Nazaruddin Malik: Umat Islam Tonggak Utama Penggerak Bangsa

DERETAN empat puluh lima bendera merah-putih yang mengapit bendera Muhammadiyah dan Aisyiah di balik Heliped Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), disebut Wakil Rektor II Dr. Nazarudin Malik, M.Si semata sebagai simbolisme peran strategis umat Islam dalam dinamika kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, simbol tersebut juga menunjukan filosofi mendalam bahwa umat Islam sesungguhnya adalah tonggak utama penggerak bangsa ini. “Sebagai tonggak utama penggerak bangsa ini, umat Islam tidak perlu dicurigai apalagi diragukan kesetiaanya kepada NKRI. Islamophobia adalah sesuatu yang mustahil terjadi di Indonesia,” tegas Nazarudin dalam kesempatan menjadi inspektur upacara pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia di Heliped UMM, Kamis (17/8). Tahun 1918, imbuhnya, berdirinya salah satu organisasi otonom kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan, adalah momentum penting dari lahirnya dasar gerakan perjuangan Islam, khususnya Muhammadiyah untuk membela bangsa ini. Dilanjutkan Nazarudin, Muhammadiyah juga berperan penting setelah proklamasi tahun 1945 dinyatakan. Adalah Prof. Dr. Mr. Raden Kasman Singodimedjo, tokoh Muhammadiyah yang mengusahakan diberlakukannya Jakarta Charter atau Piagam Jakarta yang merupakan “Gentlemen’s Agreement” dari bangsa ini terkait rumusan Pembukaan UUD 1945 ketika itu. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa Islam adalah bagian penting penegak proklamasi dan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan dalam perkembangan perjalanan sejarah, ketika mayoritas umat Islam secara ekonomi dan sosial mengalami proses marjinalisasi, umat Islam tidak pernah menuntut lebih. Tetapi selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara, tanpa meminta lebih. “Itulah etos dan jiwa perjuangan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam di dalam menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini,” ungkapnya. Oleh karenanya, tandas Nazarudin, nilai-nilai dasar dan ruh perjuangan yang diejawantahkan dalam praktik memberi lebih banyak, serta tidak pernah meminta lebih, adalah bagian penting dan harus terus dikedepankan di dalam mengkonsilidasi UMM menuju universitas yang lebih berkemajuan serta lebih menjunjung tinggi peradaban pendidikan. Sebagai penutup orasinya, Nazarudin menerangkan bahwa berbagai kegiatan yang diselenggarakan di UMM pada peringatan HUT ke-72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hendaknya dijadikan momentum mensyukuri nikmat atas kemerdekaan yang telah diraih. Ia berharap, bangsa Indonesia dapat terus melaju menjadi bangsa yang modern, yang beradab dan menjunjung tinggi keadilan serta kemanusiaan. Menariknya, dalam kesempatan peringatan HUT RI di UMM tahun ini dihadiri 12 calon diplomat dari lima benua melalui program the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats, yakni program Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia yang mendaulat unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM sebagai lembaga penyedia jasa pengajaran bahasa dan budaya Indonesia. (can)
Diplomat Asing Ikut Upacara Bendera di UMM

DUA belas diplomat asing dari lima benua mengikuti upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di Heliped Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (17/8). Keikutsertaan ke-12 calon diplomat tersebut lantaran tengah belajar bahasa dan budaya Indonesia melalui program the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia yang memercayakan unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM dalam penyelenggaraannya. Salah seorang diplomat asal Jepang, Shunya Asano menyatakan kegembiraannya usai mengikuti upacara bendera. Diplomat muda berusia 23 tahun ini mengaku upacara bendera di Indonesia menarik. Hal tersebut lantaran terdapat iringan lagu-lagu nasional yang dinyanyikan. “Bagus, ada lagu-lagu nasionalnya, Merah Putih-nya bagus. Ramai sekali, senang,” ujarnya dalam bahasa Indonesia beraksen Jepang yang kental. Diceritakan Shunya, upacara peringatan hari kemerdekaan di Indonesia berbeda dengan di Jepang. Di Jepang, ada banyak pejabat pemerintah yang hadir. Diplomat yang akan bekerja di Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia di Jakarta ini mengaku suasana di Malang lebih menyenangkan ketimbang di Ibukota. “Di sini lebih tenang, suasana alamnya menyenangkan, dan udaranya dingin,” kesannya. Setelah tiga minggu lamanya berada di Malang, Shunya dan sebelas diplomat lainnya telah mempelajari bahasa Indonesia untuk aktivitas sehari-hari. Mereka juga belajar kosakata yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai diplomat. Tak hanya materi di dalam kelas, mereka juga belajar tentang budaya di luar kelas seperti menari dan memainkan alat musik gamelan. Selain mengikuti upacara, para diplomat ini juga turut memeriahkan berbagai jenis lomba yang diadakan. Shunya menambahkan bahwa dirinya dan Natthakith Thaphanya, diplomat asal Laos, sempat mengikuti lomba mengayuh sepeda air di danau depan Gedung Kuliah Bersama I UMM, Rabu(16/8). Meski tak mendapat gelar juara apapun, semangat keduanya tetap tampak saat mengayuh sepeda air sekuat tenaga. “Aduh, berat sekali, tapi senang, senang sekali,” ujar Natthakith dengan muka merah dan berkeringat usai mengayuh. (ich/can)