Kemenristek Dikti Sediakan 1000 Beasiswa ke Timur Tengah

BEKERJASAMA dengan Kementrian Pendidikan Saudi Arabia, Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) RI menyediakan 1000 beasiswa bagi program magister dan doktoral. Kerjasama tersebut dilakukan dalam rangka merespon perkembangan pendidikan yang semakin pesat. Staf khusus Kemenristek Dikti KH. Dr. Abdul Wahid Maktub menyatakan solusi yang inovatif dapat muncul ketika lingkungan sudah bagus dan sangat mendukung. Lingkungan yang dibentuk seharusnya bukan hanya lingkungan formal, namun dibutuhkan juga lingkungan informal. “Semua beasiswa yang disediakan bertujuan agar bisa menghadirkan inovasi-inovasi yang cepat untuk permasalahan Indonesia,” jelasAbdul Wahidsaat presentasi beasiswa Timur Tengah akhir pekan lalu (25/3) di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam rancangan Kemenristek Dikti, pada 2015-2019 yang menjadi prioritas utama adalah peningkatan mutu pendidikan tinggi di setiap Perguruan Tinggi (PT). selain mutu pendidikan tinggi, relevansi, akses, daya saing dan juga tata kelola PT menjadi sasaran selanjutnya yang ingin diperbaiki Kemenristek Dikti hingga 2019 nanti. “Yang ingin meneruskan program magister dan doktoral harus rajinmengecek lamankita dan kalau bisa juga memiliki jaringan,” terangWahid. Untuk mencapai mutu pendidikan yang ditargetkan, Kemenristek Dikti membuat grand design pendidikan tinggi 2015-2025. Konsep tersebut diantaranya memuat pemberian afirmasi pada PT yang masih lemah, pembedaan orientasi kampus menjadi konsep yang juga sedang digarap Kemenristek Dikti. “Perlu ada kampus yang diarahkan ke penelitian, kampus yang diarahkan ke pengajaran dan semacamnya,” imbuhnya. Selain itu, target Kemenristek Dikti untuk peningkatan mutu adalah masuknya PT di Indonesia dalam world class university. Paling tidak, lanjut Wahid, minimal ada limaPT di Indonesia yang bisa masuk 500 PT terbaik versi QS Ranking. Inovasi dan komersialisasi di segala bidang yang dilakukan PT juga semakin lama perlu ditingkatkan. “Penelitian yang dilakukan sebagian bisa diproduksi secara komersial. Jika berkaitan dengan regulasi, maka peraturan yang menghambat pengembangan PT harus diperbaiki dan dimaksimalkan,” paparnya. Menurut Wahid, selain gerakan strukturasi, gerakan kulturasi juga dibutuhkan di lingkungan PT. Gerakan kulturasi sendiri akan terbangun jika PT selalu memperbaharui caranya dengan metode yang lebih modern. Wahid berharap, penerapan gerakan kulturasi dapat menjadikan UMM sebagai father university atau universitas pelopor yang hidupnya diabdikan untuk orang lain atau life for other. (jal/han)
Zulfikar Bagas Anoraga, dari Papua hingga Eropa

BELUM genap tiga tahun Zulfikar Bagas Anoraga kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berbagai pengalaman internasional sudah direngkuhnya. Mulai dari proyek sosial di India selama dua bulan, program kredit transfer di Tongren University Cina selama satu semester, dan terakhir beasiswa Erasmus+ di Universidad de Murcia Spanyol selama enam bulan. Saat ini, Bagas tengah berada di Spanyol, karena sejak Januari hingga Juli mendatang ia mengikuti program Erasmus+ tersebut. Perjuangannya meraih beasiswa yang disebut terakhir ini tak mudah, karena saat pendaftaran program dibuka, ia sedang menjalani program kredit transfer di Cina. “Saya dapat kabar ada pendaftaran Erasmus+. Untuk mendaftar, saya agak kesulitan karena semua berkas saya di Indonesia, tidak dibawa ke Cina. Akhirnya, saya meminta bantuan teman kontrakan untuk mengurusi persyaratan, mulai dari transkrip hingga surat aktif kuliah,” kisah Bagas. Bahkan, saat pengumuman lolos beberapa bulan setelahnya, ia juga tidak sedang berada di Malang, karena sedang berlibur di kampung halamannya, Papua. “Kelolosannya saya tahu dari teman. Maklum saja, di sana (Papua) susah sekali sinyal internet. Sempat tidak percaya saya berhasil lolos, rasanya seperti mimpi. Bahkan, orang tua saya sampai menitikkan air mata,” cerita Bagas haru. Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM ini berujar, motivasi utamanya meraih beasiswa luar negeri ialah orang tuanya. “Saya termotivasi belajar menjadi lebih baik demi orang tua saya,” ujarnya. Siapa sangka, awalnya Bagas ternyata bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun, keputusannya melanjutkan pendidikan selepas SMA membulatkan tekadnya untuk belajar sungguh-sungguh. Kini, Bagas bermimpi menjadi dosen. Di mata Bagas, meraih beasiswa luar negeri bukan hal sukar bila dibarengi niat yang kuat. “Asalkan kita ulet dan mau bersusah-payah berjuang. Yang paling penting ialah mencari informasi selengkap-lengkapnya, sehingga lebih mudah mempersiapkan persyaratan yang dibutuhkan,” pungkasnya. (ich/han)