Pacu Karya Unggul Dosen, UMM Adakan Seleksi Dosen Berprestasi

KUALITAS dan inovasi akademik dosen sangat diperlukan untuk kemajuan universitas. Bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satu cara memacunya yaitu melalui seleksi dosen berprestasi. Berada di bawah naungan Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) UMM, diharapkan seleksi dosen berprestasi dapat melengkapi pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi Ketua pelaksana seleksi Dr hari Windu Asrini, M.Si menjelaskan, gelaran seleksi dosen berprestasi ini merupakan salah satu cara UMM untuk memunculkan karya terbaik dosen dalam berbagai bidang. Dari sekian banyak karya unggul yang telah dihasilkan dosen, BKMA kembali menyaring yang paling bagus. “Karya unggul ini dibagi dua, penelitian dosen dan penemuan terbaru dosen,” jelas Rini. Ada beberapa penilaian yang ditentukan untuk mengukur apakah penelitian tersebut bagus atau tidak. Di antaranya adalah, penelitian tersebut diakui oleh pihak luar dan pihak stakeholder. Tidak hanya itu, dari sisi pengabdian masyarakat dan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi dosen tersebut juga sudah diakui. Rini melanjutkan, pengabdian, penelitian dan pengajaran yang dinilai adalah yang dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. “Jika sampai ke ranah internasional, maka itu merupakan point ples bagi dosen tersebut,” ungkapnya. Sebelumnya, dilakukan penyaringan sebelum ke tahap presentasi. BKMA melihat track record dari dosen di setiap fakultas. “Data awal kami ambil dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) dan dari Kantor Hak Kekayaan Intelektual (HKI),” lanjutnya. Kemudian, yang masuk dalam criteria maka akan diundang untuk mengikuti presentasi karya yang diunggulkan. Tidak hanya menampilkan karya unggul saja, dosen berprestasi juga di tes kepribadian dan tak ketinggalan materi Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) menjadi salah satu materi tes yang diujikan. Sebanyak 20 dosen dari 10 fakultas bertanding untuk mendapatkan predikat dosen terbaik pertama, kedua dan ketiga. Selanjutnya yang terpilih menjadi dosen terbaik pertama, lanjut Rini, akan dikirim untuk bertanding di tingkat provinsi dan selanjutnya di tingkat nasional. (jal/han)

42 Laboratorium di UMM Siap Terakreditasi

KOMITE Akreditasi Nasional (KAN) melakukan assessment untuk Laboratorium Sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 16-17 Maret 2017 lalu. Di antara tim assessment yang hadir yakni asesor kepala Murtiningsih, M. App.Sc. dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KPP) Jakarta, anggota asesor Renata Iskandar, M. Phil dari Purnabakti, Bogor serta tenaga ahli Dr. Wahyu Purbowasito Setyo Waskito dari BSN-KAN. Diterangkan Kepala Laboratorium Sentral UMM, Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., kedatangan tim asesor tersebut sebagai assessment awal untuk mendapatkan pengakuan dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) ISO 17025. Elfi menargetkan, pada 2017 sejumlah laboratorium dari total 42 laboratorium yang terdiri dari 25 laboratorium eksakta dan 17 laboratorium ilmu sosial yang berada di lingkungan UMM dapat terakreditasi. “Ikhtiar ini sudah kita perjuangkan mulai dari 2016 yang diawali dengan permintaan beberapa laboratorium yakni labolatorium nutrisi dan laboratorium bioteknologi,” kata Elfie yang juga merupakan dosen prodi ITP UMM ini. Berdasarkan hasil pengujian asesor, dilanjutkan Elfi, UMM dikelompokan dalam 6 lingkup pengujian dari 4 laboratorium yang ada di UMM. Di antara laboratorium yang diuji yakni laboratorium nutrisi melalui pengujian analisas proksimat atau metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Laboratorium kedua yang diuji yakni laboratorium bioteknologi yang mengusulkan dua pengujian , pengujian gula total dan protein. Ketiga, laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) yang mengusulkan pengujian total antosianin. Terakhir, laboratorium biologi mengusulkan ruang lingkup pengujian Total Plate Count (TPC) dari mikroba tertentu serta uji daya hambat antimikrobian yang diduga terdapat pada senyawa bioaktif. “Kita berharap dari 4 laboratorium ini ada yang berhasil mengibarkan bendera akreditasi KAN. Bahkan kami harap semuanya dapat lolos asesmen, sehingga pengujian kepada laboratorium yang lainnya juga bisa dilakukan,” ujar Elfi. Ke depan, jika laboratorium yang telah terekognisi KAN, laboratorium-laboratorium tersebut tidak lagi sekedar digunakan bagi kepentingan akademik seperti praktikum mahasiswa atau penelitan dosen saja. “Nantinya laboratorium-laboratorium yang telah terkognisi KAN ini akan dapat dipergunakan bagi kepentingan industri, pemerintah, masyarakat maupun UMKM,” terang Elfi. Selain melakukan asesmen terhadap sejumlah laboratorium, kedatangan asesor ke UMM juga sekaligus memberikan pengetahuan seputar standar ISO 9001 kepada seluruh kepala laboratorium di lingkungan UMM. Standar Internasional ini menetapkan beberapa persyaratan untuk Sistem Manajemen Mutu, untuk menunjukkan guna memenuhi persyaratan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. (can/han)

Dosen UMM Jadi Pengajar Bahasa dan Budaya Indonesia di Bulgaria

MENJADI pengajar bagi warga asing di Indonesia merupakan hal biasa. Tapi, apa jadinya kalau pengalaman mengajar bahasa Indonesia itu dilakukan untuk mahasiswa asing di luar negeri? Pengalaman tak biasa ini yang dirasakan Faizin, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diundang secara khusus Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia, Bulgaria. Faizin diminta untuk mengajar di kelas bahasa dan budaya Indonesia di Sofia University dan KBRI Sofia untuk periode semester genap tahun ajaran 2016/2017. “Di Sofia University Bulgaria, selain mengajar bahasa saya juga mengajarkan pencak silat untuk mereka sebagai pengetahuan dan wawasan budaya Indonesia. Selain itu, di KBRI saya juga mengajar kelas Bahasa Indonesia,” kata Faizin saat dihubungi lewat lini massa WhatsApp, Senin (20/3). Menariknya, minat pelajar Bulgaria khususnya mahasiswa Sofia University “St. Kliment Ohridski” untuk mempelajari Bahasa dan Budaya Indonesia kini makin meningkat. Salah satu buktinya, kelas bahasa dan budaya Indonesia di Sofia University berstatus “elective study”. Kelas tersebut berbobot 4 SKS atau 60 jam pelajaran dan berada di bawah Fakultas Classical and Modern Philology jurusan South, East and Shouthest Asian Studies. Hingga saat ini, tercatat kelas pemula berjumlah 30 mahasiswa dan kelas menengah berjumlah 16 siswa. Lawatan Faizin ke Bulgaria merupakan program Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) lewat program Scheme for Academic Mobility and Exchange Bahasa Indonesia dan Penutur Asing (BIPA). Selama satu semester, terhitung sejak 15 Februari hingga 9 Juni 2017. “Sebenarnya saya harus sudah sampai di Bulgaria sebelum 15 Februari. Tapi karena masih banyak pekerjaan di kampus, akhirnya baru bisa berangkat 11 Maret,” tutur Faizin yang juga merupakan alumni program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UMM ini. Kesempatan langka itu tidak diraih sembarang orang. Hanya mereka pengajar BIPA dari delapan universitas di Indonesia yang dapat memperoleh kesempatan berharga itu. “Selama proses mengajar orang Bulgaria, kita harus sering praktik bersama mereka di luar kelas. Soalnya jika hanya mengandalkan jam mengajar di dalam kelas, mereka akan lambat mengembangkan keterampilan bahasa Indonesianya. Karena di luar jam bahasa Indonesia mereka banyak menggunakan bahasa Bulgaria dan Inggris, sehingga kita sebagai pengajar harus kreatif memanfaatkan keadaan untuk mengajak mereka mengobrol dengan bahasa Indonesia agar mereka cepat terampil berbahasa Indonesia,” ungkapnya. (can/han)

UMM Dukung Pengembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah

DUKUNGAN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terhadap persyarikatan Muhammadiyah ditunjukkan melalui berbagai bentuk. Salah satunya, UMM mewadahi digelarnya Workshop Pembentukan Korps Muballigh Muhammadiyah dan Pelaksanaan Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) Tingkat Cabang, Sabtu hingga Senin (18-20/3) di Hotel UMM Inn. Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Drs. Jamaluddin Ahmad, Psi mengungkapkan, kegiatan ini adalah tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas)  yang digelar beberapa waktu lalu.  Ada empat keputusan yang diambil saat rakornas, salah satunya yakni kesepakatan untuk menghidupkan GJDJ. “Pembentukan cabang dan ranting Muhammadiyah di berbagai kota tak lepas dari kehadiran muballigh. Oleh karenanya, pembentukan Korps Muballigh ini akan memperkuat semangat untuk membentuk, menghidupkan, dan menggerakkan ranting dan cabang di berbagai daerah di Indonesia,” terangnya. Dukungan UMM tak sebatas menyediakan wadah kegiatan Muhammadiyah. Disampaikan Jamaluddin, UMM juga berkontribusi pada agenda LPCR yang akan meluncurkan program beasiswa pelatihan berbagai keterampilan untuk  pemuda pada Mei mendatang. Rektor UMM yang juga sekaligus wakil ketua LPCR menyatakan, gerakan ideologi jadi magnet tersendiri bagi masyarakat untuk melibatkan diri menjadi bagian dari Muhammadiyah. Terlebih, di era 2000-an, tanpa ideologi, Muhammadiyah tak cukup kuat untuk jadi senjata untuk pengembangan organisasi. Kegiatan ini diikuti oleh 92 peserta yang terdiri dari perwakilan 26 wilayah LPCR dan PP Aisyiyah. Selain pembentukan Korps Muballigh, LPCR juga akan melatih pembentukan model pengelolaan Korps Muballigh, GDGJ, dan program pemetaan. (ich/han)