Kembali Jadi Yang Terunggul, UMM Dipercaya Jadi Kampus Asuh

KEBERHASILAN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Anugerah Kampus Unggulan (AKU) yang kesepuluh kalinya membuat kampus ini mendapat kepercayaan dari Direktorat Penjaminan Mutu Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset dan Tekhnologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk menjadi Perguruan Tinggi (PT) Asuh. Bersama 26 PT se-Indonesia, UMM menjadi kampus asuh bagi universitas yang masih belum terakreditasi A. Dengan begitu, UMM menjadi perpanjangan tangan dari Kemenristek Dikti untuk ikut membantu memperbaiki mutu dan kualitas PT di Indonesia. Kepala Badan Pengelola dan Pengendali Akreditasi (BPPA), Dr Ainur Rofieq MKes menyatakan, sebelumnya UMM diberi kesempatan mengajukan proposal yang menyatakan bahwa UMM siap menjadi PT Asuh bagi universitas yang berada pada klaster dua dan tiga. Berdasarkan arahan Belmawa, UMM memilih dua universitas yang akan dibimbing agar mendapatkan akreditasi lebih baik. “Kami memilih Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas Ronggolawe Tuban (UNIRO) untuk menjadi kampus yang akan diasuh,” jelasnya. Sebanyak 22 program studi (prodi) yang berada di dua universitas tersebut akan diasuh untuk dinaikkan tingkat akreditasinya. Semua yang dibimbing, lanjut Ainur, adalah prodi yang masih memiliki akreditasi C. Ada tiga aspek yang menjadi titik tekan yaitu sistem penjaminan mutu internal, tata kelola dan tata pamong, serta manajemen pengelolaan akreditasi prodi dan institusi. Selama enam bulan terhitung Juni hingga November 2017, UMM akan mengadakan kegiatan yang mendorong meningkatnya mutu dan kualitas 22 prodi di UMSIDA dan UNIRO. Bekerjasama dengan delapan satuan penjaminan mutu UMM, BPPA akan menggelar workshop, pendampingan serta pelatihan dalam mengurus akreditasi. Lebih dari itu, UMM akan memfasilitasi dalam bentuk magang yang akan dijalani dua PT tersebut. “Magangnya nanti akan ditempatkan di beberapa prodi UMM yang terakreditasi A selama sepekan. Tujuannya agar dua kampus itu mempelajari secara mendetail tentang sistem akreditasi,” ungkap Ainur. Hal yang paling penting dalam proses kampus asuh ini adalah terbangunnya sistem penjaminan mutu di PT tersebut. Menurut Ainur, penjaminan mutu harus terbangun di institusinya maupun prodinya. Dengan begitu, maka akan terbangun budaya penjaminan mutu yang sistematis. Bukan tanpa alasan UMM ditunjuk Kemenristek Dikti untuk mengurus PT lain. Ainur menjelaskan, selain UMM secara institusi telah terakreditasi A, UMM merupakan salah satu PT yang sudah memiliki kredibilitas dalam menerapkan tiga aspek di atas. Selain itu, dengan menjadi kampus asuh, UMM juga diuntungkan. Diantaranya UMM mendapatkan pengakuan dari Kemenristek Dikti terkait mutu institusi. Selain itu, dengan menjadi kampus asuh, UMM secara tidak langsung memperkenalkan sistem dan mutunya kepada universitas se-Indonesia. “Kita memperkenalkan ke khalayak bahwa UMM memiliki akreditasi dan mutu yang sangat baik, sehingga Kemenristek Dikti memberikan kepercayaannya untuk menbimbing kampus lainnya,” pungkasnya. (jal/han)

UMM Gelar Expo Mahasiswa Perikanan se-Indonesia

PROGRAM studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jadi tuan rumah rangkaian Expo Perikanan Mahasiswa Nasional (Expimnas) 2017 yang digelar selama dua hari, Senin- Selasa (22-23/5). Kegiatan yang digelar di Auditorium UMM ini diikuti 120 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia dari berbagai universitas se-Indonesia. Ketua pelaksana kegiatan, Fidi A. Rusda Hafidi menyatakan, kegiatan utama Expimnas yakni expo perikanan yang dihelat di Helipad. Namun, tak hanya pameran produk, kegiatan juga dibarengi dengan seminar dan diskusi nasional serta workshop. Senin (22/5), seminar dan diskusi nasional mengambil tema “Terlena, Potensi Negara Kepulauan” menghadirkan empat pakar perikanan. Ialah dosen Perikanan UMM, Dr Ir David Hermawan, pakar budidaya perikanan yang juga eks staff ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr Ir Maheno Sri Widodo, Divisi Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Rusdianto, dan ketua umum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Timur, Ir Sudarlin. Berbagai hal tentang perikanan dibahas dalam seminar dan diskusi nasional ini. Utamanya mengenai isu yang sedang ramai diperbincangkan, yakni larangan menggunakan cantrang dan rumpon sebagai alat tangkap ikan. Sementara, keduanya menjadi alat utama yang digunakan nelayan di pantai utara dan pantai selatan. David selaku pemateri pertama mengungkapkan cantrang dan rumpon tak menjadi penyebab kerusakan ekosistem seperti yang banyak digaungkan akhir-akhir ini. Cantrang dan rumpon sebatas menjadi shelter alias rumah singgah bagi ikan lintas samudera. Di hari kedua, Selasa (23/5), delegasi dari masing-masing kampus diajak untuk mengikutiworkshop. Ada tiga jenis workshop yang diadakan, yakni workshop aquascape atau seni menanam tanaman dalam air yang akan dipandu oleh komunitas aquascape Malang danworkshop budidaya kakap putih oleh Balai Perikanan Situbondo. Peserta juga terjun langsung membuat bionatural dan pembuatan tambak. Di helipad, sebanyak 35 stan yang terdiri dari mahasiswa dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memamerkan produknya, baik produk pengolahan ikan maupun teknologi terkait perikanan. Dalam hal ini, Himapikani bekerja sama dengan UMKM di kota dan kabupaten Malang. Sebelumnya, lomba esai diadakan sebagai rangkaian Expimnas 2017. Lomba esai dimulai sejak 1 Februari hingga 1 Mei. 3 pemenang dan 1 juara harapan akan diumumkan pada puncak kegiatan. Sekjen Himapikani yang juga mahasiswa UMM, Afan Arfandia mengungkapkan, mahasiswa perikanan mesti tahu dan peka akan isu-isu yang merebak di dunia perikanan. Ia berharap, Expimnas tak hanya jadi ajang kumpul-kumpul, tapi juga media diskusi dan transformasi ilmu. (ich/han)