UMM Adakan Workshop Pengembangan Kerjasama Internasional

KEPALA Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Ainur Rofieq MKes menyatakan, setelah sebelumnya menjadi satu-satunya kampus swasta di Indonesia yang meraih sertifikasi sebagai associate member of ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA), saat ini UMM tengah mempersiapkan Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET). Untuk itu, kata Rofiq, UMM terus berupaya melakukan continuous improvement melalui berbagai memorandum of understanding (MoU) dan memorandum of agreement (MoA) dengan beberapa kampus di luar negeri, serta melakukan pelaporan-pelaporan terkait program yang dijalankan UMM serta raihan internasional yang berhasil dicapai. Hal itu diungkapkan Rofiq pada kegiatan Workshop Kerja Sama Internasional UMM yang digelar di Hotel UMM Inn, Sabtu (17/12). Kasubdit Kerjasama Perguruan Tinggi Kemenristek Dikti Purwanto Subroto PhD  yang hadir pada kegiatan ini memaparkan, ada beberapa program yang disediakan Kemenristek Dikti untuk mendorong pengembangan kerjasama internasional bagi universitas di Indonesia. Pertama, kata Purwanto, yakni perluasan peluang kerjasama perguruang tinggi. Sub program join working group misalnya, yang saat ini telah bekerja sama dengan kampus-kampus di Jepang, Australia, Perancis, China, New Zealand, Taiwan, UK, dan USA. Kedua, UMM juga dapat mengikuti pameran pendidikan tinggi dalam pengembangan network melalui NAFSA Association of International Educators dan European Association for International Education (EAIE). Dengan mengikuti pameran ini, UMM dapat menjaring calon mahasiswa asing ke Indonesia. Dalam hal ini, Kemenristek Dikti siap memfasilitasi kerjasama internasional serta menyediakan aplikasi online perijinan mahasiswa asing untuk studi di Indonesia.  Sejak beberapa tahun lalu, UMM pun telah mengikuti beberapa kali pameran Indonesia Higher Education Expo (IHEE). Kemenristek Dikti juga melakukan klasifikasi peringkat universitas di Indonesia, memberi dukungan mobilitas mahasiswa, serta menyediakan aplikasi pelaporan mahasiswa. “Pada 2017 UMM saya harapkan telah memiliki program join degree dengan minimal satu atau dua program studi dengan salah satu kampus luar negeri,” dorong Purwanto  dalam pemaparannya. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya mengatakan, perjalanan panjang telah dilakoni UMM terkait kerjasama luar negeri. Namun, upaya ini tak berhenti. Saat ini, UMM tengah menggagas kelas internasional dan memetakan skema beasiswa. Terbaru, Rabu (14/12) kemarin, UMM baru saja meluncurkan Pusat Studi ASEAN. “Pusat studi ini akan berperan menjadi pilar penyangga akademik,” terangnya. Fauzan menekankan, saat ini UMM berada pada tahap pemetaan potensi di segala bidang. Rektor berharap, ada pemikiran-pemikiran integratif dari masing-masing unit, khususnya program studi sehingga menghasilkan ide-ide untuk mem-branding UMM menjadi kampus yang marketable terkait ‘penjualan’ hasil-hasil risetnya. “DPPM bisa membentuk bidang pengembangan hasil riset untuk menindaklanjuti hal ini,” ungkap Fauzan. Identifikasi pemetaan ini, lanjut Fauzan, merupakan modal kuat untuk membangun kerjasama internasional. Ke depan, UMM mencanangkan akan menggelar festival hasil riset sekaligus mengundang para pelaku industri. (ich/han)

Kerjasama UMM dengan Guangxi Normal University Tiongkok: Dari Kursus Mandarin Gratis Hingga Beasiswa Kuliah

KERJASAMA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) salah satu universitas kenamaan Tiongkok, Guangxi Normal University (GXNU), kembali berlanjut. Hal itu terungkap dalam kedatangan Rektor GXNU Qin Weiguo ke UMM untuk penandatanganan nota kerjasama (MoU), Jumat (16/12). Selain rektor, hadir pula Director of GXNU Dai Jiayi serta Deputy Director of International Admission Office, Lin Yukun. Acara MoU dirangkai dengan presentasi beasiswa serta pagelaran buadaya Cina di Auditorium UMM. GXNU merupakan kampus yang terdiri dari 22 fakultas dengan kapasitas pengajar lebih dari 2000 orang. Seperti halnya UMM, GXNU juga memiliki tiga kampus dan mampu memadai kegiatan perkuliahan sebanyak 40 ribu mahasiswa. Rektor GXNU dalam sambutannya menekankan bahwa saat ini titik fokus kampusnya yakni perluasan kerjasama internasional. “Hingga hari ini, univesitas kami telah menjalin kerjasama dengan 40 negara yang di dalamnya terdapat 200 lembaga,” kata Qin Weiguo di hadapan 300 mahasiswa UMM dan sejumlah perwakilan dari kedua belah pihak universitas. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan menyambut hangat kedatangan rombongan GXNU ke UMM. Fauzan berharap, kerjasama tidak hanya dilakukan di bidang pendidikan, namun juga kebudayaan. Bagi Fauzan, UMM sudah tidak asing dengan nuansa Cina. Hal tersebut dibuktikan dengan dikukuhkannya UMM sebagai juara umum dalam ajang Lomba Pengetahuan Tiongkok yang diselenggarakan Konsulat Jendral Cina di Surabaya pada 10 Oktober-10 November silam. “UMM menjadi juara umum dan sekaligus sebagai universitas yang mendelegasikan peserta terbanyak. Dan yang lebih menggembirakan, UMM telah menyisihkan 232 perguruan tinggi di Indonesia,” sebut Fauzan bangga. Selain penandatanganan MoU, acara bertajuk China Scholarships and Cultural Performance ini juga menampilkan sejumlah pertunjukan dari kelompok tari dan suara yang secara khusus didatangkan langsung dari Cina. Salah satunya tembang tradisional Cina, Flying Song yang dibawakan guru Wen Zhezhao. Flying Song merupakan salah satu jenis lagu tradisional suku Miao, terkenal di daerah Tai Jiang, Jian He, dan Kai Li; daerah tenggara Provinsi Gui Zhou. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh pemuda-pemudi untuk saling berkomunikasi. Lagu ini juga sering dinyanyikan dalam acara pernikahan dan hari raya daerah setempat untuk memeriahkan suasana.   Sebelumnya, antara UMM dan GXNU selama ini sudah menjalankan skema kerjasama dengan didirikannya Pusat Bahasa Mandarin atau China Corner di Perpustakaan Pusat UMM. “Menariknya, bagi peserta kursus bahasa mandarin yang dapat mencapai tingkat intermediate atau menengah, berkesempatan memperoleh beasiswa guna mempelajari bahasa Mandarin di tempat asalnya, Cina. Demikian sebaliknya, saat ini Guangxi Normal University juga mengirim dua dosennya untuk mengajarkan Bahasa Mandarin di UMM,” terang Suparto, Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM. (ich/han)