MoU dengan PPM Manajemen, Pengguna TAEP Milik UMM Kian Meluas

TES kemampuan bahasa Inggris milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Test of Academic English Profeiency (TAEP), kian dilirik berbagai pihak. Yang terkini, Language Center (LC) UMM baru saja melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PPM Manajemen Jakarta. MoU diwakili Kepala Divisi Asesmen Sumber Daya Manusia (SDM) PPM Manajemen Aditayani I Kukila MPsi dan Rektor UMM Fauzan, yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (10/5). Kepala LC UMM, Dr Masduki MPd menyatakan, TAEP merupakan alat tes bahasa Inggris yang asli dimiliki UMM. Kesepakatan yang dijalankan oleh UMM dan PPM Manajemen ini merupakan kesepakatan di tahun kedua sejak tahun 2016 lalu. Tahun sebelumnya, sebanyak 13.800 yang tersebar di 10 kota se-Indonesia menggunakan tes tersebut untuk seleksi karyawan. “Tahun ini sebanyak 16.835 peserta yang tersebar 30 kota di Indonesia akan menggunakan tes ini sebagai pengukur kemampuan bahasa inggrisnya,” jelasnya. Menurut Masduki, TAEP mengakomodir kebutuhan masyarakat secara umum dan Muhammadiyah khususnya untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris. Salah satu keistimewaan yang ditawarkan UMM melalui TAEP ini adalah pada kemampuan listening-nya. Pada TAEP, peserta tes diperdengarkan suara bukan dari penutur aslinya. Menurut Masduki, seringkali pekerja tidak berinteraksi langsung dengan penutur aslinya. “Sebanyak 85 persen karyawan tidak berinteraksi dengan penutur asli. Jadi kami fasilitasi itu pada kemampuan listening bukan dari penutur aslinya dan itu terbukti sangat membantu karyawan dalam memenuhi kebutuhan kerja,” jelasnya saat penandatangan nota kesepahaman tersebut. Selain itu keunggulan lainnya adalah dari segi harga yang terjangkau untuk semua golongan. Hingga saat ini, tes TAEP ini sudah dapat digunakan oleh seluruh civitas akademika UMM yang ingin melakukan pertukaran mahasiswa, dosen maupun karyawan UMM. Salah satunya hasil TAEP ini dapat digunakan untuk memenuhi syarat Erasmus+ yang diselenggarakan oleh Uni Eropa. Tidak hanya itu, hasil tes TAEP juga diterima oleh berbagai perguruan tinggi di China. Ke depan, Masduki berharap, tes TAEP dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan internasional. “Dalam waktu dekat, produk UMM ini akan digunakan oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah se-Indonesia,” tutupnya. (jal/han)

Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., Dosen Berprestasi yang Produktif Menulis dan Meneliti

KESERIUSAN Prof Dr Ishomuddin MSi mendalami sosiologi masyarakat Islam membuatnya dinobatkan sebagai dosen berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Meneliti, mengajar dan mengabdi pada masyarakat sudah menjadi rutinitas bagi saya. Tujuannya, untuk bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya. Ketekunan Ishomuddin dalam menulis dan menebarkan ilmu ia buktikan dengan menerbitkan tulisan-tulisannya di berbagai jurnal nasional maupun internasional. Kegiatan menulis dan meneliti menjadi hal tak terpisahkan dari kehidupan pribadinya. Pengabdiannya dalam dunia sosial sciencedibuktikkan dengan banyaknya karya yang bisa dibaca oleh semua orang. Ishommuddin telah menerbitkan 21 buku dan masih akan bertambah terus, yang sebagian besarnya membahas tentang sosiologi masyarakat Islam. Pemikirannya yang sangat mendalam dan fokus tersebut menjadikan dirinya dikukuhkan sebagai guru besar di bidang sosiologi masyarakat Islam. Ishomuddin berhasil menyelesaikan studi strata II (S2) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan program doktoralnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Dengan fokus studi Islam dan kebudayaan, menjadikan bapak dari tiga anak ini tertarik untuk melakukan penelitian dan menulis di bidang sosiologi masyarakat Islam, politik Islam dan juga pendidikan Islam. Hingga kini, hasil penelitiannya tidak hanya bisa dinikmati oleh orang Indonesia saja, namun juga bisa dirasakan oleh masyarakat internasional. Sedikitnya 12 artikel internasional telah Ishomuddin tulis untuk menebarkan keilmuan yang dimilikinya. Pada tahun 2016, Ishomuddin telah menerbitkan enam jurnal internasional dan akan bertambah lagi dalam waktu dekat. Bahkan, ia menyatakan tiga bulan dari sekarang akan terbit juga artikelnya dalam jurnal internasional. Kepekaannya dalam bidang sosiologi masyarakat Islam direspon banyak pihak. Ishomuddin seringkali diundang dalam beberapa seminar internasional sebagai pembicara. Salah satunya, Pada 26 Maret 2016 lalu, Ishomuddin berbicara tentang ASEAN Muslims Faced Globalization and The Global Issues. Materi itu ia sampaikan pada forum seminar internasional “Global Issues of South-Asia Community”, di Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM). “Ilmu memang tidak baik jika dimiliki sendiri namun perlu, bahkan harus untuk disebar. Melalui penelitian, menulis, publikasi jurnal nasional dan internasional, saya berusaha untuk menyebarkan ilmu ke masyarakat luas,” ujarnya. Ishomuddin berkeyakinan bahwa penelitian dan publikasi hasil penelitiannya merupakan wujud kongkrit dari tanggungjawab seorang ilmuan. (jal/han)

Gathering Darmasiswa RI, 60 Mahasiswa UMM Dampingi Ratusan Mahasiswa Asing

SEBANYAK 60 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai program studi mendapatkan kesempatan berharga untuk menjadi buddy atau rekan pendamping bagi 540 mahasiswa asing dari 78 negara. Mereka mendampingi mahasiswa asing itu pada kegiatan International Gathering dalam rangka penutupan program Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud RI). Selama tiga hari, Senin-Rabu (8-10/5), ke-60 mahasiswa UMM ini bertugas menemani dan mengarahkan mahasiswa asing peserta Darmasiswa selama gathering di UMM, berkunjung ke Balai Among Tani Kota Batu, hingga wisata ke Gunung Bromo. “Kita berikan ruang pada mahasiswa untuk memiliki pengalaman serta jaringan internasional,” jelas Dimas Arif Prassetyo, salah satu panitia International Gathering tersebut. Dimas menjelaskan, antusiasme mahasiswa untuk menjadi pendamping peserta ini sangat tinggi. Hal itu terbukti dengan pendaftaran awal. Setidaknya 150 mahasiswa mendaftarkan dirinya untuk menjadi buddy. Setelah melalui proses wawancara, diumumkanlah 60 mahasiswa untuk menjadi buddy. Setiap buddy memiliki tugas mendampingi peserta serta mempromosikan UMM pada seluruh peserta international gathering itu. Karena ini adalah acara internasional, lanjut Dimas, UMM ingin memberikan yang terbaik pada seluruh peserta. Maka dari itu panitia juga menyeleksi mahasiswa yang dipandnag mumpuni untuk melakukan tugas tersebut. Dengan seringnya mahasiswa UMM dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan internasional, menurut Dimas, hal itu dapat membantu UMM untuk mencapai kampus yang dengan rekognisi internasional. “UMM sedang berusaha untuk memperoleh pengakuan internasional, maka mahasiswa menjadi kompenen pendukung dan kita berikan kesempatan untuk bergaul dengan mahasiswa internasional,” ungkap Dimas yang juga staf International Relations Office (IRO) UMM ini. Tidak hanya mendapatkan pengalaman dan jaringan internasional, 60 buddy itu juga akan diberikan sertifikat setelah selesainya acara ini. “Kita berikan sertifikat setelah seluruh rangkaian acara terlaksana sebagai salah satu penghargaan pada mahasiswa sekaligus menjadi bekal ke depannya jika meneruskan di dunia internasional,” pungkasnya. (jal/han)

Minat Baca Turun, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Terus Galakkan Literasi Sastra

HINGGA saat ini, minat baca masyarakat  Indonesia, bahkan mahasiswa sebagai salah satu masyarakat ilmiah, turun drastis. Merespon hal itu, Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra Tuti Kusniarti MSi MPd menjelaskan, gerakan literasi sastra sangat perlu digalakkan untuk mendekatkan sastra dengan masyarakat dan mahasiswa. Salah satunya, yaitu dengan gelaran seminar nasional literasi sastra yang diadakan prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM bekerjasama dengan Himpunan Sarjana Kesustraan Indonesia (HSKI) Komisariat Malang pada Selasa (9/5) di Auditorium UMM. Bagi Tuti, membaca erat kaitannya dengan aktivitas literasi. “Bacaan sastra juga sangat sedikit peminatnya sekarang. Ini merupakan momen untuk membangkitkan kembali pentingnya literasi sastra terutama pada mahasiswa kami,” jelas Tuti. Menurut Tuti, literasi sastra sederhananya adalah membaca. Namun tidak hanya membaca, tapi perlu ada implementasi dari membaca tersebut. Membaca sastra juga harus membaca makna yang ada di dalamnya. Dengan mengangkat tema “Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Gerakan Literasi Sastra”, Tuti berharap, dengan membaca sastra beserta makna di dalamnya maka mahasiswa bisa membaca manusia dan bagaimana harus berbuat untuk manusia lainnya. Dengan dihadiri 350 peserta dari seluruh Indonesia, pada seminar nasional ini akan dibagi beberapa sesi parallel yang mana setiap sesi parallelnya ada pemakalah yang mempresentasikan tulisannya. Selain peserta dari seluruh Indonesia, di antaranya 40 mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia juga menjadi pemakalah. Dengan melatih mahasiswa dalam presentasi dan penulisan ilmiah dapat membuat mahasiswa berani untuk mengeluarkan ide dan karyanya. “Ke depannya setelah seminar nasional ini, akan digenjot lagi penulisan ilmiah, salah satunya adalah pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM),” jelasnya. Hadir juga dalam seminar nasional ini, staf ahli Kemendikbud RI Prof Dr Djoko Saryono MPd, ketua umum HISKI Pusat Prof Dr Suwardi Endraswara MHum dan ketua Asosiasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Jawa Timur Dr Arif Budi Wurianto MSi. (jal/han)