UMM Gelar Tes Camaba Gelombang II

RIBUAN calon mahasiswa baru memadati kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengikuti tes tulis dan wawancara jalur reguler gelombang II, Senin (17/7). Total peserta tes sebanyak 7.393 dari jumlah pendaftar online sebanyak 11.833. Secara keseluruhan, jika digabung dengan tes gelombang I, total jumlah pendaftar online yaitu 24.860 camaba. Ribuan mahasiswa tersebut berasal hampir merata dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Diperkirakan, total bakal calon mahasiswa yang mendaftar di tes reguler gelombang III bisa melampui 30 ribu pendaftar. Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat ditemui di kantornya menerangkan, kuota mahasiswa baru yang bakal diterima secara keseluruhan tidak berbeda dengan tahun sebelumnya yakni berkisar antara 7000 hingga 7500 orang. Untuk kuota penerimaan tes reguler gelombang II serta tes reguler gelombang lainnya, akan disesuaikan dengan passing grade masing-masing program studi (prodi) di tiap fakultasnya. Dilanjutkan Syamsul, prodi yang pasti tidak membuka pendaftaran lagi yakni Pendidikan Kedokteran. “Jumlah mahasiswa yang akan diterima nantinya disesuaikan dengan kemampuan sumber daya manusia dan infrastruktur UMM. Kalau dari segi infrastruktur, upaya peningkatan yang dilakukan di antaranya merampungkan kelengkapan interior GKB IV. Nantinya, gedung ini akan digunakan bagi mahasiswa pascasarjana,” terang Syamsul. September mendatang, gedung 9 lantai ini akan digunakan perkuliahan sebagaimana mestinya. Tes dikonsentrasikan di sejumlah gedung di Kampus III UMM. Gedung yang dipakai di antaranya untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Hall Dome UMM, Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kesehatan (FIKES) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Fakultas Psikologi di Basement Dome UMM , Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di lantai 1-4 di GKB 2, Fakultas Pertanian Peternakan di lantai 5-6 GKB 2, Fakultas Agama Islam (FAI) di Auditorium BAU, Fakultas Hukum (FH) di Masjid Lantai 3-4, serta Fakultas Teknik (FT) dikonsentrasikan di gedung baru yakni GKB IV lantai 4-9. Untuk mengantisipasi kecurangan, UMM turut mengerahkan keamanan tambahan. Sebanyak 25 personel Kepolisian Resor (Polres) Malang diterjunkan. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan tes berjalan sebagaimana mestinya. Rektor UMM Fauzan juga turut menyidak sejumlah sudut gedung di kampus III yang dijadikan tempat tes. Disampaikan Fauzan, berdasarkan pantauan langsungnya di lapangan, tidak ada indikasi atau laporan kecurangan yang dilakukan calon mahasiswa baru. “Prinsipnya kami komitmen pada peningkatan kualitas. Komitmen itu diawali dari proses penerimaan mahasiswa sampai proses jalannya pembelajaran. Kalaupun calon mahasiswa tidak memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan, ya mohon maaf. Jadi bukan karena siapa dan berapa, tapi mereka diterima di UMM murni karena prestasinya. Prestasi itu direpresentasikan dalam bentuk hasil tes ini,” tandas Fauzan saat ditemui di sela sidak. (can/han)

Menyelami Spiritualitas dalam Buku Karya Mahasiswa FK

BAGI pemahaman kebanyakan orang, spiritualitas semata hanya dimiliki oleh mereka yang beragama atau menganut keyakinan tertentu. Sesungguhnya tidak demikian. Spiritual lebih bersifat universal, artinya tidak terikat dengan agama tertentu. Kalaupun agama yang seseorang anut mencirikan nuansa spiritual, justru sangatlah baik dan lebih lengkap. Demikian dituturkan Ikhwan Marzuqi, mahasiswa semester lima program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dalam peluncuran dan bedah buku ketiganya berjudul “Spiritual Enlightenment: Kenali, Cintai dan Sayangi Pencerahan Spiritual,” di Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang, Ahad (16/7). “Bagi yang menganut agama, spiritual memiliki makna untuk memahami sebuah keikhlasan hati yang senantiasa mengabdi kepada Tuhan, atau kepada semesta bagi yang tidak memiliki agama. Pengabdian tersebut akan memberikan sebuah perasaan tersendiri untuk menyelami hakikat kehidupan, serta mengerti peran-peran kita sebagai khalifah-Nya di muka bumi,” ungkap mahasiswa asal Pamekasan, Jawa Timur ini. Dalam buku setebal 184 halaman ini Ikhwan, begitu Ia akrab dikenal, memuat 3 bab yakni Mengenali, Mencintai dan Menyayangi. Tiga bab ini, kata Ikhwan, sebenarnya berawal dari sebuah pepatah yang kemudian dirangkainya dalam bentuk buku untuk mencapai pencerahan spiritual. Pepatah itu yakni, “Tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak sayang”. “Untuk lebih memberikan kesan yang mendalam pada ranah spiritual, buku ini berisi tentang berbagai renungan, langkah-langkah, dan arahan untuk menerapkannya dalam semua bidang kehidupan,” terangnya. Dengan diterbitkannya buku “Spiritual Enlightenment”, total Ikhwan telah menelurkan 3 buah buku. Dua buku lainnya yang Ikhwan tulis sejak masih berstatus sebagai mahasiswa baru di antaranya Heart Journey dan Inner Peace. Namun begitu, kedua judul buku ini tidak sampai diterbitkan oleh penerbit mayor seperti buku ‘Spiritual Enlighment’ yang tengah dibedah ini. Diakuinya, kegemarannya menulis dimulai saat Ia mengikuti program wajib asrama selama sepekan yang diikuti seluruh mahasiswa baru UMM, yakni Program Pelatihan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK). Salah satu materi yang Ikhwan dapat adalah materi tentang kepenulisan. Ikhwan merasa termotivasi, dan dari sanalah dirinya mulai menseriusi dunia kepenulisan. Kegandrungannya mengikuti berbagai pelatihan motivasi spiritual mendorongnya untuk mengangkat tema-tema tulisan seputar spiritualitas. Sejak jenjang sekolah menengah atas, Ikhwan sudah getol mengikuti berbagai pelatihan motivasi spiritual. Bahkan Ia mengaku menuntaskan setiap jenjang pelatihan yang ada. Buku-buku seputar spiritualitas juga lahap dihabisinya. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengapresiasi Ikhwan saat turut memenuhi undangan peluncuran buku tersebut. Menurutnya, Ikhwan sangat luar biasa karena berani mengangkat tema yang biasanya ditulis manusia yang telah matang dalam menjalani kehidupannya. “Menulis tentang spiritualitas itu nggak gampang, lho! Kebanyakan buku itu memuat tentang apa yang ada di luar diri kita, sehingga lebih mudah memahaminya. Sementara berbicara tentang spiritualitas, adalah objek yang ada di dalam diri kita. Ketika seorang penulis memilih objek spiritualitas dalam karya tulisnya, maka sang penulis akan banyak menulis pengalamannya sendiri,” kata Syamsul. Orang yang tidak memiliki pengalaman spiritualitas, imbuh Syamsul, tidak mungkin bisa menuliskan bahasan seputar tema tersebut. Untuk dapat mendalami spiritualitas, seseorang setidaknya harus berada pada usia matang, yakni pada usia 40 tahun. Hal itu menurut Syamsul, sejalan dengan filosofi hidup bahwa hidup itu dimulai pada usia tersebut. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun pada April 2017 ini, Ikhwan menjelma sebagai sosok manusia dewasa sebelum waktunya. Ketertarikan Syamsul juga pada tema spiritualitas yang diangkat pada buku tersebut. Diakuinya, tema-tema demikian juga tengah Ia dalami. “Mudah-mudahan pertemuan yang mambahas tema-tema ini tidak berhenti sampai di sini. Saya harap ada forum tatap muka lanjutan untuk sharing ihwal spiritualitas,” tukasnya. Dalam waktu dekat, buku “Spiritual Enlightenment” ini juga rencananya akan kembali dibedah di UMM bersamaan dengan peluncuran buku terbaru Syamsul Arifin berjudul “KaRen: Sebuah Novel”. (can/han)

Tes Camaba Gelombang Dua, GKB IV Mulai Digunakan

TES penerimaan calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelombang dua yang berlangsung Senin (17/7) ditandai dengan mulai beroperasinya gedung baru UMM, yaitu Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV berlantai sepuluh. Sebelumnya, UMM telah memiliki GKB I, II, dan III yang masing-masing berlantai enam. Dengan total jumlah peserta tes tulis sebanyak 7386 camaba di gelombang ini, 1800 di antaranya akan menggunakan GKB IV. Sekalipun masing rampung 80 persen, namun kepala Biro Administrasi Umum (BAU) UMM Dr Ir Sunarto MT menyebutkan, GKB IV akan digunakan perdana mulai lantai 4 hingga lantai 8. Selain GKB IV, lokasi tes yang digunakan yaitu UMM Dome, GKB I, II, dan III, Aula Masjid, dan Aula Biro Administrasi Umum (BAU). Di antara ribuan pendaftar itu, 200 di antaranya merupakan pendaftar jalur bidik misi. GKB IV, menurut Sunarto, akan rampung 100 persen pada September 2017, yang terdiri dari 9 lantai utama dan 1 lantai basement. GKB IV akan mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar untuk perkuliahan tahun ajaran baru 2017/2018. “Tinggal penyempurnaan saja di beberapa bagian dan menambahkan perlengkapan di tiap kelas, tapi secara keseluruhan sudah siap digunakan,” ujar Sunarto. Rencananya, lantai satu hingga tiga gedung ini akan digunakan untuk kantor dan ruang perkuliahan pascasarjana, lantai empat hingga delapan akan digunakan sebagai ruang perkuliahan S-1 dan sebagian kecil pascasarjana, dan lantai dasar digunakan sebagai kafetaria dan area hotspot. Sedangkan lantai paling atas yakni lantai sembilan akan digunakan sebagai aula berkapasitas 1200 orang. “Aula bisa menampung 1200 orang, tapi bisa juga digunakan untuk kegiatan yang membutuhkan ruangan lebih kecil. Ada pintu yang bisa dioperasikan secara fleksibel, kalau butuh ruangan kecil pintu penyekat bisa ditutup, kalau butuh ruang besar bisa dibuka, jadi bisa terbagi menjadi empat ruangan kecil,” imbuh Sunarto. Sedikit berbeda dengan gedung kuliah sebelumnya yang dominan berwarna putih, GKB IV dikombinasikan dengan warna merah dan abu-abu. Pemilihan warna ini, kata Sunarto, sesuai dengan jiwa UMM, yakni jas merah. Sementara, untuk lahan parkir menuju GKB IV, mahasiswa maupun dosen bisa menempatkan kendaraannya di sebelah selatan jembatan baru. Selain itu, akan dibangun pula jembatan setapak untuk berjalan kaki dari parkiran tersebut menuju GKB IV. Tak hanya itu, di bagian timur GKB IV akan dilengkapi dengan jogging track di samping stadion UMM yang menghubungkan Rusunawa hingga gerbang GKB IV. Fasilitas ini akan memudahkan mahasiswa yang tinggal di Rusunawa atau indekos di belakang kampus saat akan menuju ke GKB II, III, maupun IV. (ich/han)