Perkuat Citra Kampus Wisata, UMM Kini Punya Duta Wisata

SETELAH melalui tahap karantina pada 13 Mei lalu, akhirnya terpilih dua orang Duta Wisata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2017 pada perhelatan Grand Final, Kamis malam (18/5). Nadya Rifta mahasiswa Ilmu Komunikasi 2016 dan Nata Renaldi, Ilmu Komunikasi 2015 dinyatakan keluar sebagai pemenang dalam ajang menguji kompetensi serta wawasan terhadap budaya dan pariwisata itu. Sementara, Adeana Disty mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional 2015 dan Arif Pangestu, mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan angkatan 2016 dinyatakan sebagai Runer Up. Gelaran yang diselenggarakan di Aula Bugenville Taman Rekreasi Sengkaling UMM ini sekaligus menandai diluncurkannya agenda tahunan baru Lembaga Kebudayaan (LK) itu. Sebelumnya, sepuluh finalis yang terdiri dari mahasiswa UMM berbagai daerah di tanah air ini tampil di hadapan penonton dan dewan juri. Penjurian meliputi aspek karakter, public speaking dan wawasan wisata UMM dan ditambah oleh pertunjukan talenta dari masing-masing finalis. Pemilihan Duta Wisata UMM 2017 dilakukan dalam 3 tahap. Yang pertama adalah tahap karantina yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2017. Dalam tahap karantina, calon finalis diberikan 3 materi yaitu: character building, public speaking & rhetoric, serta wawasan wisata UMM. Kepala Lembaga Kebudayaan UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. menerangkan, kedua pasang pemenang akan menjadi wakil UMM untuk mengenalkan budaya dan cinta pariwisata Indonesia khususnya yang terdapat di UMM. “Selain itu, mereka yang terpilih secara otomatis menjadi bagian dari LK UMM dan mengamban tanggung jawab untuk mengembangkan juga memperkenalkan kepada khalayak luas beberapa kebudayaan juga wahana wisata yang dimiliki UMM, seperti Taman Rekreasi Sengkaling UMM dan Sengkaling Kuliner,” katanya. Ditambahkan Daroe, mereka juga nantinya akan didelegasikan sebagai wakil UMM dalam ajang serupa di kancah nasional maupun internasional. “Perhelatan ini merupakan kerjasama Lembaga Kebudayaan UMM dan PEO Event Organizer. PEO Organizer sendiri merupakan kelompok praktikum 2 dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang mengambil peminatan Public Relations,” ungkap Ketua Kelompok PEO Rilha Hayuning Sakti Pamungkas. (can/han)

Malik Fadjar: Masjid AR Fachruddin UMM Harus Jadi Pusat Membangun Peradaban

BULAN Ramadhan selayaknya menjadi momen tepat mengembalikan peran masjid sebagai pusat membangun peradaban Islam. Hal itu disampaikan Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) yang juga Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. dalam pengajian jelang Ramadhan 1438 Hijriyah di Masjid AR. Fachruddin UMM, Jumat (19/5). “UMM melalui Masjid AR. Fachruddin harus mampu menghadirkan wajah Islam yang mendamaikan dan mencerdaskan. Bulan Ramadhan adalah momen tepat untuk mewujudkannya,” kata Malik di hadapan civitas akademika UMM usai pelaksanaan Salat Jumat. Dibangunnya Masjid AR. Fachruddin, imbuh Malik, merupakan hasil pergumulan panjang UMM untuk mewujudkan Islam yang berkemajuan. “Didirikannya Masjid AR. Fachruddin memberikan harapan pada pembangunan manusia Indonesia, khususnya umat Islam,” ungkapnya. Rasulullah memulai gerakan dakwahnya melalui Masjid, ditandai dengan dibangunnya Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan Rasulullah dalam perjalanan Hijrah dari Mekah ke Madinah. Begitu pula pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Masjid juga memiliki posisi penting dalam Islam. Meski pembangunan Masjid di tiap daerah begitu menjamur pada beberapa dekade ini, namun demikian disayangkan Malik, Masjid yang ada sekarang tidak serta-merta membawa kedamaian batin. Demikian disampaikan Malik saat mengenang dinamika dakwah masjid di Malang di era 60-an, saat atmosfer spiritual lebih dominan ketika itu. “Terutama sejak momen Pilkada beberapa waktu lalu. Masjid jadi tempat yang penuh dengan ujaran kebencian. Sebaliknya, Masjid harus dikembalikan pada fungsi mendasarnya, yakni sebagai pusat membangun peradaban, serta dapat membawa ketenangan batin bagi jama’ahnya,” ungkapnya. Selain itu, jelang pelaksanaan ibadah puasa, Malik juga menghimbau kepada jamaah untuk mempersipkan segala sesuatunya. Bagi Malik, persiapan itu bukan hanya tentang kesiapan fisik dan persiapan-persiapan material lainnya. “Jelang puasa, kita perisiapan mendalam, khususnya rohani, agar dapat menangkap makna mendasar dalam berpuasa, yakni membangun keimanan dan ketakwaan,” tandas Malik. (can/han)

Indahnya Jawa Timur dalam Karya Fotografi Mahasiswa Asing UMM

BAGI mahasiswa asing, potret kehidupan kota-kota di Indonesia begitu indah. Aktivitas-aktivitas masyarakat di jalan seperti pedagang, keindahan alam seperti gunung, pantai, dan coban, serta keramahan penduduk lokal menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Berawal dari rasa penasaran itu, mahasiswa-mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pameran foto bertajuk East Java Through the Eyes of Foreigners, alias Jawa Timur di Mata Orang Asing. Sebanyak 25 foto dipamerkan di area kantin lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I mulai Kamis hingga Sabtu (17-20/5). Kedua puluh lima foto ini merupakan foto terpilih dari sekitar 50 foto yang diterima oleh kurator. Semuanya merupakan jepretan 11 mahasiswa asing yang tengah belajar di UMM. Ditanya perihal budaya Indonesia, Albina Gaisina, mahasiswa asing asal Rusia menganggap budaya adalah hal yang sangat penting. Budaya tak melulu soal tradisi yang ada di masyarakat, tapi juga aktivitas-aktivitas di pelosok desa yang beragam di tiap daerah. “Budaya akan menunjukkan pada kita perkembangan sebuah negara. Dan fotografi menjadi bagian penting untuk mendokumentasikan perkembangan ini,” ujarnya di antara foto-foto yang dipamerkan. Kurator foto sekaligus dosen prodi Ilmu Komunikasi UMM, Rahadi mengatakan, ada beberapa hal yang jadi acuan untuk menyeleksi foto yang layak dipamerkan, yakni kesesuaian tema, permainan warna, komposisi, dan angle yang diambil. Ada 3 tema foto pada foto yang dipamerkan, yakni portraid, landscape, dan street life. Dari foto yang ditampilkan, Rahadi mengaku ini di luar ekspektasi. “Mereka adalah orang asing yang jalan-jalan ke seantero Jawa Timur. Dengan minimnya bahasa Indonesia yang dikuasai, tapi foto-foto yang dihasilkan di luar ekspektasi saya,” ujarnya bangga. Selain dipamerkan di UMM, foto-foto ini juga akan dipamerkan di area Ijen Car Free Day, Ahad (21/5) esok, tepatnya di depan Gereja Ijen. Di sana, dari 25 foto yang ditampilkan, akan diambil 3 jepretan terbaik pilihan kurator. Ketiganya akan mendapatkan imbalan berupa publikasi di media online nasional. Untuk menghasilkan puluhan foto ini, butuh waktu hampir 2 bulan bagi Albina dan 10 mahasiswa asing lain untuk mengambil gambar ke berbagai daerah di Jawa Timur sekaligus persiapan pameran. Mahasiswa yang juga berprofesi sebagai financial analyst di negaranya tak lain adalah penggagas ide digelarnya pameran ini. “Di Indonesia, kalian melihat satu sepeda motor dinaiki 3-4 orang mungkin hal yang biasa, tapi bagi kami orang luar negeri, ini adalah hal yang baru dan begitu luar biasa. Kami ingin melihat Indonesia, melihat East Java sebagai orang luar negeri. Kami juga ingin masyarakat Indonesia melihat sudut pandang kami dalam melihat Indonesia. Bukan sekedar melihat kami bule. We have so much opinion about Indonesian’s culture,” ungkapnya antusias. (ich/han)