BIPA UMM Dipercaya Kemenlu RI Didik Calon Diplomat Asing

SETELAH melalui proses seleksi dan visitasi, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia memercayakan unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai lembaga penyedia jasa pengajaran bahasa dan budaya Indonesia bagi 12 calon diplomat dari lima benua melalui program the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats. Pemilihan UMM sebagai penerima mandat dinilai kepala BIPA UMM Dr Arif Budi Wurianto MSi objektif. Hal tersebut lantaran ketersediaan sarana dan prasarana yang baik, juga kacakapan UMM dalam mengelola jejaring yang membuat UMM seringkali dipercaya menjadi tuan rumah dalam sejumlah event internasional. Terakhir, bulan lalu (8-11/5), UMM dipercaya mengelola International Gathering mahasiwa program Darmasiswa RI yang diikuti 540 mahasiswa asing dari 78 negara. Kegiatan yang merupakan program dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kemenlu RI ini direncanakan berlangsung pada bulan Juli hingga Agustus. Selama rentang waktu tersebut, para calon diplomat akan belajar bahasa Indonesia tingkat dasar dan budaya Indonesia. Adapun program budaya meliputi outing class yakni pengenalan alam dan budaya di Jawa Timur pada umumnya dan Malang pada khususnya. “Mereka akan belajar topeng Malangan, membatik, juga karawitan yang akan didukung oleh Lembaga Kebudayaan UMM. Saya kira ini tantangan berat bagi kita, karena hanya dalam satu bulan kita mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mereka,” terang Arif saat diwawancarai Selasa (6/6). Semenatara, visitasi yang dilakukan Pusdiklat Kemenlu RI pada 19 Mei lalu untuk mengkonfirmasi program yang ditawarkan. Selain itu secara objektif tim Kemenlu melakukan kunjungan ke fasilitas-fasilitas yang tersedia di UMM, yakni fasilitas pembelajaran, fasilitas sumber daya manusia, faktor pendukung yaitu dukungan dari universitas serta fasilitas-fasilitas yang memungkinkan mereka bisa belajar sesuai dengan standardisasi yang ditetapkan oleh Kementrian Luar Negeri. “Sebelumnya kegiatan ini terus difokuskan di Jakarta dan Jogja. Untuk pertama kalinya, setelah dua belas tahun, kegiatan diselenggarakan di Jawa Timur khususnya UMM,” terang Arif. Program ini memiliki nilai tambah bagi UMM, imbuh Arif, terutama pada akreditasi atau akuntabilitas masyarakat khususnya pemerintah. Capaian tersebut sekaligus melengkapi daftar program kerjasama BIPA dengan kementrian lain, di antaranya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan lewat program Darmasiswa, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia melalui Kerjasama Negara Berkembang (KNB), dan terakhir dari Kemenlu melalui program tersebut. “Dipilihnya UMM untuk menyelenggarakan tersebut sudah memberikan rapot yang baik bagi UMM sekaligus tantangan kita untuk memberikan pelayanan yang profesional dan terbaik bagi mereka,” tandasnya. (can/han)
UMM Dome Kini Dilengkapi ICU Mini Berstandar Fasilitas Kesehatan Utama Presiden

ICU mini yang terdapat di basement UMM Dome saat kunjungan Presiden RI, Joko Widodo di UMM LAZIMNYA, kunjungan Presiden Republik Indonesia (RI) ke daerah sekaligus diiringi berbagai standar perlengkapan dan fasitilitas kepresidenan, termasuk standar fasilitas kesehatan dan tim medis. Namun, lain halnya dengan lawatan Presiden Joko Widodo ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhir pekan lalu (3/6). Seusai Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) menilik kelengkapan fasilitas di Rumah Sakit (RS) UMM sehari sebelum kedatangan presiden (2/6), mereka pun memutuskan tak menerjunkan tim kesehatan lengkap seperti biasa. RS UMM pun lantas ditunjuk menjadi fasilitas kesehatan utama. “Setelah diperiksa oleh Paspampres, meninjau fasilitas dan kelengkapannya, lalu RS UMM ditunjuk jadi fasilitas kesehatan utama,” ujar wakil direktur RS UMM, dr Thontowi Djauhari NS MKes. Selain itu, merujuk pada surat edaran yang mengharuskan adanya ruang kesehatan dengan fasilitas lengkap, maka RS UMM pun menyiapkan sebuah ruangan di ujung basement dome dengan fasilitas setara ICU. “Kami menyebutnya ICU mini, karena fasilitasnya standar ICU, bukan sekedar IGD,” lanjut Thontowi. Peralatan standar ICU tersebut yakni adanya ventilator, alat hisap, peralatan akses vascular, peralatan monitor unvasif dan non-invasif, defibrillator atau alat pacu jantung, alat pengatur suhu, peralatan drain thorax, pompa infus dan syringe, lampu tindakan, tempat tidur khusus, serta peralatan portable untuk transportasi. ICU mini ini juga dilengkapi dengan seperangkat lembar observasi dan rekam medik. “Kami juga menyiapkan gelang bertuliskan nama Joko Widodo, andai tadi Pak Presiden ingin menilik ke sini,” ujar Thontowi. Meski dibangunnya ICU mini di basement UMM dDome diawali standar peraturan protokoler presiden, namun ternyata fasilitas ini dinilai baik untuk fasilitas kesehatan di area dome. “Jadi, kami putuskan ruangan dan fasilitas ini akan tetap di sini, tak dibongkar. Sehingga, ketika ada kegiatan mahasiswa atau kegiatan lain, fasilitas ini bisa tetap digunakan sebagai penunjang fasilitas kesehatan,” pungkas Thontowi. (ich)
Mendikbud: Tebarkan Spirit Al-Ma’un, UMM Jadi Gerakan Filantropi Muhammadiyah di Bidang Pendidikan
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyatakan, spirit Al-Ma’un merupakan dasar filantropi Muhammadiyah yang tak hanya sebatas urusan memberi makan pada orang yang kurang mampu. Filantropi Muhammadiyah berupaya mengentaskan manusia dari tiga jenis kemiskinan, yakni miskin harta, miskin mental, dan miskin ilmu. Menurut mantar Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan menjadi poin penting untuk mengentaskan kemiskinan manusia akan ilmu. “Dengan mengentaskan manusia yang miskin ilmu, otomatis ilmu akan mengentaskan mereka dari kemiskinan akan sistem. Nantinya, dengan terlepas dari kemiskinan ini, manusia akan mampu mencari makan dan harta. Jadi, mengentaskan kemiskinan akan ilmu itu adalah kunci dari mengentaskan kemiskinan yang lain. UMM menjadi salah satu cara berfilantropi ala Muhammadiyah dengan mengentaskan kemiskinan ilmu ini,” paparnya. Menambahkan hal itu, sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr Abdul Mu’ti MEd menyatakan, gerakan filantropi harus anti ribet. “Ribet yang saya maksud bukanlah susah atau merepotkan, melainkan akronim dari Reaktif, Individualis, Belas kasihan, dan Temporal” paparnya dalam diskusi panel Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tentang Filantropi sebagai Karakter Warga Muhammadiyah (4/6) di UMM Dome. Filantropi bermakna kedermawanan yang dikelola secara profesional untuk meningkatkan kesejahteraan orang banyak. Untuk itu, Mu’ti menegaskan filantropi tak boleh bersifat reaktif, yakni hanya bereaksi bila ada sesuatu yang terjadi, seperti bencana alam. Filantropi juga sebaiknya dilakukan bukan secara perorangan atau individualis, melainkan dikelola dengan baik oleh sebuah lembaga. “Contoh yang banyak di sekitar kita, perseorangan membagi-bagikan uang kepada orang banyak dengan cara berbaris. Ini yang dimaksud dengan nafsi-nafsi, individual dan sangat marak saat Ramadhan. Ini bisa menjadi sedekah yang karikatif, diperlihatkan kepada orang banyak dengan tujuan tertentu,” jelas Mu’ti. Selanjutnya, filantropi juga tak hanya dilaksanakan atas dasar belas kasihan dan temporal. Filantropi mesti dilandasi atas dasar keikhlasan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Dikatakan Mu’ti, puncak iman seseorang dapat dinilai salah satunya melalui kerelaannya untuk membagikan sesuatu yang masih dicintainya. Hal ini merujuk pada teologi Al-Ma’un yang menjadi dasar Muhammadiyah dalam melakukan banyak kegiatan sosial. “Muhammadiyah memahami surat Al-Ma’un sebagai dasar melakukan kegiatan sosial. Kedermawanan menjadi salah satu tolak ukur kualitas iman dan karakter orang yang bertakwa, yakni memberikan sebagian rezekinya pada orang lain,” urainya. (ich/han)
Ini Tiga Spirit Muhammadiyah Majukan Bangsa Menurut Haedar Nashir

KETUA umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi menekankan, bulan Ramadhan adalah media yang tepat untuk memupuk tiga karakter terpenting bagi keberagamaan Indonesia. Tiga kerakter tersebut yakni muroqobah, rif’ah, dan ukhuwah. Jiwa muroqobah ialah jiwa yang selalu mendekatkan diri pada Allah dan perasaan selalu diawasi oleh Allah. “Waspada untuk selalu melakukan kebaikan dan takut melakukan keburukan. Dengan memiliki karakter muroqobah, pemimpin-pemimpin bangsa tak akan melakukan kebaikan krena riya’ dan tidak melakukan keburukan ketika punya peluang,” urainya. Karakter kedua yakni rif’ah atau berjiwa mulia, luhur, dan utama. Mengutip hadis Nabi, Haedar mengungkapkan karakter rif’ah ini dapat terwujud dalam tiga hal, yakni menautkan kembali relasi dengan orang yang memutuskan, menghalalkan apa yang diharamkan orang pada diri kita, dan berbuat lembut hati pada orang yang berbuat bodoh. “Jika jiwa rif’ah dipraktikkan dalam kehidupan kebangsaan, meskipun ada dinamika, maka akan terbentuk masyarakat yang damai, bajik, dan selalu memupuk kebersamaan. Kalau ada yang menyulut sesuatu yg membuat kelompok kita terbakar, maka dengan jiwa rif’ah akan menjadi dewasa.” Karakter ketiga yakni ukhuwah, rasa persaudaraan yang selalu ingin berbagi untuk orang lain meski berbeda agama dan pilihan politik. Ukhuwah lahir dari semangat bahwa Allah menciptakan manusia dengan semangat untuk saling mengenal. “Pupuk dan rawat semangat hidup bersama dan mau berkorban,” tukasnya. Untuk itu, filantropi menjadi gerakan yang terus digiatkan Muhammadiyah. Usaha turut membangun bangsa melalui berbagai bidang dengan semangatukhuwah, turut berbagi dan menyejahterakan berbagai elemen masyarakat. Dalam konteks ini, Haedar menyebutkan UMM merupakan salah satu kampus kebanggan filantropi Muhammadiyah di Jawa Timur yang menjadi bagian penting dalam kiprahnya memajukan bangsa. “Dari kampus ini sudah lahir dua anak bangsa yang diwakafkan untuk berbagi mencerdaskan bangsa, yakni Pak Malik Fadjar dan Muhadjir Effendy,” ujarnya pada Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di UMM Dome (3/6). Sementara itu Ketua Umum PWM Jawa Timur Dr Saad Ibrahim MA dalam sambutannya mengatakan, semangat Muhammadiyah untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa termanifestasi dalam amal usaha di berbagai bidang. Di Jawa Timur, lanjutnya, amal usaha Muhammadiyah di antaranya 784 sekolah, 32 pondok pesantren, 6 universitas, dan 16 sekolah tinggi. (ich/han)