Korea Selatan, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan mengajak seluruh mahasiswa untuk senantiasa berprestasi dalam setiap kesempatan. Menurutnya, negara bekas jajahan Jepang itu hingga kini tetap berprinsip untuk tidak menggunakan produk penjajahnya itu. “Korea selatan lebih memilih untuk berdaulat, memilih untuk bisa berdiri sendiri. Semboyan yang dimilki Korea Selatan yakni, ‘Kalau Jepang tidur, Korea harus bangun. Kalau Jepang bangun, Korea harus berjalan. Kalau Jepang berjalan, Korea harus berlari. Demikian pula kalau Jepang berlari, maka Korea harus terbang,” tutur Fauzan saat menutup kegiatan Student Day di UMM Dome, Sabtu (10/12). Pada kegiatan ini, setelah melalui proses monitoring dan evaluasi terhadap sejumlah panitia lembaga mahasiswa selama pelaksanaan Student Day 2016 dua bulan terakhir ini, panitia universitas telah menetapkan sejumlah daftar pemenang. Fakultas Kedokteran (FK) menjadi juara pertama Panitia Penyelenggara Student Day Terbaik. Disusul di posisi ke-2 dan ke-3 secara berurutan diraih Fakultas Psikologi (FPsi) dan Fakultas Kesehatan (FIKES). Fauzan menegaskan, pelaksanaan Student Day yang dirancang UMM bertujuan mendeteksi bakat dan potensi yang mahasiswa miliki. “Hasil diagnosis itu dimaksudkan untuk dijadikan dasar pengembangan minat dan bakat yang telah saudara miliki,” kata Fauzan. Student Day juga dimaksudkan, sambung Fauzan, menggembleng mahasiswa UMM guna mempersiapkan diri menjadi seorang pemimpin, baik pemimpin formal maupun pemimpin informal. “Karena Student Day yang kita kemas merupakan rangkaian yang tidak hanya sekedar kegiatan transfer knowledge yang berorientasi pada keterampilan, namun kegiatan ini juga untuk mengantarkan saudara menjadi mahasiswa yang memiliki karakter, dan saudara pada akhirnya diharapkan juga menjadi seorang pemimpin yang berkarakter,” seru Fauzan. Meski secara seremonial pelaksanaan Student Day sudah ditutup, Fauzan berharap, prestasi-prestasi yang mahasiswa miliki tidak boleh berhenti sampai di situ. “Jadilah mahasiswa yang selalu berprestasi,” pesan Fauzan. Di waktu yang bersamaan, diumumkan pula kategori lomba Menejemen Penataan Ruang Lembaga Kemahasiswaan yang menobatkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa sebagai juara pertama. Di posisi berikutnya, yakni ke-2, diraih oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi, serta di posisi ke-3 diraih oleh Senat Fakultas (Sefa) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Selain itu, diumumkan juga pemenang kategori UKM Pelaksana Kegiatan Student Day terbaik. UKM Pramuka di posisi pertama, Resimen Mahasiswa di posisi ke-2 dan posisi ke-3 diraih UKM Divisi Mahasiswa Pecinta Alam (DIMPA). Masing-masing pemenang mendapat penghargaan berupa sertifikat dan uang pembinaan. Lantunan tembang “Dia” yang dibawakan Rektor UMM menandai ditutupnya gelaran Student Day 2016 yang telah digelar sejak 10 Oktober lalu ini. Selain “Dia”, Rektor juga secara khusus membawakan tembang “Malam Terakhir” dengan mengajak serta mahasiswa putri untuk bernyanyi bersamanya di atas panggung. (can/han)