Hadirkan Dosen Arab Saudi, FAI UMM Kenalkan Maqoshid Syariah

ISTILAH maqoshid syariah mungkin saja sangat tidak familier bagi masyarakat awam. Padahal, dalam konteks hukum Islam, peran maqoshid syariah sangat krusial, karena merupakan metode untuk menggali tujuan dari penerapan hukum Islam. Tak heran, perlu kedalaman ilmu yang matang bagi seseorang yang ingin menjadi ahli di bidang maqoshid syariah. Seseorang itu dintuntut untuk banyak membaca, melakukan penelitian, muraja’ah serta mempelajari nash-nash al-Quran dan hadits-hadits tentangnya. Tak lupa juga untuk memahami hukum-hukum yang lain, sehingga orang itu menjadi ahli di bidangnya. Hal tersebut disampaikan pengajar Universitas Malik bin Abdul Aziz Jeddah Arab Saudi, Prof Dr Mazin al-Bukhori MA dalam seminar nasional program studi (prodi) Syariah Ahwal Asy-Syakhsiyyah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertajuk ‘Maqosid Syariah: Sejarah dan Penerapannya dalam Hukum,’ Selasa (4/4), di Auditorium UMM. “Dan setelah menjadi ahli, dia baru bisa mengaplikasikan ilmunya untuk menentukan hukum-hukum sesuai dengan maqashid syariah. Sama halnya dengan seorang dokter, ada dokter umum ada dokter spesialis. Untuk penyakit jantung misalnya, tidak bisa ditangani dokter umum, melainkan harus ditangani oleh ahlinya atau dokter khusus jantung,” imbuh Mazin. Mazin mengajak kepada seluruh mahasiswa prodi Syariah FAI UMM untuk mendalami maqashid syariah . “Sungguh sangat indah mempelajari maqashid syariah karena sesuai kondisi kehidupan kita saat ini,” tuturnya. Selain itu, pengajar Universitas Malik bin Abdul Aziz lain yang turut memberi kuliah umum ini Dr. Marwan Ghulam Abdul Khodir Andijani serta dosen Syariah FAI UMM, Dr. Pradana Boy ZTF, MA sebagai panelis. Kegiatan dihadiri mahasiswa prodi Syariah, santri Ma’had Abdurahman bin Auf UMM, serta anggota Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah Malang Raya. (can/han)
Sisihkan 56 Kampus se-Indonesia, UMM FM Juara 1 Lomba Siaran Radio

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Radio Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), UMM FM berhasil menyabet juara pertama pada kompetisi nasional siar radio bertajuk “Galaksiar 2017” di Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang berlangsung pada 2 April lalu. Lomba ini diadakan oleh UKM Radio New PLBS FM Polines memperingati hari jadinya yang ke-28. Sebelum menjadi juara, UMM FM semula masuk dalam lima besar finalis dari total 56 tim dari berbagai kampus di Indonesia. Dua orang yang mewakili UMM FM yakni Aan Marenda dan Nata Renaldi, keduanya adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi UMM angkatan 2015. Nata mengungkapkan, ia dan Aan harus melewati proses panjang untuk akhirnya menjadi juara. “Lomba diadakan setelah workshop kepenyiaran radio di hari Sabtu. Baru selepas shalat dhuhur lomba dimulai sampai jam 10 malam. Waktu yang sangat lama, sampai bosan, lelah menunggu antrean,” kisah Nata. Untuk menuju lima besar, mereka harus membawakan sebuah program bernama ‘Sore dalam Gembira’. Program ini berdurasi tujuh menit yang dibawakan oleh dua penyiar. Tiga penyiar senior dari radio di Semarang didapuk jadi juri. Jika rata-rata tim lain siaran sambil membawa kertas berisi catatan, UMM FM hanya menuliskan poin-poin yang akan dibicarakan di kertas. Selebihnya, mereka siaran tanpa membaca catatan. “Kami menilai juri akan bosan kalau harus menyaksikan penyiar yang membaca. Kami siaran seperti ngobrol. Jadi santai dan ekspresi pun keluar dengan natural. Mungkin ini salah satu hal yang menjadi nilai tambah,” ujar Aan. Dinyatakan lolos lima besar, keesokan harinya mereka mesti mengikuti babak final. Tema siaran di babak ini ditentukan oleh panitia, yakni hangout. Bangga sebagai warga Malang sekaligus mengenalkan produk UMM, maka Nata dan Aan sepakat membahas dua tempat hangout yang tenar di kota Malang, Kampung Warna-warni Jodipan dan Wisata Gunung Banyak (Paralayang). Mereka pun akhirnya sukses memenangi ajang ini. (ich/han)
Film Pendek Karya Mahasiswa UMM Rajai Lomba Videografi Nasional Ekonomi Syariah

Pogram Studi (Prodi) Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) patut berbangga, dua tim delegasinya yang terlibat dalam lomba Videografi Nasional Ekonomi Islam pada acara Shariah Economic Week (SEW) V, 31 Maret-1 April 2017 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menjadi juara 1 dan 2 sekaligus. Juara satu disabet oleh tim yang terdiri dari Amilia Aprilia, Fatiqe Ridho dan Hilva Kurnia dengan film berjudul “Masih Ada Jalan”. Sementara juara dua diraih oleh tim yang terdiri dari Juliani Pradipta, Daniel Firman dan Dwi Kurniawati dengan film berjudul “Sukses”. Aprilia menceritakan, film yang dibuatnya bercerita tentang seorang ayah yang ingin mewujudkan impian anaknya untuk menjadi dokter. Melalui film tersebut, April bersama tim mencoba menyampaikan pesan tentang praktek keuangan syariah yang sejatinya dapat menguntungkan semua masyarakat, termasuk di antaranya masyarakat miskin. “Asuransi syariah itu dapat mempermudah masyarakat, karena kedua belah pihak dapat diuntungkan,” jelas April. Penyampaikan pesan melalui video dapat menjadi salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat tentang transaksi ekonomi syariah. Fenomena yang terjadi saat ini, lanjut April, tidak semua masyarakat mengetahui apa itu ekonomi syariah dan praktek-prakteknya. Sebagian besar orang masih menganggap ‘syariah’ hanya embel-embel saja. Padahal jika didalami, sistemnya juga beda dengan bank atau badan asuransi konvensional. “Besar harapan kami masyarakat dapat terbiasa dengan istilah asuransi syariah, sehingga mereka dapat terbantu secara finansial,” ungkap mahasiswa semester 4 tersebut. Pada film yang berdurasi 4 menit 57 detik itu, pesan tentang manfaat keberadaan asuransi syariah sangat ditekankan. Menurut April, pemenuhan kebutuhan pendidikan menjadi yang paling urgent. Keberadaan asuransi syariah menjadi salah satu cara untuk membantu orang yang tidak mampu khususnya dalam memenuhi kebutuhan pendidikan bagi keluarganya. Sementara itu film berjudul “Sukses” menyampaikan pesan bahwa tidak hanya muslim saja yang bisa menabung di bank syariah. Non muslim juga dapat memanfaatkan keunggulan bank syariah. Dapat film tersebut dijelaskan, bahwa semua orang bisa berkembang dengan sistem keuangan syariah tanpa melihat ras, suku maupun agama. (jal/han)