Presiden Jokowi Dikukuhkan sebagai Keluarga Kehormatan UMM

KEHADIRAN Presiden RI Joko Widodo di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (3/6), dinilai Rektor UMM Fauzan sangat relevan dengan citra UMM sebagai kampus kebangsaan. Pada momen ini, Presiden Jokowi lantas dikukuhkan sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan “Jas Merah” almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Kehadiran Jokowi di yang bertepatan dengan Pekan Pancasila ini menjadi momentum bagi UMM untuk memperkuat tagline UMM yang sangat bernuasa kebangsaan, yaitu “Jas Merah Kampus Putih”. Terlebih, bagi Fauzan, kehadiran Presiden ini sangat kontekstual mengingat sebagaimana disebut Jokowi, Pekan Pancasila diupayakan untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, serta menarik minat anak muda terhadap Pancasila, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa dapat menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena salah satu sasarannya anak muda, maka penguatan Pancasila oleh Presiden bisa langsung dirasakan oleh kaum muda Muhammadiyah se-Jawa Timur serta mahasiswa UMM yang berlatar keragaman etnis, suku, bahkan agama. Ini penting, karena melalui anak muda, upaya memviralkan spirit Pancasila menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan,” kata Fauzan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang pada kesempatan ini menyampaikan hikmah Ramadhan mengatakan, salah satu bukti kiprah kebangsaan UMM adalah dengan menghibahkan dua tokohnya pada bangsa. “Pak Malik Fadjar dan Pak Muhadjir Effendy adalah dua tokoh yang dihibahkan UMM pada bangsa,” kata Haedar. Selain Jokowi dan Haedar, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fadjar, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. (can/han)
Kunjungi UMM, Jokowi Ajak Warga Muhammadiyah Perkuat Karakter Bangsa

PRESIDEN Republik Indonesia Joko Widodo mengajak warga persyarikatan Muhammadiyah dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengembalikan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa besar. Hal itu disampaikan Presiden saat menghadiri Kajian Ramadhan 1438 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di UMM Dome, Sabtu (3/6). Bagi Jokowi, hal-hal yang perlu ditingkatkan yaitu etos kerja, produktivitas, kedisiplinan, serta etika berbangsa dan bernegara. Namun, Jokowi mengakui bahwa Muhammadiyah memiliki semua elemen itu. “Semual hal itu ada di Muhammadiyah. Karena itu saya mengajak seluruh pengurus dan warga Muhammadiyah untuk berkonsentrasi kepada hal-hal yang positif,” kata Jokowi. Jokowi juga mengingatkan pentingnya semangat ukhuwah di tengah bangsa yang memiliki keragaman suku, agama, ras, dan golongan. “Mari kita gunakan momen ini untuk menguatkan lagi semangat kita, ukhuwah Islamiyyah kita, ukhuwah wathoniyyah kita, dan mengisi setiap ruang-ruang itu untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya. Kehadiran Jokowi di UMM yang bertepatan dengan Pekan Pancasila ini menjadi momentum bagi Muhammadiyah untuk memperkuat kiprah kebangsaan yang telah melampaui satu abad. Terlebih, jika dilihat dari sisi historis, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah bahu membahu, turut membangun fondasi bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan. Gelaran ini sekaligus mengukuhkan Presiden Jokowi sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan “Jas Merah” almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Pasca acara, Jokowi tak segan menyapa dan bersalaman dengan mahasiswa dan peserta Kajian Ramadhan sebelum kembali bertolak ke Jakarta. Bagi Fauzan, kehadiran Presiden di UMM ini sangat kontekstual dengan Pekan Pancasila yang dicanangkan pemerintah. Pekan Pancasila, sebagaimana disebut Jokowi, diupayakan untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, serta menarik minat anak muda terhadap Pancasila, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa dapat menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena salah satu sasarannya anak muda, maka penguatan Pancasila oleh Presiden bisa langsung dirasakan oleh kaum muda Muhammadiyah se-Jawa Timur serta mahasiswa UMM yang berlatar keragaman etnis, suku, bahkan agama. Ini penting, karena melalui anak muda, upaya memviralkan spirit Pancasila menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan,” kata Fauzan. Selain Jokowi, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. Bagi Muhammadiyah, spirit yang ditebarkan Jokowi sejalan dengan semangat filantropi yang dikembangkan Muhammadiyah berbasis teologi Al-Ma’un. Sebagai wujud filantropi itu, Muhammadiyah kini memiliki 24.953 lembaga pendidikan usia dini, dasar dan menengah, 176 perguruan tinggi, 2.119 lembaga kesehatan, 525 panti sosial, 11.198 rumah ibadah, serta tanah seluas 20.945.504 meter persegi. (can/han)
Buka Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur, Jokowi Beri Petuah Kebangsaan

MEMANFAATKAN momen Pekan Pancasila, Presiden RI Joko Widodo menghadiri Kajian Ramadhan 1438 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (3/6), di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memberikan petuah kebangsaan. Presiden mengisahkan, dulu Indonesia merupakan bangsa yang besar dan disegani bangsa lain. Bahkan kepeloporan Indonesia terletak di berbagai dimensi, utamanya di aspek pendidikan dan pembangunan. Namun, belakangan kecenderungannya, Indonesia lambat laun makin tertinggal di berbagai aspek karena terus-menerus mengurusi hal-hal yang terlampau menyita perhatian. Oleh sebab itu, Presiden Jokowi menilai perlunya mengembalikan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa besar. Yakni kembali pada etos kerja yang tinggi, kembali pada produktivitas yang tinggi, kembali pada kedisiplinan kita yang tinggi, kembali kepada etika berbangsa dan bernegara yang tinggi, serta kembali kepada etika bermasyarakat yang tinggi. “Semual hal itu ada di Muhammadiyah. Karena itu saya mengajak seluruh jajaran pengurus dan anggota untuk bersama-sama mengajak lingkungannya untuk kembali pada etika berbangsa dan bernegara dan etika bermasyarakat yang baik, sehingga kita bisa kembali konsentrasi kepada hal-hal yang positif,” kata Jokowi yang disambut riuh tepuk tangan peserta yang memadati Hall UMM Dome UMM. Bagi Jokowi, ada tiga hal penting yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Pertama, kesadaran tentang keberagamaan yang telah diberi ruang sebesar-besarnya oleh negara. “Oleh sebab itu, mari kita gunakan ruang yang besar ini untuk mengembalikan lagi semangat ukhuwah kita, ukhuwah Islamiah kita, ukhuwah wathoniyah kita, dan mengisi setiap ruang-ruang itu untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara kita,” ujarnya. Di bidang pendidikan, kita ingin membangun sumber daya manusia. Karena persaingan yang makin sengit antar negara. Oleh sebab itu, pendidikan harus dilandasi pada nilai-nilai agama, moralitas, etika, integritas, dan mentalitas yang baik. “Percuma anak-anak kita pandai tapi nilai-nilai itu tidak ada. Tidak ada artinya,” katanya. Tak kalah penting, yang ketiga, kata Jokowi, yakni memperteguh nilai-nilai persaudaraan. “Keberagaman di Indonesia merupakan takdir yang telah Allah berikan kepada kita. Anugerah ini yang senantiasa harus kita jaga,” ungkapnya. Gelaran tersebut sekaligus mengukuhkan Presiden Jokowi sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan jas almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Pasca acara, Jokowi tak segan menyapa mahasiswa dan peserta Kajian Ramadhan di lapangan parkir barat Masjid AR Fachrudin UMM sebelum kembali bertolak ke Jakarta. Selain Jokowi, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. (can/han)