UMM Gembleng Pustakawan Melek Literasi Informasi
MENYIKAPI perubahan fungsi perpustakaan di era digital native serta mempersiapkan diri memberi pelayanan terbaik pada pemustaka, perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Training of Trainer (ToT) bertema “Membangun Budaya Akademik Literasi Informasi dan Literasi Digital”, Kamis-Sabtu (16-18/3) di Hotel UMM Inn. Dunia yang kini berada pada era digital native menjadikan informasi begitu mudah diakses. Namun, sebaliknya survei membuktikan bahwa tingkat literasi informasi mahasiswa di Indonesia tergolong rendah. Demikian disampaikan Kepala Bagian Kerjasama Perpustakaan Universitas Pelita Harapan Dhama Gustiar, salah satu pemateri. Pada bahasan literasi informasi, perpustakaan menempati posisi strategis, baik dari sisi fisik sebagai fasilitas maupun pustakawan sebagai sumber penting pemustaka. Namun, dikatakan Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M. Si., memasuki tahun 80-an, masyarakat dunia berada pada fase ketiga, yakni fase informasi setelah melalui fase agrikultur dan industri. Ini adalah era di mana arus informasi beredar sangat cepat. Permasalahannya, perkembangan teknologi dan cepatnya arus informasi mengakibatkan masyarakat, utamanya kaum muda ingin segalanya serba cepat. “Dalam dunia akademik, hal ini bisa berimbas pada hilangnya semangat mahasiswa untuk membuat karya tulis yang orisinil. Bukan rahasia kalau mahasiswa membuat karya tulis dengan copy-paste. Padahal praktik seperti ini adalah praktik ‘terkutuk’ di bidang akademik,” urai Syamsul. Dhama menambahkan, di Indonesia, pustakawan umumnya mengantongi ijazah S1 Perpustakaan. Hal ini terbilang aneh menurutnya. Pasalnya, di berbagai negara, ilmu kepustakaan malah diraih pada program magister. Sementara, ijazah sarjana adalah ilmu tertentu selain kepustakaan. “Kalau S1 ilmu yang lain, S2 baru ilmu perpustakaan, maka pustakawan akan menjadi subject specialist, karena tak hanya ahli dalam pengelolaan perpustakaan, melainkan juga memiliki keahlian bidang ilmu tertentu. Sehingga, misalnya ada orang yang menanyakan tentang referensi biologi, pustakawan akan memiliki keahlian di bidang tersebut,” bebernya. Kegiatan ini diikuti oleh 40 pustakawan dari Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur, Muhammadiyah dan Aisyiyah. Tak hanya mempelajari masalah literasi informasi di antara berbagai jenis literasi lainnya, mereka juga digembleng mengenai analisa kebutuhan informasi, penelusuran sumber informasi, hingga penanggulangan plagiarisme. (ich/han)
Mahasiswa Akuntansi UMM Dilatih Kecakapan Ekspor Impor
BESARNYA peran ekspor impor bagi ekonomi Indonesia menginspirasi program studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan short course tentang ekspor impor bagi mahasiswa, Kamis (16/3) di Auditorium UMM. Kegiatan ini akan ditindaklanjuti dengan studi lapang pada Senin (20/3) mendatang. Dekan FEB UMM, Dr Idah Zuhroh MM menyatakan, besarnya pengaruh ekspor impor dalam perekonomian harus lebih disadari mahasiswa. Pada 2016 lalu, sebuah majalah bisnis dan finansial asal Amerika Serikat, Forbes Magazine merilis data, pengusaha Indonesia mampu menguasai aset perekonomian internasional hingga mencapai 10 Triliun Rupiah. Menurut Idah, besarnya nominal tersebut menjadikan perekonomian Indonesia meningkat tajam. “Sejatinya sejak dini perlu dipupuk menjadi wirausahawan, jadi mindset-nya sudah dibenahi dari kecil,” jelas Idah dalam sambutannya pada acara yang diselenggarakan oleh Laboratorium Akuntasi tersebut. Semakin banyak wirausahawan maka akselerasi ekonomi Indonesia juga akan semakin tinggi. Saat ini, lanjut Idah, memang sudah banyak wirausahawan muda yang berasal dari mahasiswa. Namun, belum banyak yang dapat menembus pasar internasional. Jika wirausahwan internasional sudah cukup banyak dimiliki maka perekonomian Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara maju. “Kondisi perekonomian yang stabil bukan lagi menjadi mimpi saja nantinya,” imbuh Idah. Saat ini, Jawa Timur (Jatim) sedang mengalami surplus perekonomian. Jika dilihat dalam neraca perdagangan, maka Jatim lebih unggul dari provinsi lainnya dalam perdangangan antar pulau. Namun, hal tersebut masih bekum seimbang dengan kondisi Indonesia. Idah menyebutkan, hingga saat ini jumlah pelaku eksportir di Indonesia hanya 1000 orang. “Masih membutuhkan banyak orang yang berbisnis dalam skala internasional,” ungkapnya. Di kesempatan yang sama, hadir juga Kepala Departement Pemasaran dan Pelayanan PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo), Wara Dijatmika menyatakan, pelabuhan menjadi salah satu tempat untuk masuk dan keluarnya barang dari dan ke Indonesia. Pelabuhan itu sendiri memiliki beberapa pelayanan jasa seperti jasa pandu, jasa tunda kapal, jasa tambat, jasa pelayanan air dan jasa bongkar-muat. “Kesemuanya saling berkaitan antara satu dengan yang lain karena akan membantu kapal dalam memasukkan dan mengeluarkan barang ke Indonesia,” jelasnya. (jal/han)