Tertarik Program Pengabdian Masyarakat UMM, 12 Dosen Amerika Kunjungi UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi satu-satunya kampus di Jawa Timur yang menjadi jujugan dosen-dosen dari 12 kampus di Amerika Serikat yang tergabung dalam ASIA Network Faculty Enhancement Program (ANFEP), Senin (24/7). Kegiatan yang bekerja sama dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM ini dihelat di Auditorium Fakultas Ekonomi UMM. Co-director ANFEP, Prof Siti Kusujiarti PhD menyatakan, dipilihnya UMM lantaran karakteristiknya yang unik, yakni kampus di bawah yayasan Muhammadiyah yang bernapaskan Islam, namun tetap mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. “Utamanya, yang sering kami dengar adalah pengabdian masyarakat yang banyak dilakukan UMM. Kami ingin belajar itu,” ungkapnya. Program ini, lanjut Siti, bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan informasi pada dosen-dosen yang berkecimpung di Asian Studies. Nantinya, hasil dari ‘keliling kampus’ ini akan diintegrasikan dalam kurikulum di kelas serta penelitian-penelitian sesuai dengan spesialisasi dosen. Selain UMM, ada empat kampus lainnya yang dikunjungi ANFEP selama tiga minggu di Indonesia, yakni UIN Yogyakarta, Universitas Janabadra Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Universitas Hindu Indonesia. Fokus tema yang ingin dipelajari di berbagai kampus yakni tentang masalah perubahan sosial, lingkungan, agama dan budaya. Di UMM, ke-12 dosen ini disuguhi presentasi tentang beberapa program penelitian, pengabdian masyarakat, dan pengembangan teknologi. Di antaranya, proyek UMM di bidang lingkungan yakni pembangunan PLTMH Sumber Maron di desa Karangsuko, kabupaten Malang. Dipaparkan kepala PLTMH UMM, Ir Suwignyo MT pada 2009, 1100 warga di sekitar Sumber Maron mengandalkan energi listrik dari PLN. Sejak dibangunnya PLTMH oleh UMM pada 2014, jumlah warga yang menggunakan listrik meningkat menjadi 1800. Presentasi juga dilakukan oleh kepala Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) UMM, Dra Thathit Manon Andini MHum terkait penelitian, seminar, dan talkshow yang kerap dilakukan LP3A tentang isu gender, perempuan, dan anak. Sementara, kepala unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) menguraikan tentang budaya lokal dan perbedaan agama di Malang. Perbincangan ini mengupas tentang harmoni kehidupan berbudaya di Malang dengan segala kekhasannya. Terakhir, presentasi dilakukan oleh dosen program studi Hubungan Internasional Tony Dian Efendy MA tentang komunitas Cina di Malang. Identitas yang majemuk mempengaruhi komunitas Cina di Malang. Ada lima macam identitas yang mempengaruhi komunitas Cina di Malang, yakni identitas sebagai WNI, identitas sebagai kelompok etnis, identitas berkaitan dengan agama, identitas berkaitan dengan daerah asal di Indonesia, dan identitas berkaitan dengan asal nenek moyang di Cina. Perbincangan ini membangkitkan antusiasme peserta lantaran beberapa dosen berasal dari etnis Cina, salah satunya Associate Professor of Asian Studies and Chinese Language Belmont University, Prof Qingjun Li PhD. Antusias profesor yang banyak melakukan penelitian tentang agama dan identitas ini tampak dari pertanyaan yang diajukannya. Ia juga menceritakan tentang Chinese immigrant di Amerika. Perihal kerjasama dengan ANFEP ke depan, Siti mengungkapkan UMM memiliki peluang yang besar. “Ini adalah awal dari kerjasama selanjutnya. Karena peserta berasal dari 12 kampus yang berbeda, jadi peluang untuk kerjasama antara UMM dengan masing-masing kampus tersebut bisa terjadi,” ujarnya. Dalam sambutannya, Wakil rRektor I Bidang Akademik UMM Prof Syamsul Arifin mengungkapkan, kerjasama internasional menjadi bidang yang selalu dikembangkan di UMM. Dengan Amerika Serikat, UMM telah bekerja sama di beberapa program di antaranya UMM pernah melatih 70 relawan dari organsisasi Peace Corps AS pada 2015 lalu. (ich/han)

UMM Berangkatkan 20 Pelajar SMA ke Tiongkok

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (24/07), memberangkatkan 20 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat ke Tiongkok untuk mengikuti Summer Camp. Mereka berkesempatan berangkat ke Negeri Tirai Bambu itu merupakan pemenang kompetisi National Chinese Competion, yakni lomba pengetahuan umum Tiongkok yang diadakan UMM bekerjasama dengan Confucius Institute. Ke-20 siswa SMA itu berhasil menyisihkan 2.369 peserta yang mengikuti lomba. Selama dua pekan, 24 Juli-6 Agustus 2017, selain mengenal lebih dekat kebudayaan dan bahasa Tiongkok, para pelajar itu bakal diajak mengunjungi sejumlah tempat ikonik di Tiongkok, termasuk di antaranya The Great Wall (Tembok Besar China) dan Tiananmen Square. Juga, peserta diajak mengunjungi pameran pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok. Salah satu peserta, George Geraldo, siswa SMK Kristen Imanuel Pontianak, Kalimantan Barat mengungkapkan kesyukurannya masuk dalam daftar pelajar yang diberangkatkan. “Sepulang dari Tiongkok, saya ingin juga memotivasi teman-teman saya untuk juga bisa berangkat ke Tiongkok,” ungkapnya.  Lomba yang diadakan Februari hingga April 2017 silam ini merupakan program kolaborasi UMM dan Konsulat Jenderal China melalui Confucius Institute. Kompetisi yang kali ketiga diselenggarakan di UMM ini merupakan bentuk kepercayaan Confusius Institute kepada UMM. Hal tersebut lantaran UMM yang telah begitu kooperatif di tiap program yang mengatasnamakan Confucius Institute. “Selain itu pada kompetisi serupa yang digelar Konsulat Jenderal China di Surabaya akhir tahun lalu, tiga mahasiswa UMM berhasil meraih juara pertama dan ketiga. Bahkan, UMM juga meraih juara untuk kategori perguruan tinggi dengan peserta lomba terbanyak, yakni 332 mahasiwa,” ungkap Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM Suparto dalam kesempatannya menghadiri Closing Ceremony National Chinese Competion 2017. Sementara koordinator China Corner UMM Karina Sari menerangkan, di akhir tahun 2017, 22 mahasiswa UMM juga akan diberangkatkan ke Tiongkok melalui program yang sama. Kesempatan itu mereka peroleh lewat keikutsertaannya dalam kursus gratis Bahasa Mandarin yang diselenggarakan di China Corner UMM. (can/han)

Pelantikan Pengurus Wilayah dan Pengurus Komisariat APTISI Wilayah VII Jawa Timur

MELANJUTKAN pengabdian sosial untuk memperjuangkan eksistensi perguruan tinggi swasta (PTS), Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah VII Jawa Timur menggelar acara Pelantikan Pengurus Wilayah, Pengurus Komesariat dan Halal Bihalal APTISI Wilayah VII Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin 24 Juli 2017. Hadir dalam acara tersebut, Rektor UMM, Ketua APTISI Pusat Budi Djatmiko, Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur, serta Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur Suko Wiyono  menyampaikan, dewasa ini keberadaan PTS tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri (PTN). Bahkan hampir diseluruh daerah, peningkatan kualitas dan mutu PTS terlihat jelas. Melalui kerjasama para Pengurus APTISI yang semakin baik Suko yakin secara bertahap PTS mampu bersaing dan menjadi lebih baik dari pada PTN. ”Menjadi tugas pengurus, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas PTS, terutama kualitas sumber daya manusianya,”tandasnya. Menambahkan Suko, Ketua APTISI Pusat Budi Djatmiko menyampaikan penting kiranya bagi komisariat-komesariat di APTISI Wilayah VII Jatim untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan bebagai cara, salah satunya dengan menyampaikan info-info PTS serta masalah global yang sedang dihadapi kepada pemimpin daerah, khususnya dalam dunia pendidikan. “Sehingga nanti jika ada info–info PTS di masa mendatang dan juga masalah –masalah global ada dapat disampaikan kepada rektor dan diteruskan kepada gubernur,”jelasnya. Suko mencontohkan, PTS-PTS yang ada di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan pengamatannya, melalui penilaian yang dilakukan pada setiap semester, hampir seluruh PTS di Jabar memiliki alokasi pemecahan masalah untuk diselesaikan bersama koordinator kopertis serta gubernur. Bukan hanya Jabar, beberapa daerah lain juga tengah melakukan hal yang sama. Suko pun bercita-cita agar PTS di Jatim juga memiliki semangat yang sama. “Alhamdulillah PTS di Jabar sudah berbenah. Kemarin-kemarin ini juga di Lampung. Mudah-mudahan hal ini juga bisa dicapai oleh APTISI Jawa Timur,”tegasnya. Melengkapi Suko, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur, Suprapto menekankan perlunya memperkuat kerjasama terutama dalam peningkatan kualitas mutu pendidikan. Selama ini, Kopertis Wilayah VII Jatim selalu menjadi nomor I secara nasional. Prestasi ini hendaknya terus dijaga dan diperthankan. “Ayo kita mantapkan kualitas pendidikan di Jatim agar selalu dan selalu bagus secara nasional, ”katanya. Bangga dengan prestasi yang dicapai perguruan tinggi di Jatim, Gus Ipul mengapresiasi terus meningkatnya jumlah lulusan PT yang diserap oleh pasar tenaga kerja. Jika pada sekitar tahun 2014 sekitar 14 persen lulsusan PT di Indonesia terserap didunia kerja, angka ini meningkat di tahun 2016 dengan total sekitar 40 persen. “Yang membanggakan sebetulnya, tahun 2016 lulusan PT se –Jatim, yang diserap pasar tenaga kerja mencapai 80 persen. Target kita ke depan, 99 persen lulusan PT bisa diserap pasar tenaga kerja,”tambahnya. Melanjutkan paparannya, Gus Ipul menegaskan bahka dengan jumlah total sekitar 550.000 mahasiswa, dunia perguruan tunggi perlu bersiap-siap dalam menyambut era digitalisasi. Pada era ini, masyarakat memerlukan generasi yang paham teknologi dengan baik. Pihak PT harus mengenalkan teknologi kepada mahasiswa agar para mahasiswa dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. “Saya titipkan kepada Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian masa depan Jawa Timur dengan menghadirkan PT yang berkualitas dan bermutu,”pesannya. Di akhir Gus Ipul menyampaikan posisi strategis APTISI sebagai wadah untuk PTS saling belajar dan bertukar fikiran dalam penalaran. Dengan terus memperbaiki kualitas, sesungguhnya antara PTS satu dengan yang lain tidak perlu berebut mahasiswa. Kualitas yang baik, akan membuat mahasiswa tertarik dengan sendirinya. Hal ini yang kemudian menjadi PR bersama, agar PTS mampu berimprovisasi dalam mengelola kampusnya. “Kalau PTS harus pandai pencak silat, artinya pandai dalam meningkatkan mutu, mencari uang dan lain-lain. Saya bangga dan senang, karena di era yang penuh kompetisi seperti ini hal tersebut bukanlah hal yang mudah,”pungkasnya. (sil/han)