UMM Siap Terapkan E-Learning dan Presensi Online

MENJELANG perkuliahan semester genap yang akan dimulai pada 13 Februari mendatang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin mematangkan sistem akademik. Hal ini dilakukan dengan diadakannya pelatihan E-Learning (Google Classroom) dan Presensi Online bagi Dosen Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Agama Islam (FAI) selama dua hari, Kamis-Jumat (9-10/2). Pelatihan ini menyongsong akan diberlakukannya sistem presensi dan pembelajaran dalam jaringan (daring) di UMM. FH dan FAI menjadi dua fakultas yang dikenai proyek percontohan sebelum program ini diaplikasikan di semua fakultas. Dari semua perguruan tinggi di Malang, UMM menjadi kampus pertama yang akan menerapkan teknologi ini. Kepala Lembaga Informasi dan Komunikasi (Infokom) UMM, Ir Suyatno, MSi mengatakan, e-learning dan presensi daring ini akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem akademik, serta mengurangi penggunaan kertas yang berlebihan. l “Dulu UMM sudah mengaktifkan e-learning, lalu terhenti karena ada beberapa kendala. Kini, teknologi sudah semakin maju, sehingga penting untuk mengaktifkan dan mengembangkan e-learning kembali. Ini akan memudahkan dosen dan mahasiswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehari-hari,” ujar Suyatno. Nantinya, presensi tak lagi dilakukan dengan dosen yang memanggil nama mahasiswa atau mahasiswa yang membubuhkan tanda-tangan. Presensi cukup dilakukan dengan memindai Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) menggunakan mesin pemindai kode bar (barcode scanner) yang akan terhubung dengan aplikasi pada Chromebook, sejenis komputer jinjing (laptop) khusus untuk pembelajaran. Menariknya, kehadiran dan durasi pembelajaran yang dilakukan dosen dan mahasiswa akan tercatat secara otomatis melalui chromebook.Mahasiswa tercatat ketika mahasiswa memindai KTM-nya. Sementara durasi pembelajaran dosen terekam sejak log in hingga log out pada akun email UMM yang dimiliki tiap dosen. “Ini adalah program yang revolusioner. Semua akan tercatat akurat dan tak perlu bekerja secara manual. Data akan otomatis tersimpan dan monitoring dari pimpinan ke dosen atau dosen ke mahasiswa akan lebih cepat,” imbuh Suyatno. Di samping urusan presensi, program ini juga memanfaatkan teknologi dari google classroom, yakni membuat ‘kelas’ daring. Dosen bisa memberikan tugas pada mahasiswa melalui aplikasi tersebut dan mahasiswa juga bisa langsung mengunggah tugasnya, Mahasiswa yang mengumpulkan tugas akan langsung tampak begitu pula yang belum. Dosen juga saat itu bisa memberikan komentar pada tugas yang dikumpulkan mahasiswa, serta memberinya nilai. “Untuk itu, tiap kelas akan diberi fasilitas penunjang Chromebook yang akan dialokasian dan dikelola oleh bagian tata usaha. Setiap akan memulai kelas, mahasiswa bisa mengambil Chromebook. Begitu juga setelahnya, Chromebook akan dikembalikan lagi ke bagian tata usaha,” imbuh Suyatno. (ich/han)
Raker FIKES UMM Genjot Penguatan KPT dan Publikasi Internasional

MERESPON program rektor dalam rangka penguatan lembaga dan Sumber Daya Manusia (SDM), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diimplementasikan dalam penyelenggaraan Rapat Kerja (Raker) yang kemudian diterjemahkan dalam sebuah tema besar, “Sinergisitas Civitas Akademika Universitas dan Aktualisasi Mahasiswa Menjawab Perkembangan Teknologi Kesehatan secara Global” di Convention Hall Sengkaling UMM, Rabu (9/2). Dekan FIKES, Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep. Sp. Kom saat ditemui di sela cara menerangkan, dari tema yang diusung tersebut, setidaknya memuat sejumlah bahasan. Antara lain, penguatan Kurikulum berbasis Kurikulum Perguruan Tinggi (KPT). “Diharapkan dalam 2 hari pelaksanaan Raker ini akan menghasilkan di masing-masing program studi kurikulum yang berbasis KPT. Jadi di situ ada capaian pembelajaran, dan ada mata kuliah yang mendukung capaian pembelajarannya itu, ” jelasnya. Selain itu, dilanjutkan Yoyok, ekspansi kerjasama FIKES, khususnya ke luar negeri jadi perhatian rapat kerja tahunan ini. “Kita ingin agar masing-masing program studi ini bisa mendesain ekspansi kerjasama luar negerinya. Selama tahun 2017 ini mana yang mungkin untuk dilakukan. Selama ini kan sudah ada beberapa dosen FIKES yang sudah di luar negeri. Seperti di Taiwan, Thailand juga ada yang baru pulang dari Polandia,” ungkapnya. Salah satunya bentuk realisasi rumusan tersebut yakni bakal diselenggarakannya Health Sciense International Conference pada 4 Oktober 2017 mendatang. Konferensi tersebut mempunyai daya ungkit karena prosiding yang bakal dibuat nantinya bakal terindex internasional dari Thomson Reuters dan Direktori Open Access Jurnal (DOAJ). Selain itu, FIKES juga bekerjama dengan penerbitan Antlantis Publisher. “Para pemateri yang bakal dihadirkan nantinya merupakan relasi dosen-dosen yang telah kuliah di luar negeri sebelumnya,” jelas Yoyok. Terakhir, Rapat Kerja ini juga guna meningkatkan aktualiasi mahasiswa dalam bingkai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Beberapa tahun lalu mahasiswa FIKES sudah ada yang masuk PIMNAS, kami juga ingin meningkatkan itu. Ke depan kalau perlu diterbitkan SK Dekan terkait wajibnya mahasiswa FIKES membuat PKM,” terangnya. Rektor UMM, Fauzan dalam sambutannya berpesan, meski sebagai fakultas termuda, jangan sampai FIKES tidak memiliki arah gerak yang jelas. Sebaliknya, FIKES harus mampu menginisiasi manejemen mutakhir dengan prinsip simpel dan produktif. Fauzan juga menekankan bagi dosen FIKES untuk segera menyelesaikan studi dalam rangka mengejar ketertinggalannya. Selain itu, mendorong dosen FIKES untuk harus punya jabatan fungsional. Gelaran tersebut sekaligus merilis prosiding hasil penelitian 28 dosen FIKES dengan judul “Kontribusi Penelitian Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kesehatan Masyarakat”. (can/han)
PWM dan UMM Bermitra Dorong Internasionalisasi Sekolah Muhammadiyah

BERMITRA dengan Lembaga Kerjasama (LK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, UMM menghadirkan Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) Christine Getzler Vaughan dan perwakilan Huaqiao University di Tiongkok, Henoch Pradana pada kegiatan Workshop Kerjasama Internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Jawa Timur, Kamis (9/2) di Auditorium UMM. Pada kesempatan ini, mereka memaparkan peluang kerjasama AS dan Tiongkok untuk sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM). Kegiatan dihadiri sejumlah PTM serta Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah (SMAM), Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah (SMKM), dan Sekolah Dasar Muhammadiyah (SDM) dipandang sudah berkelas internasional. Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama Luar Negeri Soeparto menjelaskan, forum ini bisa menjadi kesempatan bagi seluruh sekolah Muhammadiyah se-Jawa Timur. “Saat ini UMM memiliki 23 dosen asing internship dari 29 negara. Secara insidental, sekolah Muhammadiyah se-Jawa Timur dapat mengundang dosen asing tersebut untuk menjadi narasumber seminar di sekolah masing-masing,” jelas Soeparto dalam sambutannya. Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Nadjib Hamid menyatakan, workshop kerjasama internasional diselenggarakan untuk memfasilitasi amal usaha Muhammadiyah dan memperluas kerjasama dengan dunia internasional. “Workshop ini harus menghasilkan aksi nyata dan memberikan dampak lebih bagi masyarakat,” jelas Nadjib. “Pada jangka panjang, semua sekolah Muhammadiyah se-Jawa Timur dapat melakukan kerjasama internasional. Sedangkan dalam jangka pendek, sekolah Muhammadiyah se-Jawa Timur dapat membangun suasana internasional di internal sekolah masing-masing,” paparnya. Menurut Nadjib, semua sekolah Muhammadiyah harus bersinergi agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Harapan ke depannya, lanjut Nadjib, sekolah Muhammadiyah dapat saling bersinergi dan membangun gerakan pendidikan yang bergairah. (jal/han)
China Corner UMM Sediakan Beasiswa Summer Camp Hingga Master dan Doktor
BELUM genap setahun berdiri, tepatnya pada Mei 2016, China Corner UMM telah menunjukkan kiprah pentingnya. Lembaga ini menjadi wadah bagi mahasiswa UMM yang ingin belajar tentang budaya Tiongkok maupun melanjutkan pendidikan ke Negeri Tirai Bambu tersebut. Kepala Kantor Hubungan Luar Negeri (KHLN) UMM Dr Abdul Haris MA mengungkapkan, program inti China Corner ialah memberi beasiswa pada mahasiswa melalui summer camp hingga program studi lanjut, master dan doktor. Syaratnya pun tak rumit, yaitu terdaftar sebagai mahasiswa Confusius Institute, dengan ikut belajar bahasa Mandarin di China Corner sampai mengantongi sertifikasi pada level tertentu. Untuk summer camp, target yang harus dicapai yaitu level 2, percakapan sehari-hari. Sedangkan untuk program master atau doktor, targetnya level 4, meliputi percakapan akademik. Terkait summer camp, mahasiswa UMM diberi kesempatan belajar bahasa dan kebudayaan Tiongkok secara langsung di negaranya selama satu bulan. “Mahasiswa semester 1 sampai 4 bisa mengikuti kursus hingga level 2 untuk bisa ikut summer camp. Tapi, untuk mahasiswa di atas semester 6 tidak ada salahnya mengikuti kursus hingga level 4, sehingga begitu skripsi selesai dan lulus sarjana, bisa langsung berangkat ke Tiongkok untuk program master,” urai Haris. Sementara itu koordinator China Corner Karina Sari menuturkan, pertengahan tahun ini China Corner akan memberangkatkan sekitar 50 mahasiswa ke Tiongkok dalam program Summer Camp. “Ini luar biasa. Belum ada setahun China Corner berdiri, sudah mampu menyiapkan 50 mahasiswa untuk berangkat di Cina. Sebelum berangkat, pada Maret nanti mereka akan menjalani tes akhir dari kursus yang mereka ikuti,” imbuh Karina. Kursus bahasa Mandarin ini dibimbing secara langsung oleh pengajar dari Confusius Institute yang merupakan yayasan milik pemerintah yang diketuai langsung oleh wakil presiden Republik Rakyat Tiongkok. “Seminggu dua kali pertemuan. China Corner menyiapkan jadwal, mahasiswa bisa menyesuaikan jadwalnya,” imbuh Karina. (ich/han)
UMM Segera Gelar Kompetisi Pengetahuan Tiongkok

DALAM waktu dekat, China Corner UMM akan menggelar The First Chinese Bridge Competition, yakni lomba pengetahuan umum Tiongkok untuk pelajar SMA sederajat se-Indonesia. Sama halnya dengan lomba pengetahuan umum Tiongkok yang digelar November 2016 lalu, sistem lomba ini pun melalui jalur online. Rencananya, menurut koordinator China Corner Karina Sari, kompetisi ini akan diadakan dua bulan, mulai Februari hingga April 2017. Hadiahnya tak tanggung-tanggung, 20 peserta dengan skor tertinggi akan mendapatkan kesempatan mengunjungi Tiongkok selama sepuluh hari. Sebelumnya, pada kompetisi serupa yang digelar Konsulat Jenderal China di Surabaya akhir tahun lalu, tiga mahasiswa UMM berhasil meraih juara pertama dan ketiga. Bahkan, UMM juga meraih juara untuk kategori perguruan tinggi dengan peserta lomba terbanyak, yakni 332 mahasiwa. Lantaran sejumlah gelar tersebut, UMM berhasil menjadi juara umum pada kompetisi yang diikuti 20 universitas terpilih se-Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali dan NTT. Dalam hal ini peran China Corner UMM sangat signifikan, karena telah membangun atmoster positif bagi mahasiswa untuk mengenal khazanah kebudayaan China. Dijelaskan Karina, China Corner memang didirikan sebagai jembatan mahasiswa UMM untuk belajar ke Tiongkok dan sebaliknya, bagi mahasiswa Tiongkok yang ingin menimba ilmu di UMM. Beruntungnya, ruang lingkup China Corner lebih luas dibandingkan corner-corner lain yang telah terbentuk lebih dulu di UMM. Hal ini lantaran China Corner berada langsung di bawah Confusius Institute, pengawasan kedutaan, dan boleh mengadakan perjanjian kerjasama dengan kampus-kampus di China secara langsung. Di samping itu, China Corner juga diberi keleluasaan untuk mengembangkan sayap. “China Corner hadir sebagai pintu yang siapa saja bisa menggunakannya. Manfaatkan, ambil ilmunya, dan tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Semuanya gratis karena beasiswa,” tukas Karina. (ich/han)
Jelang Semester Genap, Mahasiswa Asing UMM Ikuti Orientasi

SEBANYAK 23 mahasiswa asing program Learn and Teach mengikuti Orientation Day di auditorium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (8/2). Mereka berasal dari 11 negara, yakni Polandia, Portugal, Ukraina, Turki, Spanyol, Slovakia, Tiongkok, dan Rumania. Berbeda dengan program lainnya yang sebagian besar dimulai pada semester ganjil, program Learn and Teach kali ini dimulai pada semester genap. Mereka akan menjadi bagian dari UMM selama 6 hingga 12 bulan. Di sini, selain mendalami bahasa Indonesia di unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, mereka juga berkesempatan membagi ilmunya dengan mahasiswa UMM mengingat kebanyakan mereka berkualifikasi master. Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama, Soeparto, menyambut gembira kedatangan para mahasiswa tersebut. “Selamat datang di Indonesia, selamat datang di UMM,” ujarnya. Selain diperkenalkan dengan UMM dan prestasi-prestasinya, para mahasiswa ini juga dibekali sistem pembelajaran di UMM, informasi perihal keimigrasian, dan yang terpenting, yaitu budaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya Malang. Mengenai hal ini, Soeparto mengapresiasi cara berpenampilan mereka. “Dulu saya pernah memberikan teguran pada mahasiswa asing belum beradaptasi dengan cara berpakaian di Indonesia. Terima kasih, hari ini teman-teman memakai pakaian yang rapi dan menyesuaikan dengan budaya UMM sebagai kampus Islam,” terang Soeparto diiringi senyum mahasiswa. Disebut Soeparto, ini merupakan salah satu upaya mempercepat rekognisi internasional UMM, yakni memperbanyak mahasiswa asing yang fasih berbahasa Indonesia. Selain itu, meningkatnya jumlah mahasiswa asing yang menempuh studi di Indonesia juga menjadi salah satu indikator internasionalisasi kampus. (ich/han)