Kisah Ridlo Setyono, Staf UMM yang Kenalkan Muhammadiyah di Polandia

BADAN seakan ditusuk jarum es, telapak tangan serasa kram, lutut berdenyut dan mulut rasanya ngilu menahan dinginnya cuaca di bumi Eropa. Demikian kisah Ridlo Setyono mengilustrasikan suasana musim semi di Lublin, kota terbesar ke-9 di Polandia, saat mengikuti beasiswa pertukaran Erasmus+ atas sponsor Uni Eropa. Memang, bagi warga negara tropis seperti Indonesia, merasakan musim semi di Eropa adalah pengalaman mengasyikkan sekaligus menantang. “Kegiatan selama di Polandia berpusat di Lublin University of Technology (LUT). Selain saya yang dari Indonesia, peserta lainnya berasal dari Perancis, Spanyol, Rusia, Serbia, Libanon, Maroko, Tunisia, Aljazair, Kosovo, Kamboja, dan Honduras,” tutur Kepala Urusan Perlengkapan dan Inventaris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Ridlo menceritakan, di awal kedatangan, peserta disambut dengan welcoming remark dari International Exchange Education LUT yang diwakili oleh Małgorzata Wilczyńska. Ridlo sebagai wakil UMM tak hanya memanfaatkan momen itu untuk mengenalkan dirinya dan kampusnya saja, tapi juga persyarikatan Muhammadiyah, tentunya dengan bahasa Inggris. “ini adalah saat tepat bagi saya untuk mengenalkan kampus dan juga Muhammadiyah. Setelah perkenalan pribadi dan kampus, saya tambahkan dengan mengatakan kalau UMM adalah salah satu dari kampus besar yang dimiliki organisasi Islam terbesar di Indonesia. Muhammadiyah adalah pioner pendidikan di Indonesia sejak 1913 M. Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki ribuan sekolah dan perguruan tinggi yang menyebar di seluruh Indonesia, bahkan telah dibuka kampus Muhammadiyah di luar negeri seperti di Malaysia,” papar Ridlo. Oleh karena itu, lanjut Ridlo, untuk urusan pendidikan, pemerintah Indonesia mempercayakan kepada Muhammadiyah, terbukti Menteri Pendidikan sekarang berasal dari jajaran pimpinan Muhammadiyah. “Peserta terlihat terkesima, mereka menyimak sembari penasaran dengan penjelasan saya mengenai Muhammadiyah. Terlihat peserta dengan khidmat mengikuti apa yang saya sampaikan,” jelas sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang ini. Disaat Ridlo menjelaskan mengenai Muhammadiyah, salah satu peserta dari Maroko, Hanae, mengacungkan tangan sambil berkata “I am also from Muhammadiyah. That’s one of the names of city in Maroko”, kata Hanae. Hadirin semula tampak penasaran dengan apa yang disampaikan. Ternyata di Maroko, nama muhammadiyah sudah terkenal karena di sana ada kota yang bernama Mohammedia. Menutup presentasi singkat itu, Ridlo menyampaian bahwa UMM dan Muhammadiyah membuka pintu kepada semua delegasi kampus bila berkeinginan untuk research, studi banding, sharing dan diskusi mengenai UMM dan Muhammadiyah. “Semoga ini menjadi salah satu media untuk mengenalkan Muhammadiyah di belahan negara lain yang belum paham tentang organisasi ini,” ujarnya. Peserta tampak antusias dan penasaran dengan apa yang diceritakan Ridlo lantara ia merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia. “Mereka yang berasala dari Timur Tengah sangat appreciate dan mengagumi dengan mengatakan ‘Indonesia is a good country’. Jadi di mata mereka, kita bangsa Indonesia masih dipandang baik dan sukses pemerintahannya,” tutup Ridlo. (rid/han)

KDRT Meningkat, LP3A Dalami Akar Kekerasan Perempuan dan Anak

ANGKA Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) di Indonesia terus meningkat. Tahun 2016 lalu, sebanyak 259.150 kasus KDRT terlaporkan ke pengadilan agama. Menurut Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan 2007-2014 Dr Neng Dara Affiah MSi, sejak 2010, jumlah KDRT memang terus mengalami peningkatan hingga saat ini. Kekerasan pada perempuan ini banyak jenisnya. Menurut Neng Dara, data menunjukkan kekerasan yang paling menonjol adalah KDRT Ranah Personal (RP), yaitu hingga mencapai 75 persen atau sekitar 10.205 kasus. “Semua kasus tersebut adalah yang terlaporkan, masih banyak yang tidak terlaporkan,” jelasnya pada Seminar Nasional yang digelar Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Selasa (11/4) di Auditorium UMM. Neng Dara menjelaskan, 70 persen kasus kekerasan seksual dilakukan oleh orang yang dikenal dekat dengan korban. Pelaku kekerasan seksual tidak hanya melakukannya sendiri, kecenderungan dalam tiga tahun terakhir, perkosaan dilakukan secara berkelompok yang diakhiri dengan pembunuhan. “Pelakunya semakin banyak berasal dari usia anak dan akan menjadikan anak yang berumur di bawahnya sebagai korban,” ungkapnya. Narasumber kedua, yaitu dosen Fakultas Psikologi UMM Selain Neng Dara, Dr, Muhammad Salis Yuniardi, M. Psi menjelaskan, korban kekerasan perempuan dan anak biasanya berasal dari keluarga yang tidak mengajarkan masalah kepribadian kepada anak. Menurut Salis, keluarga merupakan akar dari segala permasalahan yang terjadi pada anak. Mulai dari awal, ayah dan ibu harus bekerjasama untuk membangun keluarga yang kokoh dengan membangun pribadi yang tangguh. “Berikan kesempatan pada anak untuk mengambangkan bakat dan minat. Banyak dari orang tua yang menekan anaknya supaya sesuai dengan keinginan orang tua. Jika anak tidak menghendaki hal tersebut, maka anak akan mencari tempat yang mendukung bakat dan minatnya,” jelas Salis. Kasus kekerasan pada anak dan perempuan hingga saat ini belum masuk dalam kasus delik pidana, tetapi masih dalam kategori kasus delik aduan. Salis memaparkan, jika delik pidana, maka tanpa ada laporan kekerasan polisi atau pihak berwajib boleh melakukan tindakan. Namun, karena kasus kekerasa pada perempuan dan anak masuk kategori delik aduan, jadi perlu ada yang melaporkan terlebih dahulu baru bisa diproses secara hukum. “Hal tersebut menambah panjang penyebab turunnya angka kekerasan pada perempuan dan anak,” ujarnya. (jal/han)

DPPM Dampingi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPPM IISIP Biak Papua

DIREKTORAT Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi bekerjasama dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Yapis Biak, Papua. Penandatanganan nota kesepahaman antara UMM dan LPPM IISIP Yapis Biak dilakukan di kantor DPPM UMM, Senin (10/4). Direktur DPPM UMM, Prof. Dr. Sujono, M.Kes menyatakan kerjasama yang akan dilakukan berupa pendampingan jurnal, penelitian maupun proposal pengabdian masyarakat. Nantinya, UMM akan menjadi mitra bestari bagi IISIP Yapis Biak. “Mitra bestari adalah kegiatan di mana dosen UMM akan mengkoreksi penelitian, jurnal, artikel maupun pengabdian masyarakat yang dihasilkan oleh LPPM IISIP Yapis Biak,” jelas Sujono. Pendampingan yang dilakukan UMM merupakan suatu keuntungan. Pasalnya, menurut Sujono, proposal yang diunggah ke Dikti akan mendapatkan nilai tambah jika sebelumnya dibaca dan dikoreksi oleh universitas lain. Sujono menambahkan, batas akhir pengunggahan proposal penelitian maupun pengabdian masyarakat di Dikti bulan April 2017. Itu berarti, semua kesepakatan akan langsung dijalankan mulai bulan ini. “Karena UMM sudah masuk dalam cluster mandiri dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat, maka pendampingan yang diberikan ini adalah bentuk dukungan UMM untuk mengembangkan penelitian di kampus lain,” jelasnya. Tidak hanya bekerjasama dalam bidang penelitian tersebut, UMM juga memberikan kesempatan bagi IISIP Yapis Biak untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dalam bidang pendidikan. Di antaranya dengan memberikan kesempatan bagi lulusan IISIP menjalani program magister dan doktoral di UMM. “Mereka bisa menyelesaikan program magister dan doktoral di program pascasarjana magister sosiologi dan program doktoral ilmu sosial dan ilmu politik,” ungkap Sujono. (jal/han)

Kunjungi UMM, Rektor IMAMU Arab Saudi Ajak Jaga Toleransi dan Perdamaian

MENINDAKLANJUTI kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia beberapa waktu silam, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin memperkuat komitmen kemanusiaan lewat penguatan kerjasama dengan sejumlah universitas dan lembaga di Arab Saudi, salah satunya dengan Al-Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University (IMAMU), Riyadh, Arab Saudi. Hal tersebut diwujudkan melalui lawatan anggota Lembaga Tinggi Ulama Kerajaan Arab Saudi sekaligus Rektor IMAMU Prof. Dr. Sulaiman bin Abdullah Aba Al Khail beserta rombongan. Selain mengadakan dialog terbatas dengan jajaran rektorat UMM, momen ini juga dimanfaatkan dengan diadakannya seminar ilmiah bertema “Nilai Toleransi dan Perdamaian dalam Islam serta Perannya dalam Menguatkan Hubungan Kemanusiaan” yang berlangsung di Auditorium UMM, Selasa (11/4). Disampaikan Sulaiman, diadakannya kegiatan ini sebagai upaya membendung segala bentuk konspirasi serta upaya penyudutan yang kerap dialamatkan kepada Islam. Hal tersebut, kata Sulaiman, dapat diwujudkan dengan mencetak kader-kader yang dibentuk agar berkomitmen penuh pada jalan kebenaran. “Kerjasama antara Arab Saudi dan Indonesia seperti layaknya dua kelopak mata di satu kepala. Mudah-mudahan Pak Rektor akan banyak melihat hal-hal yang menggembirakan setelah bekerjasama dengan universitas kami,” ungkap Sulaiman usai memberikan kuliah tamu di hadapan civitas akademika UMM. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Fauzan menyampikan, poin penting kerjasama yang telah dibangun antara UMM dan IMAMU yakni memberikan penegasan bahwa Islam adalah agama cinta damai dan mengedepankan toleransi. “Arab Saudi dan Indonesia adalah saudara kandung secara ideologis, yakni sama-sama menjadikan Islam sebagai ideologi. Sambutan baik masyarakat Indonesia atas kedatangan Raja Salman sebenarnya menggambarkan kerinduan dua orang saudara yang telah lama tidak bertemu,” kata Fauzan. Selain Rektor, IMAMU juga mendatangkan dua pengajarnya, antara lain Dr Khalid As Syitsri dan Dr Jamil Al Khalaf yang juga merupakan Ketua Lembaga Al-Faqih di Sekolah Tinggi Kehakiman Arab Saudi. Kabar baik juga datang pasca gelaran dialog ini. Pihak IMAMU melalui rektor Sulaiman menjanjikan bakal menyumbangkan sejumlah buku-buku keislaman untuk menambah perbendaharaan buku di perpustakaan UMM. (can/han)