E Awards Pamerkan Prestasi Siswa Sekolah Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH Education (ME) Awards merupakan ajang tahunan yang dilaksanakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Ajang ini diharapkan menjadi apresiasi akan prestasi dan karya siswa-siswa sekolah Muhammadiyah. ME Awards 2017 secara resmi dibuka oleh Ketua PWM Jawa Timur Dr M Saad Ibrahim MA, Sabtu (23/9) di UMM Dome. Pada kegiatan pembukaan juga diumumkan sekolah-sekolah pemenang dari tiga kategori yaitu Muhammadiyah Inspiring School, Muhammadiyah Excellent School, Muhammadiyah Outstanding School . Selain itu, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo dan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi juga berkesempatan untuk melakukan launching buku karya guru dan siswa dari dua sekolah tersebut. Pujian dan rasa bangga disampaikan ketua Disdakmen Jawa Timur Arbaiyah Yusuf MA. “Hal ini sangat membanggakan dan juga merupakan suatu penghargaan bagi Muhammadiyah karena secara aktif mendukung kegiatan literasi untuk membentuk generasi muda yang bewawasan luas,” kata Arbaiyah. Acara pembukaan dilanjutkan dengan Education Conference oleh Prof Dr Din Syamsuddin dan diikuti para guru berprestasi dari beberapa perguruan Muhammadiyah se-Jawa Bali. Din berbicara tentang penguatan pendidikan karakter bagi generasi muda sebagai tugas wajib bagi Muhammadiyah untuk meciptakan generasi milennial yang religius. Sementara itu, sebanyak 2200 peserta dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas memgikuti rangkaian olimpiade akademik dan non-akademik di antaranya Lomba Islam dan Kemuhammadiyaan (Ismu) Arab, Ismu Inggris, IPA, Matematika, Inovasi Media, Majalah, dan Robotika. (nis/han)
Bupati Bojonegoro Raih Gelar Doktor di UMM

INISIASI masyarakat lokal dapat menjadi inspirasi dan solusi bagi demokrasi dalam konteks nasional. Hal itulah yang coba diangkat oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto, saat promosi gelar Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang berlangsung di Auditorium UMM, Sabtu (23/9). Bagi Suyoto, satu di antara penyebab demokrasi menjadi belum efektif karena demokrasinya hanya bersifat prosedural sehingga hanya menghasilkan konflik. Karena itu, melalui riset disertasinya tentang Rukun Kematian di Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Suyoto ingin menekankan, bahwa nilai-nilai lokal di desa itu bisa menjadi buah demokrasi sekaligus inspirasi bagi bangsa. Disertasi berjudul “Konstruksi Pemaknaan Ritual Kematian sebagai Perwujudan Nilai-Nilai Kebajikan Sosial dalam Perspektif Bergerian” itu mengungkap tentang bagaimana masyarakat Desa Pajeng melakukan transformasi, dengan menafsir ulang tentang ritual kematian menjadi pemahaman baru, lalu melembagakannya dalam bentuk rukun kematian, sehingga melahirkan kemanfaatan sosial Melalui disertasinya, Suyoto menyebut bahwa masyarakat Desa Pajeng semula tergugah karena kematian seorang warga bisa menjadi beban bagi keluarganya, karena ada “kewajiban sosial” memenuhi serangkaian ritual kematian yang menguras dana. “Ritual itu dipandang warga desa sebagai aktivitas yang memiskinkan dan tidak produktif, yang miskin malah akan semakin miskin,” ujar Suyoto. Berdasar fakta itulah, kata Suyoto, warga desa menggagas pembentukan Rukun Kematian (RK) untuk memperbarui praktik ritual kematian, dengan memastikan agar warga yang miskin tidak semakin miskin. Selain itu, juga memastikan agar RK memiliki manfaat bagi kepentingan bersama. Setelah adanya RK ini, beban keluarga yang sanaknya meninggal tidak hanya berkurang, namun juga sangat terbantu. “Misalnya apabila ada orang yang meninggal, maka warga tidak ada yang bekerja di sawah, semua datang untuk membantu ritual kematian, seperti gali makam, bikin penduso. Tidak perlu ada yang memerintah, semua berjalan sendiri-sendiri, jadi yang bekerja semuanya guyub dan rukun semuanya,” tutur Suyoto. Bagi Suyoto, tafsir ulang ritual kematian di Desa Pajeng ini menjadi contoh dari dialog generatif yang terjadi melalui tiga tahap, yang dimulai dengan antem-anteman atau debat kusir akan suatu persoalan, lalu berlanjut pada forum kongkow, cangkrukan, dan jagongan secara informal. Dan terakhir, terjadi forum rembukan di mana masyarakat melahirkan konsensus baru. “Ini adalah buah demokrasi yang sangat berharga bagi bangsa ini,” kata Suyoto. Kelulusan Suyoto sebagai gelar doktor dipromotori oleh Prof Dr Hotman Siahaan, sementara co-promotor yaitu Prof Dr Ishomuddin MSi, Dr Wahyudi MSi dan Dr Rinekso Kartono MSi. Sebelum menempuh gelar doktor di UMM, Suyoto sebelumnya juga menamatkan program master di kampus ini, tepatnya di Program Master Sosiologi UMM pada 1996. Sementara dari sisi riwayat karir, sebelum menjadi Bupati Bojonegoro, Suyoto pernah menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik pada 2000-2004 dan dosen tetap Fakultas Agama Islam UMM pada 1990-2000. (rid/han)