UMM Pertahankan Akreditasi A

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempertahankan akreditasi institusi A. Hal itu berdasarkan surat keputusan (SK) dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) bernomor 3289/SK/BAN-PT/Akred/PT/IX/2017. Raihan itu disebut Rektor UMM Fauzan merupakan buah dari corporate culture yang dibangun UMM.

UMM Gelar Produk Riset, Pertemukan UMKM dengan Investor

SELAMA dua hari, 17-18 Oktober 2017, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Universitas Ma Chung dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) menggelar Seminar Nasional dan Gelar Produk (SenasPro) 2017. Digelar di UMM, kegiatan ini memuat festival inovasi, gelar produk dan seminar nasional dengan tema “Festival Kebangsaan: Inovasi-Hilirisasi Hasil Riset dan Pengabdian Masyarakat Menuju Indonesia Berkemajuan”. Dipilihnya Festival Kebangsaan sebagai tajuk utama SenasPro bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan salah satu langkah konkret semangat UMM untuk membangun bangsa. Rektor UMM, Fauzan, mengatakan bahwa semangat yang dibawa di festival ini merupakan semangat untuk mengangkat rasa nasionalisme kebangsaan. “Semangat yang kita bawa dalam festival ini adalah semangat untuk mengembalikan trah dan rasa nasionalisme di tengah krisis identitas yang sedang melanda bangsa Indonesia,” jelasnya. Suasana kebangsaan tercermin dari para peserta. Pada kegiatan tahunan yang diprakarsai Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DPPM) ini, ada 190 orang peneliti dari berbagai bidang keilmuan dari seluruh Indonesia. Puncaknya, pada sub acara tersebut, akan diselenggarakan parallel season bagi para peserta seminar. Kegiatan ini juga mengundang beberapa pembicara pakar di bidangnya, antara lain; Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si. (Dirjen Penguatan Inovasi-Kemenristek Dikti), Dr. Indra Wahidin (Wakil Ketua Perhimpunan INTI), Dr. Bayu Prawira, Hie (Executive Director Intellectual Bussiness Community), Jhon Hardi,ST., M.SM., CSM (Konseptor dan Pendiri Forum CSR Jawa Timur), Prof. Dr. Rahayu Hartini, SH, M.Si., M.Hum., (Guru Besar Hukum Bisnis UMM), Hero Wijayadi (Meme Florist Go Digital), Andy Djojo Budiman (Integrated Retail Application/ IREAP), Djoko Kurniawan (Bisnis Konsultan) dan Abraham Lembong (Investor Advisor). Festival kebangsaan juga membuka ruang antara Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) milik masyarakat maupun milik mahasiswa yang memiliki inovasi dengan pengusaha-pengusaha dalam gelar produk dan inovasi. Terkait sub acara yang akan diselenggarakan di Hall Dome UMM itu, ketua pelaksana Festival Kebangsaan, Ir. M. Irfan, MT, menyatakan hal ini merupakan kesempatan emas bagi kedua belah pihak. “Hal ini merupakan kesempatan emas bagi UMKM dan pengusaha yang terlibat. Bagi UMKM, mereka dapat memamerkan inovasinya, dan bagi para pengusaha, mereka dapat mencari tempat untuk berinvestasi,” terangnya. Kurang lebih ada 50 produk dari UMKM masyarakat maupun mahasiswa yang siap memamerkan inovasinya. (iel/han)  

Silaturrahim Kebangsaan, UMM Rajut Harmoni dengan Komunitas Tionghoa

SILATURRAHIM Kebangsaan yang digelar melalui kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Ma Chung, dan Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) pekan lalu (11/10) diharapkan dapat menghadirkan harmoni bangsa dalam kemajemukan. UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah diharapkan menjadi bagian dari proyek perdamaian tersebut. Rektor UMM Fauzan mengatakan, UMM berpedoman bahwa rasa nasionalisme akan terus digalakkan untuk ikut serta mengambil peran mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah, kegiatan Silaturrahim Kebangsaan ini bertujuan untuk mengerucutkan perbedaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. “Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi UMM untuk meningkatan rasa kesatuan atas nama persaudaraan sebangsa. Karena kita berada di lingkungan perguruan tinggi, perwujudan wawasan kebangsaan tidak hanya sebatas artificial,” tutur Fauzan pada sambutan pembukaan Silaturahmi Kebangsaan di Auditorium UMM. Dijelaskan Kunjaya, Rektor Universitas Ma Chung, Silaturahim Kebangsaan bertujuan untuk bersatu membangun kemajuan bangsa menghindari destruksi di tengah kemajemukan Indonesia. “Karena Indonesia dibentuk oleh perbedaan, maka kita bekerjasama untuk mengisi kekurangan masing-masing dari pebedaan itu sehingga tercipta kehidupan berbangsa yang harmonis,” jelasnya. Pada kegiatan Silaturahim Kebangsaan ini juga dibahas tentang rencana-rencana tindak lanjut. “Setiap merencanakan hal yang baik dan berdampak positif maka harus bersifat sustainable agar dampaknya bisa dirasakan oleh generasi-generasi selanjutnya,” ungkap Agus Endra, Koordinator INTI Malang. (nis/han)

UMM Kembangkan Ekonomi Hijau Kepulauan Sapeken

MELALUI program Ipteks bagi Wilayah-Corporate Social Responsibiliy (IbW-CSR) yang disponsori Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), tim dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan terhadap nelayan dan petani rumput laut di Kepulauan Sapeken, kecamatan paling timur dan terjauh di Kepulauan Madura. Kegiatan tersebut menggandeng Kangean Energy Indonesia (KEI Ltd), perusahaan minyak dan gas (migas) terbesar di Jawa Timur, yang beroperasi di kepulauan Sapeken dan Raas Sumenep. Sebagai upaya membina perguruan tinggi lokal, UMM juga menggandeng STKIP PGRI Sumenep. Dua pulau yang menjadi percontohan yaitu Pulau Pagerungan Kecil dan Pulau Sadulang Besar. Ketua tim IbW-CSR UMM, Drs Nurwidodo MKes menjelaskan, berdasarkan hasil observasi dan riset oleh tim Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM, tim dosen Biologi UMM, dengan difasilitasi Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas-KEI Ltd terungkap bahwa daerah tersebut menyimpan potensi bahari dan pesisir yang sangat besar. “Sayangnya, pihak-pihak yang seharusnya memiliki kebijakan pengembangan potensi, seperti pemerintah daerah, belum peka terhadap potensi tersebut. Masyarakat Kepulauan Sapeken semakin tertinggal karena minimnya perhatian,” kata Nurwidodo. “Mengingat adanya tren penangkapan hasil laut yang melewati batas wajar, penangkapan ikan dengan bahan kimia dan bom ikan, serta perusakan habitat ikan, maka pendampingan masyarakat untuk membudidayakan rumput laut sekaligus mengolah pasca panen merupakan wujud ekonomi hijau,” paparnya. Senada dengan itu, Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., pakar lingkungan hidup UMM yang juga anggota tim IbW-CSR UMM mengungkapkan bahwa selama ini di beberapa pulau masyarakat mulai membudidayakan rumput laut. Masyarakat yang biasanya menangkap ikan hiu, berburu penyu, dan menangkap ikan dengan potassium serta bom mulai mengubah kebiasaannya. “Kepedulian UMM sangat luar biasa. Masyarakat mulai merasakan imbas positif. Berbagai pelatihan dan penyadaran telah dilakukan. UMM juga memberikan alat pengolah rumput laut menjadi tepung dan alat pembuatan snack rumput laut, dengan biaya mencapai sembilan puluh juta rupiah,” ujar Bapak Hanip Suprapto, Manager Public Government Affair KEI. (*/han)

Silaturrahim Kebangsaan, UMM Rajut Harmoni dengan Komunitas Tionghoa

SILATURRAHIM Kebangsaan yang digelar melalui kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Ma Chung, dan Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) pekan lalu (11/10) diharapkan dapat menghadirkan harmoni bangsa dalam kemajemukan. UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah diharapkan menjadi bagian dari proyek perdamaian tersebut. Rektor UMM Fauzan mengatakan, UMM berpedoman bahwa rasa nasionalisme akan terus digalakkan untuk ikut serta mengambil peran mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah, kegiatan Silaturrahim Kebangsaan ini bertujuan untuk mengerucutkan perbedaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. “Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi UMM untuk meningkatan rasa kesatuan atas nama persaudaraan sebangsa. Karena kita berada di lingkungan perguruan tinggi, perwujudan wawasan kebangsaan tidak hanya sebatas artificial,” tutur Fauzan pada sambutan pembukaan Silaturahmi Kebangsaan di Auditorium UMM. Dijelaskan Kunjaya, Rektor Universitas Ma Chung, Silaturahim Kebangsaan bertujuan untuk bersatu membangun kemajuan bangsa menghindari destruksi di tengah kemajemukan Indonesia. “Karena Indonesia dibentuk oleh perbedaan, maka kita bekerjasama untuk mengisi kekurangan masing-masing dari pebedaan itu sehingga tercipta kehidupan berbangsa yang harmonis,” jelasnya. Pada kegiatan Silaturahim Kebangsaan ini juga dibahas tentang rencana-rencana tindak lanjut. “Setiap merencanakan hal yang baik dan berdampak positif maka harus bersifat sustainable agar dampaknya bisa dirasakan oleh generasi-generasi selanjutnya,” ungkap Agus Endra, Koordinator INTI Malang. (nis/han)

UMM Kembangkan Ekonomi Hijau Kepulauan Sapeken

MELALUI program Ipteks bagi Wilayah-Corporate Social Responsibiliy (IbW-CSR) yang disponsori Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), tim dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan terhadap nelayan dan petani rumput laut di Kepulauan Sapeken, kecamatan paling timur dan terjauh di Kepulauan Madura. Kegiatan tersebut menggandeng Kangean Energy Indonesia (KEI Ltd), perusahaan minyak dan gas (migas) terbesar di Jawa Timur, yang beroperasi di kepulauan Sapeken dan Raas Sumenep. Sebagai upaya membina perguruan tinggi lokal, UMM juga menggandeng STKIP PGRI Sumenep. Dua pulau yang menjadi percontohan yaitu Pulau Pagerungan Kecil dan Pulau Sadulang Besar. Ketua tim IbW-CSR UMM, Drs Nurwidodo MKes menjelaskan, berdasarkan hasil observasi dan riset oleh tim Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM, tim dosen Biologi UMM, dengan difasilitasi Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas-KEI Ltd terungkap bahwa daerah tersebut menyimpan potensi bahari dan pesisir yang sangat besar. “Sayangnya, pihak-pihak yang seharusnya memiliki kebijakan pengembangan potensi, seperti pemerintah daerah, belum peka terhadap potensi tersebut. Masyarakat Kepulauan Sapeken semakin tertinggal karena minimnya perhatian,” kata Nurwidodo. “Mengingat adanya tren penangkapan hasil laut yang melewati batas wajar, penangkapan ikan dengan bahan kimia dan bom ikan, serta perusakan habitat ikan, maka pendampingan masyarakat untuk membudidayakan rumput laut sekaligus mengolah pasca panen merupakan wujud ekonomi hijau,” paparnya. Senada dengan itu, Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., pakar lingkungan hidup UMM yang juga anggota tim IbW-CSR UMM mengungkapkan bahwa selama ini di beberapa pulau masyarakat mulai membudidayakan rumput laut. Masyarakat yang biasanya menangkap ikan hiu, berburu penyu, dan menangkap ikan dengan potassium serta bom mulai mengubah kebiasaannya. “Kepedulian UMM sangat luar biasa. Masyarakat mulai merasakan imbas positif. Berbagai pelatihan dan penyadaran telah dilakukan. UMM juga memberikan alat pengolah rumput laut menjadi tepung dan alat pembuatan snack rumput laut, dengan biaya mencapai sembilan puluh juta rupiah,” ujar Bapak Hanip Suprapto, Manager Public Government Affair KEI. (*/han)