Semnas PGSD UMM-Uhamka: Mentalitas Global Diperlukan Bagi Guru Kekinian

DI TENGAH pesatnya arus globalisasi, seorang guru dituntut untuk bisa beranjak dari mentalitas konvensional menuju mentalitas global. Demikian disampaikan Guru Besar Universitas Prof Dr Hamka (Uhamka) Prof Dr Suswandari MPd pada Seminar Nasional (Semnas) “Peningkatan Kompetensi Calon Guru dalam Menghadapi Tantangan Global” yang diadakan atas kerjasama Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Uhamka di Hall UMM Dome, Senin (30/1). “Mentalitas global yakni sikap percaya diri, disiplin, menghargai waktu, menghargai prestasi dan karya orang lain, kerja keras dan orientasi kerja pada prestasi, teliti dan cermat, serta terbuka. Sebaliknya, guru juga harus meninggalkan segala mental konvensional, yakni ketergantungan pada orang lain, melanggar, apa adanya, ketidakpercayaan diri, dan yang lebih parah yaitu mental jajahan,” kata Suswandari. Jika mental global itu diterapkan di tiap individu guru, maka secara otomatis, lanjut Suswandari, jati diri guru abad 21 dapat diwujudkan. “Yakni mereka yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan sebagai tuntutan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Memiliki akhlak mulia, mandiri, demokratis, bertanggungjawab terhadap sikap dan perilaku, juga berilmu, cakap dan kreatif. “Guru yang hebat adalah guru yang dapat menstimuli siswanya untuk terus bertanya. ” tukas Suswandari. Sementara itu sekretaris Asosiasi Perhimpunan Dosen PGSD se-Indonesia yang juga dosen UMM, Dr Endang Poerwanti MPd mengatakan, seorang guru abad 21 juga wajib memiliki kompetensi dalam reading, writing and arithmetic untuk memahami gagasan melalui berbagai media kekinian. Guru juga harus fleksibel dan dinamis. Tak kalah penting, kata Endang, guru harus mampu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dalam menyajikan aktivitas pembelajarannya. Disampaikan Endang, kunci peningkatan kulitas pendidikan terletak pada peningkatan kualitas profesionalisme guru. Bagi Endang, guru profesional yakni guru yang memiliki keahlian, bertanggungjawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat. “Guru juga harus memiliki kualifikasi kompetensi yang memadai berupa kompetensi berupa kompetensi intelektual, sosial operasional, dan perilaku moral dan profesional,” jelas Endang. Sehingga, untuk mewujudkan guru yang profesional, kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaan mutlak dijalankan. Dijelaskan Endang, guru yang bermutu ialah mereka yang dapat membelajarkan murid-muridnya dengan tuntas dan benar. “Selain itu mutlak juga diperlukan keahlian, baik dalam penguasaan secara tuntas disiplin ilmu yang diajarkan, metodologi, dan pendekatan pembelajaran,” papar Endang. Namun demikian, upaya itu tidak akan berhasil jika tidak diselaraskan dengan kesejahteraan guru yang memadai. “Seorang profesional harus mampu mencurahkan sebagian besar perhatiannya terhadap upaya-upaya profesional. Upaya profesional ini didukung oleh penghasilan dan kesejahteraan yang memadai,” ungkap Endang. (can/han)

UMM-Uhamka Kolaborasi Gelar Seminar Nasional PGSD

PROGRAM Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta menggelar seminar nasional “Peningkatan Kompetensi Calon Guru dalam Menghadapi Tantangan Global” hari ini (30/1) di UMM Dome. Ketua pelaksana seminar, Ima Wahyu Putri Utami MPd menyatakan, kegiatan ini adalah program rutin tiap semester bermitra dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) lain. Pada penyelenggaraan kali ini, peserta melonjak drastis dibanding kegiatan sebelumnya saat bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. “Peminatnya melampaui 1000 orang,” ujarnya. Tak hanya dihadiri mahasiswa PGSD UMM dan Uhamka, seminar juga terbuka untuk mahasiswa non-PGSD, termasuk mahasiswa pascasarjana, guru, dosen, maupun kalangan umum di luar UMM dan Uhamka. Pemateri kunci pada kegiatan ini yakni dosen PGSD UMM yang saat ini menjabat sekretaris Asosiasi Himpunan Dosen PGSD Indonesia Dr Endang Poerwanti MPd dan guru besar Uhamka Prof Dr Suswandari MPd. Selain pembicara kunci, juga ada sejumlah pemakah yang terdiri dosen maupun mahasiswa magister. “Karena memang ada beberapa kampus yang mensyaratkan mahasiswa magister untuk memiliki karya yang diprosidingkan sebagai syarat penyusunan tesis,” imbuh Ima. Ketua Program Studi PGSD UMM Dr Ichsan Anshory MPd berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan silaturrahim antarkampus, terutama kampus Muhammadiyah. Mahasiswa juga bisa dapat ilmu dan pengalaman tambahan dari kampus lain. “Materi-materinya bermuatan kompetensi global agar para peserta siap menghadapi tantangan pendidikan di masa depan,” ujarnya. (ich/han)