Peringati Hari Pekerjaan Sosial Dunia, Prodi Kesos UMM Gelar Aksi

INDONESIA merupakan salah satu negara yang masih belum familiar dengan istilah pekerja sosial. Hal tersebut berimbas pada praktek pekerjaan sosial yang tidak profesional di Indonesia. Merespon hal tersebut, program studi Kesejahteraan Sosial (Kesos), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan aksi dalam rangka peringatan Hari Pekerjaan Sosial Dunia yang jatuh pada 15 Maret. Ketua prodi Kesos UMM, Dr. Oman Sukmana M. Si menjelaskan, pekerja sosial di Indonesia masih sering disamakan dengan relawan sosial atau Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang belum mendapatkan pendidikan formal perihal kesejahteraan sosial. Hal tersebut menyebabkan banyak permasalahan sosial yang seharusnya ditangani oleh professional malah ditangani relawan. “Jika terus seperti itu, maka yang terjadi adalah lambatnya penanganan dalam permasalahan-permasalahan sosial di masyarakat,” jelas Oman di sela-sela kegiatan aksi di UMM (15/3). Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu dilewati untuk menjadi pekerja sosial, lanjut Oman. Di antaranya adalah pekerja sosial harus mendapatkan pendidikan formal, mengikuti organisasi keprofesian, mempelajari kode etik serta memiliki ijin dan praktek. “Semua hal itu saat ini sedang dirumuskan oleh komisi VIII DPR RI tentang praktek pekerja sosial,” jelasnya. Dengan mendukungnya pemerintah terhadap UU pekerja sosial di Indonesia, maka tanggungjawab negara dalam menjamin ketersediaan pelayanan kesejahteraan sosial bagi warga negaranya akan terjalankan dengan baik. Menurut Oman, komitmen negara dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dimulai dengan melibatkan tenaga kerja yang professional. Pekerja sosial yang professional ini merupakan pilar terdepan dalam mengimplementasikan kesejahteraan di Indonesia. Hingga saat ini, di Indonesia pendidikan formal tentang kesejahteraan sosial sudah mulai menggeliat. Setidaknya ada 33 Perguruan Tinggi (PT), 4 PT untuk program magister dan ada 3 PT yang menyelenggarakan program doktoral yang menyelenggarakan pendidikan formal untuk jenjang Strata 1 (S1), imbuh Oman. Dalam aksi tersebut juga diadakan penandatanganan spanduk oleh seluruh mahasiswa prodi Kesos. Tujuannya sebagai salah satu bentuk dukungan kepada Komisi VIII DPR RI dalam menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang praktek pekerjaan sosial di masyarakat. “Jika RUU itu sudah disahkan, maka pekerja sosial akan mendapatkan haknya sesuai dengan aturan UU,” ungkap Oman. (jal/han)
Hadirkan Lula Kamal, RS UMM Edukasi Masyarakat Tentang Kanker Serviks

KANKER merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian. Departemen Kesehatan (Depkes) merilis data, pada 2012 sekitar 8,2 juta kematian disebabkan oleh kanker. Pada tahun yang sama, sebanyak 26 wanita di Indonesia meninggal setiap harinya karena kanker serviks. Artinya, dalam satu jam ada satu orang wanita yang meninggal karena kanker serviks. Hal itulah yang melatarbelakangi perlunya edukasi tentang deteksi dini dan pencegahan kanker serviks. “Kanker serviks ini merupakan penyakit yang mematikan dan sangat rentan menyerang wanita muda. Semakin muda umur wanitanya, maka semakin cepat penyebaran virus kanker ini,” jelas Ferdian Firdaus, ketua pelaksana Seminar dan Talkshow Deteksi Dini dan Pencegahan Ca Serviks oleh Rumah Sakit UMM yang berlangsung akhir pekan lalu (4/3). Menghadirkan aktris sekaligus dokter kenamaan Indonesia dr. Lula Kamal, M.Sc sebagai pembicara utama, RS UMM ingin menekankan bahwa wanita seharusnya mawas diri dan lebih lebih memperhatikan kesehatannya terutama pada bagian kewanitaan. Lula Kamal menjelaskan kesadaran diri setiap wanita sangat diperlukan untuk mau memeriksa diri ketika ada tanda-tanda yang mengarah ke kanker serviks. dr. Lula Kamal, M. Sc juga menjelaskan, cara mendeteksi dini untuk mengetahui apakah terjangkit kanker serviks adalah dengan melakukan pap smear. Human Papiloma Virus (HPV) adalah virus yang menyebabkan kanker serviks pada wanita. “Jika yang bersangkutang tidak bisa menggunakan pap smear, maka yang perlu dilakukan yaitu diberikan vaksin HPV untuk penanganan pertama,” jelas Lula Kamal saat menyampaikan materi. Selain memeriksa kesehatannya, sambung Lula, setiap wanita hendaknya memperhatikan pola makan dan gaya hidup. Menurut Lula, kebersihan makanan dan pilihan juga sangat perlu diperhatikan. “Kalau bisa makan yang sehat-sehat saja, tidak merokok dan tidak minum alkohol,” tukasnya. Ketua panitia Firdaus menambahkan, acara ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dalam mengantisipasi datangnya kanker serviks. “Berhubung kanker serviks itu adalah kanker ganas yang besar peranannya dalam kematian wanita di Indonesia, maka kami mengundang seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya tenaga kesehatan saja,” ungkap Firdaus. Tidak hanya sebatas edukasi melalui pertemuan formal saja, RS UMM juga memberikan fasilitas berupa pemeriksaan pap smearsecara gratis. Pemeriksaan pap smear gratis ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan RS UMM untuk mendeteksi dini agar dapat ditangani dan tidak sampai jatuh korban lagi. “Sebelumnya mulai Agustus-September 2016 lalu, kami menyediakan pemeriksaan pap smear gratis,” jelas Firdaus lebih lanjut. (jal/han)